KOMPAS.com - Hasil survei terbaru firma konsultan manajemen global Bain & Company menunjukkan bahwa 85 persen konsumen kini peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Angka ini meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir dan terus tumbuh di negara maju maupun negara berkembang, salah satunya Indonesia yang dipicu oleh pengalaman langsung masyarakat menghadapi cuaca ekstrem.
Melansir ESG Today, Rabu (23/9/2026) survei ini juga menemukan peningkatan tajam pada kebiasaan ramah lingkungan yang dilakukan konsumen selama tiga tahun terakhir.
Selain itu, makin banyak orang yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menemukan produk ramah lingkungan serta memandu keputusan belanja mereka.
Laporan bertajuk "The Visionary CEO’s Guide to Sustainability 2026" ini disusun berdasarkan survei Bain terhadap 7.500 konsumen di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Italia, Brasil, dan Indonesia.
Hasil survei menunjukkan bahwa 85 persen responden mengaku peduli pada kelestarian lingkungan pada tahun 2026. Angka ini naik dari 79 persen pada survei tahun 2025, setelah sempat menurun selama dua tahun sebelumnya.
Baca juga: Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Selain itu, 65 persen responden menyatakan rasa khawatir mereka terhadap isu lingkungan makin menguat dalam dua tahun terakhir.
Peningkatan kepedulian ini terjadi merata di semua negara. Di AS naik menjadi 77 persen, Inggris 74 persen, dan Italia 85 persen jika dibandingkan tahun lalu yang masing-masing sebesar 69 persen, 67 persen, dan 81 persen.
Tingkat kepedulian jauh lebih tinggi di negara-negara berkembang yang merasakan dampak langsung cuaca ekstrem secara lebih nyata, yaitu mencapai 90 persen di Brasil dan 99 persen di Indonesia. Berdasarkan kelompok usia, 77 persen generasi Boomers merasa khawatir, sementara pada generasi Gen Z angkanya mencapai 92 persen.
Pengalaman menghadapi cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia menjadi alasan paling utama yang membuat masyarakat khawatir, baik di negara maju (53 persen) maupun di negara berkembang (61 persen).
Faktor pemicu berikutnya adalah fenomena cuaca ekstrem di negara sendiri (32 persen di negara maju dan 47 persen di negara berkembang) serta kerusakan lingkungan di negara sendiri masing-masing 26 persen dan 49 persen.
Seiring meningkatnya rasa khawatir, survei ini juga menemukan lonjakan nyata pada kebiasaan hidup ramah lingkungan di masyarakat. Sebanyak 83 persen responden mengaku sudah menerapkan tiga atau lebih kebiasaan ramah lingkungan, naik dari 73 persen pada tahun 2023).
Selain itu, 81 persen responden percaya bahwa aksi nyata yang mereka lakukan membawa dampak positif bagi kelestarian lingkungan.
Menariknya, tren ini juga terjadi di kelompok konsumen yang mengaku tidak peduli pada isu lingkungan. Hampir 50 persen dari kelompok yang kurang peduli ini ternyata sudah menjalankan tiga atau lebih kebiasaan ramah lingkungan dalam keseharian mereka, naik dari 35 persen pada tahun 2023.
Peningkatan kebiasaan ramah lingkungan ini terjadi di hampir semua bidang kehidupan.
Perubahan perilaku yang paling dominan adalah menghemat energi di rumah menjadi 59 persen pada 2026, dari 49 persen tahun lalu, mendaur ulang sampah (56 persen, naik dari 46 persen tahun lalu), serta membawa botol minum dan alat makan sendiri (46 persen, naik dari 41 persen tahun lalu).
Selain menerapkan gaya hidup hijau, survei ini juga menemukan bahwa konsumen bersedia membayar hingga 18 persen lebih mahal untuk produk yang membawa manfaat kelestarian lingkungan.
Baca juga: Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa definisi keberlanjutan bagi konsumen kini tidak lagi sebatas ramah lingkungan, tetapi juga mencakup faktor kesehatan dan daya tahan tubuh.
Gabungan dari berbagai faktor ini terbukti menjadi daya tarik yang sangat kuat. Konsumen bahkan rela membayar hingga 24 persen lebih mahal untuk produk yang menawarkan manfaat kesehatan sekaligus kelestarian lingkungan secara bersamaan.
Lebih lanjut, meskipun survei mencatat masih banyak konsumen yang kesulitan menilai tingkat kehati-hatian lingkungan suatu produk, seperti 68 persen responden yang gagal membedakan mana produk dengan jejak karbon lebih rendah, teknologi AI hadir sebagai penentu arah baru.
Walaupun label dan sertifikasi masih menjadi acuan utama saat berbelanja di toko, hampir separuh pengguna AI mengaku telah memanfaatkan teknologi ini dalam 12 bulan terakhir untuk membantu mereka hidup lebih ramah lingkungan.
Sebanyak 38 persen konsumen menggunakan AI untuk meminta rekomendasi produk ramah lingkungan, naik dari 32 persen tahun lalu, dan 36 persen menggunakannya untuk mengecek transparansi serta etika perusahaan, naik dari 30 persen tahun lalu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya