BrandzView
Konten ini merupakan Kerjasama Kompas.com dan SYNGENTA

Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan

Kompas.com, 28 September 2026, 09:58 WIB
Anissa Dea,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Lebih dari empat dekade berkecimpung di sawah tidak membuat Sardi berhenti mencari cara untuk meningkatkan hasil pertaniannya. Petani asal Bekasi, Jawa Barat, ini mengaku rutin mencari benih unggul untuk mendukung usaha taninya.

Meski begitu, sebagian praktik pertaniannya masih bertumpu pada teknologi yang telah dikenalnya sejak puluhan tahun lalu. Padahal, perkembangan teknologi pertanian sudah semakin pesat

“Kalau saya pribadi masih menggunakan teknologi yang sudah usang. Teknologi tahun 80-an,” ujar Sardi saat berbicara dalam gelar wicara “Sinergi Kebijakan, Riset, dan Inovasi untuk Mendukung Kedaulatan Pangan” pada acara Indonesia Petani MAJU Summit 2026 di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi petani justru semakin kompleks. Sardi harus berhadapan dengan hama dan penyakit tanaman, persoalan kualitas air, hingga tekanan terhadap lahan pertanian.

Baca juga: Dukung Swasembada Beras, Syngenta Dorong Modernisasi Budidaya Padi Lewat Buku Panduan dan Drone

Sardi merupakan satu di antara banyak petani Indonesia yang masih menghadapi masalah klasik di sektor pertanian. Padahal, riset dan teknologi terus berkembang. Namun, manfaatnya baru benar-benar terasa ketika inovasi tersebut digunakan petani dan membantu meningkatkan produktivitas serta pendapatan mereka.

Pemerintah sendiri sebenarnya memiliki target ambisius, yakni mencapai swasembada pangan. Untuk itu, Indonesia membutuhkan produksi pangan dalam jumlah besar.

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, produksi padi nasional pada Januari-Oktober 2026 mencapai 54,52 juta ton gabah kering giling (GKG), turun tipis 0,08 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Meski turun tipis, produksi beras nasional pada tahun ini diperkirakan mencapai 34,77 juta ton. Dengan kebutuhan mencapai 31,21 juta ton setahun, Indonesia diperkirakan surplus beras sekitar 3,56 juta ton.

Hanya saja, peningkatan produktivitas seharusnya turut dibarengi dengan kemajuan petani dalam mengolah lahan serta peningkatan pendapatan.

Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, Syngenta Pacu Kapabilitas Petani lewat Learning Centers

Data BPS per Agustus 2026 menyebutkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) naik 1,05 persen menjadi 129,19 dari Juli 2026. Ini berarti, harga yang diterima petani lebih tinggi dari harga yang bayar.

Meski demikian, NTP tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk mengukur kesejahteraan petani.

Data BPS menunjukkan, hampir separuh rumah tangga miskin di Indonesia pada 2024 memiliki sumber penghasilan utama dari lapangan usaha pertanian, yakni 49,09 persen. Pendapatan bersih petani yang bekerja sendiri di lapangan usaha pertanian juga tercatat hanya sekitar Rp 1,56 juta per bulan.

Gambaran lain terlihat dari Survei Ekonomi Pertanian (SEP) 2024. Sebanyak 46,3 persen usaha pertanian perorangan menilai pendapatan dari usaha pertanian mereka masih kurang atau sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari struktur pertanian Indonesia yang didominasi usaha berskala kecil. BPS mencatat, sekitar 60 persen petani pengguna lahan merupakan petani gurem, dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektare.

Bukan sekadar produktivitas meningkat

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Leonardo A.A. Teguh Sambodo mengatakan, peningkatan produktivitas pertanian perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Pasalnya, Indonesia memiliki karakter wilayah dan kondisi lahan yang beragam. Benih, pola budi daya, pengairan, hingga pemeliharaan tanaman pun perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah agar potensi produksinya dapat dioptimalkan.

Teguh menilai, penyesuaian tersebut tidak semata-mata untuk meningkatkan hasil panen, tetapi memastikan produktivitas tersebut mampu mendukung pendapatan petani.

“Pertanyaannya adalah bagaimana memastikan bahwa petani bisa sejahtera. Jadi, produksi dan konsumsi tidak bisa dipisahkan,” ujar Teguh yang juga hadir di gelar wicara Indonesia Petani MAJU Summit 2026.

Baca juga: Ini Upaya Syngenta untuk Mendukung Ketahanan Pangan Indonesia

Agar peningkatan produktivitas benar-benar bermuara pada kesejahteraan petani, lanjut teguh, ketersediaan input produksi, distribusi, harga yang diterima petani, pengelolaan pascapanen, hingga efisiensi penggunaan air dan pupuk juga perlu diperhatikan karena saling berkaitan.

Teguh pun mendorong kolaborasi antaraktor untuk mencapai tujuan tersebut. Pemerintah dapat menetapkan arah pembangunan, lembaga penelitian mengembangkan inovasi, sementara industri dapat membantu membawa teknologi agar lebih dekat dengan kebutuhan di lapangan.

Jawab kebutuhan petani

Head of Rice Genetic Design and Validation Unit International Rice Research Institute (IRRI) Prof Inez Slamet-Loedin mengatakan, riset dan inovasi menjadi salah satu jalan untuk mencapai produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus. Terlebih, ilmu pengetahuan kian berkembang.

Saat ini, lanjutnya, pengembangan varietas padi telah memanfaatkan berbagai pendekatan pemuliaan modern, mulai dari genomic selection, precision breeding, speed breeding, hingga genome editing.

Meski demikian, rekayasa dan perbaikan genetik semestinya turut melibatkan petani. Bagaimanapun, petanilah yang bakal menanam bibit tersebut. Apalagi, kondisi lahan pertanian tiap daerah berbeda-beda.

Sejumlah narasumber berdiskusi dalam gelar wicara bertajuk ?Sinergi Kebijakan, Riset, dan Inovasi untuk Mendukung Kedaulatan Pangan? pada acara Festival Padi Petani MAJU Summit 2026 yang digelar Syngenta Indonesia di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (22/9/2026).KOMPAS.com/Anissa Dea Widiarini Sejumlah narasumber berdiskusi dalam gelar wicara bertajuk ?Sinergi Kebijakan, Riset, dan Inovasi untuk Mendukung Kedaulatan Pangan? pada acara Festival Padi Petani MAJU Summit 2026 yang digelar Syngenta Indonesia di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (22/9/2026).

“Kita harus selalu mendengarkan feedback dari petani,” kata Inez.

Senada, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Puji Lestari menambahkan, riset pertanian juga perlu menjawab permasalahan yang kerap dihadapi petani, seperti kekeringan, salinitas, hingga banjir.

Pada saat bersamaan, petani juga dapat dilibatkan dalam proses evaluasi hingga pengembangan teknologi. Dengan demikian, inovasi tidak berhenti sebagai capaian penelitian, tetapi benar-benar menjawab kondisi yang ditemui petani saat bertani.

Beri nilai tambah bagi petani

Hal terpenting berikutnya adalah nilai tambah yang diberikan inovasi pertanian terhadap petani. Tanpa hal ini, kesejahteraan petani tidak akan terdongkrak.

International Business Manager Win-All Hi-Tech Seed Co, Ltd, Cherry Wang mengingatkan, teknologi yang berhasil secara teknis belum otomatis memberikan nilai bagi petani.

Pasalnya, petani akan memperhitungkan berbagai biaya yang dikeluarkan untuk mengaplikasikannya, mulai dari benih, perlindungan tanaman, hingga mekanisasi. Biaya tersebut akan dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh setelah panen.

Baca juga: Cukup Bawa KTP, Petani Kini Lebih Mudah Tebus Pupuk Subsidi

“Teknologi pertanian perlu diuji, disesuaikan dengan kondisi setempat, dipahami petani, hingga akhirnya layak diterapkan dalam kegiatan usaha tani,” jelas Cherry.

Petani, imbuhnya, pun tidak harus ditempatkan hanya sebagai pengguna di ujung proses tersebut. Dalam pengembangan teknologi, mereka dapat dilibatkan melalui demonstrasi varietas, pemberian umpan balik, serta penyempurnaan teknologi berdasarkan pengalaman di lapangan.

Dengan begitu, inovasi pertanian tidak hanya menawarkan hal baru, tetapi juga membantu petani mengelola risiko, meningkatkan hasil, serta memberi nilai ekonomi yang sepadan.

Tingkatkan SDM petani

Seperti telah disinggung, sebanyak 60 persen petani Indonesia tergolong petani gurem. Ditambah lagi, sebagian besar berpendidikan sekolah dasar ke bawah. Jumlahnya mencapai 60,72 persen.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah karena berpotensi menghambat akses petani terhadap informasi dan inovasi.

Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan Silvi Charlote Sumanti menilai, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting dari pengembangan pertanian.

Baca juga: Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis

Menurut Silvi, kemampuan petani dalam memahami dan menyerap teknologi perlu berkembang bersamaan dengan kemajuan inovasi.

Di sisi lain, diperlukan pula perubahan cara memandang profesi petani, Bukan lagi sekadar pelaku produksi, melainkan juga pengelola usaha yang harus mampu membaca risiko, mempertimbangkan biaya, memilih teknologi, hingga menentukan strategi untuk menjaga keberlanjutan usahanya.

“Petani masa depan itu seperti 'CEO', yakni petani yang adaptif terhadap teknologi dan memiliki jiwa kewirausahaan,” tutur Silvi.

Dengan perubahan cara pandang ini, generasi muda bakal tertarik untuk terjun ke sektor pertanian.

Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 yang dilakukan BPS, terdapat 6,18 juta petani berusia 19-39 tahun atau sekitar 21,93 persen dari total petani Indonesia saat pencacahan dilakukan.

Bawa inovasi lebih dekat

Kebutuhan untuk memastikan inovasi benar-benar dapat diterapkan di lapangan membuat transfer teknologi dan pendampingan menjadi bagian penting dalam transformasi pertanian.

Salah satu pendekatan tersebut dilakukan Syngenta Indonesia dengan menempatkan petani sebagai bagian dari pengembangan dan penerapan inovasi.

Presiden Direktur Syngenta Indonesia Eryanto mengatakan, pihaknya sejak awal menempatkan petani sebagai titik awal pengembangan inovasi.

“Kami percaya bahwa inovasi harus dimulai dari petani. Ketika kita memahami kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi, kita dapat bersama-sama mendorong riset, teknologi, dan inovasi yang lebih relevan dan dapat memberikan dampak nyata,” ujar Eryanto.

Upaya itu tidak hanya dilakukan saat mengembangkan teknologi pertanian. Syngenta Indonesia juga melakukan transfer pengetahuan dan pendampingan.

Hingga kini, perusahaan telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 700.000 petani serta membangun 24 titik pusat pelatihan yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi.

Pusat pelatihan menjadi ruang bagi petani untuk mempelajari teknologi dan pengetahuan pertanian serta memperpendek jarak antara inovasi dan pengguna akhirnya.

Untuk memudahkan pendampingan, Syngenta Indonesia menginisiasi Komunitas Petani MAJU 10 Ton yang telah berjalan sekitar satu dekade.

Baca juga: Program Perlindungan Petani, Upaya Syngenta dan BPJS Ketenagakerjaan Jaga Ketahanan Pangan Nasional

Eryanto mengatakan, komunitas tersebut menjadi wadah bagi petani untuk belajar dan saling menguatkan. Pendampingan petugas lapangan memungkinkan petani yang lebih dulu mengadopsi teknologi menjadi contoh bagi petani lain.

Sardi sendiri menjadi salah satu petani yang tumbuh bersama komunitas tersebut. Eryanto menceritakan, petani yang lebih dulu mengadopsi teknologi dapat menjadi contoh bagi kelompoknya. Dengan begitu, pengalaman dan manfaat dari teknologi baru dapat menyebar kepada petani lain.

Dengan pola tersebut, transfer teknologi tidak hanya berlangsung dari perusahaan kepada petani. Pengalaman antarpelaku usaha tani juga dapat menjadi bagian dari pembelajaran dan adopsi teknologi di tingkat komunitas.

Pendekatan tersebut dirangkum Syngenta Indonesia melalui empat pilar Petani MAJU, yakni Maximize Profitability untuk mendorong keuntungan petani, Accelerate Innovation untuk mempercepat inovasi, Joint Effort in Sustainability untuk memperkuat praktik berkelanjutan, serta United One Team yang menekankan kolaborasi lintas pihak.

Festival Padi Petani MAJU 2026

Semangat yang sama kemudian dibawa dalam Festival Padi Petani MAJU 2026 yang berlangsung selama tiga hari mulai Selasa (22/9/2026) hingga Kamis (24/9/2026).

Eryanto menjelaskan, hari pertama festival dimulai dengan penyelenggaraan Indonesia Petani MAJU Summit sebagai ruang dialog dan kolaborasi yang mempertemukan kebijakan, riset, inovasi, serta perspektif petani.

Pada hari kedua, rangkaian berlanjut di Pusat Riset dan Pengembangan Perlindungan Tanaman Syngenta di Cikampek, Jawa Barat. Di fasilitas tersebut, teknologi perlindungan tanaman menjalani pengujian sebelum diterapkan di tingkat petani.

Baca juga: Upaya Syngenta Memajukan Petani RI, Edukasi Teknologi Dilakukan Melalui Lomba hingga Jambore

Adapun puncak festival berlangsung pada Kamis yang bertepatan dengan Hari Tani Nasional di pusat pelatihan Syngenta Indonesia di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Perayaan tersebut juga digelar secara serentak bersama petani di 12 titik yang tersebar dari Sumatra hingga Sulawesi.

Teguh pun mengapresiasi peran Syngenta Indonesia sebagai salah pihak swasta yang telah membantu sektor pertanian Indonesia.

Menurutnya, Syngenta Indonesia telah mengambil peran mulai dari riset terapan, penyediaan benih, praktik budi daya, hingga teknologi untuk menangani persoalan tanaman.

“Syngenta ini sebenarnya menjadi salah satu jembatan antara visi pemerintah yang sudah dituangkan dalam perencanaan pembangunan itu bisa kemudian terwujud di lapangan,” ujar Teguh kepada awak media.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Terkini Lainnya
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
BrandzView
Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan
Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan
BrandzView
Indonesia Hubungkan Proyek Energi Surya dengan Investor Global di Climate Week NYC
Indonesia Hubungkan Proyek Energi Surya dengan Investor Global di Climate Week NYC
Swasta
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau