Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun

Kompas.com, 28 September 2026, 19:59 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Hasil survei terbaru firma konsultan manajemen global Bain & Company menunjukkan bahwa 85 persen konsumen kini peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Angka ini meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir dan terus tumbuh di negara maju maupun negara berkembang, salah satunya Indonesia yang dipicu oleh pengalaman langsung masyarakat menghadapi cuaca ekstrem.

Melansir ESG Today, Rabu (23/9/2026) survei ini juga menemukan peningkatan tajam pada kebiasaan ramah lingkungan yang dilakukan konsumen selama tiga tahun terakhir.

Selain itu, makin banyak orang yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menemukan produk ramah lingkungan serta memandu keputusan belanja mereka.

Laporan bertajuk "The Visionary CEO’s Guide to Sustainability 2026" ini disusun berdasarkan survei Bain terhadap 7.500 konsumen di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Italia, Brasil, dan Indonesia.

Hasil survei menunjukkan bahwa 85 persen responden mengaku peduli pada kelestarian lingkungan pada tahun 2026. Angka ini naik dari 79 persen pada survei tahun 2025, setelah sempat menurun selama dua tahun sebelumnya.

Baca juga: Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan

Selain itu, 65 persen responden menyatakan rasa khawatir mereka terhadap isu lingkungan makin menguat dalam dua tahun terakhir.

Peningkatan kepedulian merata

Peningkatan kepedulian ini terjadi merata di semua negara. Di AS naik menjadi 77 persen, Inggris 74 persen, dan Italia 85 persen jika dibandingkan tahun lalu yang masing-masing sebesar 69 persen, 67 persen, dan 81 persen.

Tingkat kepedulian jauh lebih tinggi di negara-negara berkembang yang merasakan dampak langsung cuaca ekstrem secara lebih nyata, yaitu mencapai 90 persen di Brasil dan 99 persen di Indonesia. Berdasarkan kelompok usia, 77 persen generasi Boomers merasa khawatir, sementara pada generasi Gen Z angkanya mencapai 92 persen.

Pengalaman menghadapi cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia menjadi alasan paling utama yang membuat masyarakat khawatir, baik di negara maju (53 persen) maupun di negara berkembang (61 persen).

Faktor pemicu berikutnya adalah fenomena cuaca ekstrem di negara sendiri (32 persen di negara maju dan 47 persen di negara berkembang) serta kerusakan lingkungan di negara sendiri masing-masing 26 persen dan 49 persen.

Kebiasaan hidup ramah lingkungan

Seiring meningkatnya rasa khawatir, survei ini juga menemukan lonjakan nyata pada kebiasaan hidup ramah lingkungan di masyarakat. Sebanyak 83 persen responden mengaku sudah menerapkan tiga atau lebih kebiasaan ramah lingkungan, naik dari 73 persen pada tahun 2023).

Selain itu, 81 persen responden percaya bahwa aksi nyata yang mereka lakukan membawa dampak positif bagi kelestarian lingkungan.

Menariknya, tren ini juga terjadi di kelompok konsumen yang mengaku tidak peduli pada isu lingkungan. Hampir 50 persen dari kelompok yang kurang peduli ini ternyata sudah menjalankan tiga atau lebih kebiasaan ramah lingkungan dalam keseharian mereka, naik dari 35 persen pada tahun 2023.

Peningkatan kebiasaan ramah lingkungan ini terjadi di hampir semua bidang kehidupan.

Perubahan perilaku yang paling dominan adalah menghemat energi di rumah menjadi 59 persen pada 2026, dari 49 persen tahun lalu, mendaur ulang sampah (56 persen, naik dari 46 persen tahun lalu), serta membawa botol minum dan alat makan sendiri (46 persen, naik dari 41 persen tahun lalu).

Bersedia bayar lebih mahal

Selain menerapkan gaya hidup hijau, survei ini juga menemukan bahwa konsumen bersedia membayar hingga 18 persen lebih mahal untuk produk yang membawa manfaat kelestarian lingkungan.

Baca juga: Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa definisi keberlanjutan bagi konsumen kini tidak lagi sebatas ramah lingkungan, tetapi juga mencakup faktor kesehatan dan daya tahan tubuh.

Gabungan dari berbagai faktor ini terbukti menjadi daya tarik yang sangat kuat. Konsumen bahkan rela membayar hingga 24 persen lebih mahal untuk produk yang menawarkan manfaat kesehatan sekaligus kelestarian lingkungan secara bersamaan.

Lebih lanjut, meskipun survei mencatat masih banyak konsumen yang kesulitan menilai tingkat kehati-hatian lingkungan suatu produk, seperti 68 persen responden yang gagal membedakan mana produk dengan jejak karbon lebih rendah, teknologi AI hadir sebagai penentu arah baru.

Walaupun label dan sertifikasi masih menjadi acuan utama saat berbelanja di toko, hampir separuh pengguna AI mengaku telah memanfaatkan teknologi ini dalam 12 bulan terakhir untuk membantu mereka hidup lebih ramah lingkungan.

Sebanyak 38 persen konsumen menggunakan AI untuk meminta rekomendasi produk ramah lingkungan, naik dari 32 persen tahun lalu, dan 36 persen menggunakannya untuk mengecek transparansi serta etika perusahaan, naik dari 30 persen tahun lalu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aturan EPR Direvisi, Industri Minta Mekanisme dan Pengawasan Diperjelas
Aturan EPR Direvisi, Industri Minta Mekanisme dan Pengawasan Diperjelas
Swasta
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Infrastruktur dan Kesiapan Operator Jadi Kunci Adopsi Kendaraan Komersial Listrik
Swasta
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Habitat Terbakar, IUCN Peringatkan Risiko Kepunahan Orang Utan
Pemerintah
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
Melihat Kera Berkelompok dan Menyatu dengan Alam di Kemenuh Monkey River Bali
LSM/Figur
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Di Mining Expo 2026, PT Indotruck Utama Soroti Kesiapan Ekosistem Elektrifikasi Tambang
Swasta
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Kepedulian Lingkungan Konsumen Indonesia Kembali Meningkat Setelah 3 Tahun
Pemerintah
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Perdagangan Karbon Sektor Pertanian, Indonesia Belum Punya Metodologi Hitung Biochar
Pemerintah
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
Menyimpan Makanan Sisa di Kulkas Tetap Sebabkan Kerusakan Mutu Gizi
LSM/Figur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
Pemerintah
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Cegah Kematian Usia Muda, PBB Dorong Investasi Penanganan Kanker
Pemerintah
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Bukan Sekadar Genjot Produksi, Perlu 3 Langkah Strategis Perkuat Sistem Pangan Nasional
Pemerintah
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Wamen LH Minta Pemda Susun Roadmap 100 Persen Sampah Terkelola
Pemerintah
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Merancang Transisi Mulus Pasokan Listrik Hijau
Swasta
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
Upaya Restorasi dan Konservasi EIGER Nature Dapat Apresiasi WWF-Indonesia dan WWF Global
BrandzView
Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan
Dari Laboratorium ke Sawah, Upaya Menempatkan Petani di Pusat Transformasi Pangan
BrandzView
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau