KOMPAS.com - Makin banyak anak-anak dan remaja yang berhasil sembuh dari kanker, tetapi kemajuan ini belum merata di berbagai wilayah dan kelompok umur. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan investasi untuk meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) di bawah PBB, yang merilis data pembanding antar-negara mengenai perkiraan tingkat kelangsungan hidup lima tahun bagi penderita leukemia limfoid, jenis kanker yang menyerang darah dan sumsum tulang.
Melansir laman resmi United Nations, Rabu (23/9/2026) data yang mencakup 194 negara ini menjadi landasan bagi temuan laporan berjudul "Measuring Survival, Driving Change" yang terbit pada bulan Mei lalu. Laporan tersebut meneliti upaya global dalam mengatasi ketimpangan layanan serta memastikan lebih banyak anak dan remaja dapat sembuh dari kanker.
Baca juga: Penuaan Biologis yang Lebih Cepat Picu Kanker di Usia Muda
"Kanker pada anak merupakan salah satu indikator paling jelas dalam menilai kinerja sistem kesehatan suatu negara," ujar Dr. Roberta Ortiz, Pejabat Medis Kanker Anak di WHO.
Setiap tahunnya, sekitar 400.000 anak dan remaja berusia 19 tahun ke bawah di seluruh dunia terdiagnosis kanker. Meskipun sebagian besar jenis kanker anak memiliki tingkat kesembuhan yang sangat tinggi, peluang mereka untuk bertahan hidup sangat bergantung pada tempat mereka tinggal.
Di negara-negara berpenghasilan tinggi, angka kelangsungan hidup pasien kanker anak kini mencapai 80 hingga 90 persen. Sebaliknya, di negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah, angka kelangsungan hidupnya hanya berkisar 40 persen.
Laporan WHO tersebut menggambarkan jurang perbedaan ini sebagai salah satu ketimpangan kesehatan terbesar di era modern.
WHO mencatat bahwa wilayah Pasifik Barat dan Eropa telah mencapai tingkat kelangsungan hidup pasien kanker anak tertinggi.
Sebaliknya, wilayah Afrika dan sebagian Mediterania Timur masih menghadapi tantangan berat akibat ketimpangan dalam hal penanganan, mulai dari keterlambatan diagnosis, keterbatasan obat-obatan esensial, hingga minimnya akses ke perawatan berkualitas tinggi.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok remaja usia 15 hingga 19 tahun menghadapi jurang kelangsungan hidup yang lebih lebar dibandingkan anak-anak berusia 14 tahun ke bawah. Perbedaan ini terlihat paling mencolok di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Pada kelompok anak yang lebih muda, nilai tengah tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk leukemia limfoid mencapai 66,7 persen. Sementara itu, kelompok remaja yang lebih tua hanya memiliki peluang sembuh sekitar 39 persen dari penyakit tersebut.
Keterlambatan dalam mendiagnosis, terputusnya koordinasi antara penanganan anak dan dewasa, serta minimnya bukti ilmiah terkait perawatan kanker remaja menjadi beberapa hambatan utama dalam masalah ini.
Baca juga: Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Selain itu, remaja mengidap jenis kanker yang berbeda dari anak-anak, sehingga mereka membutuhkan pendekatan medis yang berbeda pula.
WHO menegaskan bahwa investasi strategis pada pembangunan fasilitas, pelatihan tenaga medis, serta pemerataan akses layanan kesehatan dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien secara drastis.
Lebih lanjut, ketersediaan data lengkap dalam laporan ini memungkinkan WHO dan pemerintah di berbagai negara untuk memantau komitmen bersama dalam meningkatkan angka kelangsungan hidup penderita kanker anak hingga minimal 60 persen pada akhir dekade ini.
Data ini menjadi pencapaian pertama di mana perkiraan tingkat kelangsungan hidup dihitung menggunakan metode standar yang sama di seluruh negara anggota WHO.
Hal ini menyediakan pijakan data yang seragam untuk memantau perkembangan, membandingkan kinerja antar-negara, serta menentukan wilayah mana yang paling membutuhkan bantuan investasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya