KOMPAS.com - Google mengumumkan telah menandatangani kesepakatan baru dengan perusahaan perintis Mitti Labs untuk membeli 1 juta kredit karbon superpolutan selama empat tahun ke depan.
Melansir ESG Today, Kamis (10/9/2026) kredit ini berasal dari proyek yang membantu lebih dari 70.000 petani kecil di India beralih ke metode pertanian yang mengurangi emisi gas metana dari sawah.
Menurut IPCC, superpolutan yang mencakup gas seperti metana dari sektor pertanian dan sampah menyumbang hampir separuh dari pemanasan global hingga saat ini.
Mengeliminasi gas-gas ini menjadi salah satu cara paling ampuh untuk menangani perubahan iklim dalam jangka pendek.
Meskipun sebagian besar superpolutan bertahan di atmosfer dalam waktu yang lebih singkat daripada CO2, gas-gas ini mampu memerangkap panas puluhan hingga ribuan kali lebih kuat.
Baca juga: Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Strategi Google dalam mengurangi gas rumah kaca sendiri memang mencakup fokus pada superpolutan.
Perusahaan ini baru saja mengumumkan komitmen untuk menyalurkan setidaknya 50 juta dolar AS hingga tahun 2030 untuk proyek-proyek yang dirancang menghapus emisi metana, gas berfluorinasi, serta gas rumah kaca non-CO2 lainnya sebagai bagian dari Inisiatif Aksi Superpolutan.
Kesepakatan baru ini pun menjadi transaksi penghapusan superpolutan terbesar Google hingga saat ini.
"Google berkomitmen untuk menemukan solusi paling menjanjikan yang dapat meredam pemanasan global, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pendekatan Mitti Labs memberikan dampak jangka pendek yang sangat penting bagi atmosfer dengan memangkas emisi metana, sekaligus menghemat miliaran galon air dan memberdayakan para petani kecil untuk menerapkan metode pengelolaan air yang lebih maju," ungkap Kate Brandt, Chief Sustainability Officer dari Google.
Budidaya padi, yang menggunakan teknik penggenangan sawah secara terus-menerus, menyumbang sekitar 12 persen dari total emisi metana global. Hal ini menjadikan pertanian padi sebagai sumber emisi metana terbesar kedua di sektor pertanian setelah peternakan.
Padi juga merupakan tanaman yang sangat boros air, padahal sebagian besar padi ditanam di daerah yang mengalami krisis air tingkat sedang hingga sangat tinggi.
Didirikan pada tahun 2023, Mitti Labs menyediakan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI), teknologi satelit, dan kegiatan lapangan untuk mengurangi emisi metana dari pertanian padi secara permanen.
Melalui kesepakatan baru ini, Google akan membeli kredit karbon untuk mendukung program Mitti Labs dalam menerapkan metode Pengairan Berselang (Alternate Wetting and Drying atau AWD) di sawah-sawah India.
Dengan metode ini, petani mengeringkan dan menggenangi sawah secara berkala, bukan merendamnya terus-menerus.
Menurut Mitti Labs, metode AWD ini mencegah kondisi tanah kekurangan oksigen yang memicu terbentuknya metana, sehingga mampu memotong emisi metana dari sawah sekitar 50 persen sekaligus menghemat penggunaan air irigasi hingga hampir 40 persen tanpa menurunkan hasil panen.
Baca juga: TPST Bantargebang Dibayangi Risiko Kebakaran akibat Gas Metana
Mitti Labs menggunakan verifikasi berbasis satelit dari NASA yang dipadukan dengan data lapangan untuk mengukur dampak proyek dan membantu para petani dalam menerapkan metode pengairan berselang (AWD).
Menurut kedua perusahaan tersebut, kesepakatan baru ini akan memungkinkan lebih dari 100.000 hektar sawah beralih ke metode AWD pada tahun 2030. Langkah ini setara dengan pengurangan 1 juta ton CO2 jika diukur dalam jangka 100 tahun, atau setara 3 juta ton jika diukur dalam jangka 20 tahun, sekaligus menghemat 1,5 triliun liter air.
"Menekan emisi metana dari pertanian padi adalah salah satu cara paling ampuh yang kita miliki untuk memperlambat pemanasan global dalam jangka pendek. Kemitraan ini menjadi pendorong kuat bagi misi kami untuk mengurangi emisi, menghemat air, dan meningkatkan kesejahteraan 150 juta petani kecil yang menanam salah satu tanaman pangan paling penting di dunia," papar Xavier Laguarta, Pendiri Bersama Mitti Labs.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya