KOMPAS.com - Kecerdasan buatan (AI) kini makin banyak digunakan oleh perusahaan manufaktur untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.
Pada acara Climate Week NYC 2026, para ahli industri menjelaskan bagaimana teknologi seperti sistem manajemen berbasis AI, digital twin (replika digital), dan pemilahan sampah otomatis dapat mendukung keberlanjutan operasional pabrik.
Dalam sesi diskusi bertajuk "Future Factories: How efficiency, electrification and AI will remake modern manufacturing", para pembicara membahas cara produsen memanfaatkan teknologi untuk menekan penggunaan energi, mengelola sumber daya secara lebih efektif, serta menghadapi risiko krisis iklim.
Melansir Know ESG, Kamis (24/9/2026) Hannah Hislop, Kepala Keberlanjutan Iklim di Unilever, menyampaikan bahwa perusahaan yang mampu meningkatkan efisiensi, beralih ke listrik, menggunakan energi terbarukan, serta mengembangkan produk rendah emisi akan memiliki posisi yang lebih kuat dan siap di tengah meningkatnya tekanan krisis iklim.
Baca juga: Aturan Pembelian Hambat Perusahaan Capai Target Energi Bersih
Bagi perusahaan manufaktur, penggunaan AI memberikan cara baru untuk mendeteksi pemborosan tanpa perlu merombak atau mengubah fasilitas pabrik yang sudah ada secara besar-besaran.
Sebagai contoh, Unilever menggunakan digital twin berbasis AI yang membuat simulasi visual dari lokasi pabrik fisik mereka. Perusahaan berencana membangun lebih dari 40 replika digital di seluruh jaringan pabrik globalnya dalam 18 bulan ke depan.
Model virtual ini memungkinkan pabrik menguji berbagai kondisi operasional terlebih dahulu sebelum menerapkan perubahannya pada peralatan fisik. Di pabrik detergen bubuk milik Unilever di Haldia, India, replika digital ini digunakan untuk mengatur kecepatan kipas, suhu, dan kelembapan secara optimal.
Penerapan teknologi seperti ini membantu perusahaan menekan emisi gas rumah kaca dan mengurangi limbah, sekaligus menjaga kualitas produk tetap terjaga. Selain itu, pabrik juga dapat merespons perubahan jumlah permintaan pasar dengan lebih cepat.
Teknologi AI juga dapat mendukung efisiensi energi tanpa mengharuskan perusahaan mengganti seluruh mesin lama mereka dengan yang baru.
Trane Technologies, perusahaan yang mengoperasikan sistem pendingin, pemanas, dan kualitas udara, memanfaatkan sistem kendali gedung berbasis AI untuk mengotomatiskan operasional pendingin atau pemanas ruangan (HVAC) serta memprediksi kebutuhan energi. Akuisisi terhadap BrainBox AI semakin memperkuat kemampuan teknologi tersebut.
Pendekatan ini memungkinkan produsen untuk menambahkan sistem kendali cerdas pada fasilitas pabrik yang sudah ada. Selain itu, AI dapat membantu mendeteksi potensi kerusakan mesin sebelum terjadi kegagalan operasional, sehingga meningkatkan daya tahan alat dan mencegah pemborosan energi yang tidak perlu.
Potensi AI tidak hanya terbatas pada penghematan energi pabrik. Para ahli dalam diskusi tersebut juga menyoroti peran AI dalam membangun ekonomi sirkular, sebuah sistem di mana bahan baku dipulihkan, digunakan kembali, dan dipertahankan agar dapat terus berputar lebih lama.
Baca juga: Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Analisis prediktif berbasis AI dapat membantu perusahaan memahami kinerja model bisnis sirkular serta menemukan area yang perlu ditingkatkan. Selain itu, sistem bertenaga AI mampu mengotomatiskan pemilahan sampah dengan mengenali berbagai jenis bahan seperti plastik, kertas, dan logam.
Sebagai contoh, model sumber terbuka CircularNet milik Google dirancang untuk mengidentifikasi berbagai material dan meningkatkan akurasi pemilahan.
Menurut Ellen MacArthur Foundation, beberapa model AI bahkan mampu meningkatkan efisiensi pemilahan secara signifikan, sehingga mendukung proses daur ulang serta pengambilan kembali mineral penting dari limbah yang dibuang.
Di tengah tekanan rantai pasok dan meningkatnya permintaan akan mineral penting, mengambil kembali bahan berharga dari limbah dapat menjadi bagian yang kian krusial dalam manufaktur berkelanjutan.
Diskusi pada Climate Week NYC 2026 menunjukkan bahwa peran AI di pabrik jauh melampaui sekadar otomatisasi biasa.
Dengan mengintegrasikan digital twin, sistem kendali cerdas, dan pemilahan sampah berbasis AI, produsen dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi sumber daya sekaligus menciptakan operasional yang lebih tangguh dan ramah lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya