Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya

Kompas.com, 29 September 2026, 20:07 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Google mengumumkan telah menandatangani kesepakatan baru dengan perusahaan perintis Mitti Labs untuk membeli 1 juta kredit karbon superpolutan selama empat tahun ke depan.

Melansir ESG Today, Kamis (10/9/2026) kredit ini berasal dari proyek yang membantu lebih dari 70.000 petani kecil di India beralih ke metode pertanian yang mengurangi emisi gas metana dari sawah.

Menurut IPCC, superpolutan yang mencakup gas seperti metana dari sektor pertanian dan sampah menyumbang hampir separuh dari pemanasan global hingga saat ini.

Mengeliminasi gas-gas ini menjadi salah satu cara paling ampuh untuk menangani perubahan iklim dalam jangka pendek.

Meskipun sebagian besar superpolutan bertahan di atmosfer dalam waktu yang lebih singkat daripada CO2, gas-gas ini mampu memerangkap panas puluhan hingga ribuan kali lebih kuat.

Baca juga: Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan

Strategi Google dalam mengurangi gas rumah kaca sendiri memang mencakup fokus pada superpolutan.

Perusahaan ini baru saja mengumumkan komitmen untuk menyalurkan setidaknya 50 juta dolar AS hingga tahun 2030 untuk proyek-proyek yang dirancang menghapus emisi metana, gas berfluorinasi, serta gas rumah kaca non-CO2 lainnya sebagai bagian dari Inisiatif Aksi Superpolutan.

Kesepakatan baru ini pun menjadi transaksi penghapusan superpolutan terbesar Google hingga saat ini.

"Google berkomitmen untuk menemukan solusi paling menjanjikan yang dapat meredam pemanasan global, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pendekatan Mitti Labs memberikan dampak jangka pendek yang sangat penting bagi atmosfer dengan memangkas emisi metana, sekaligus menghemat miliaran galon air dan memberdayakan para petani kecil untuk menerapkan metode pengelolaan air yang lebih maju," ungkap Kate Brandt, Chief Sustainability Officer dari Google.

Budidaya padi, yang menggunakan teknik penggenangan sawah secara terus-menerus, menyumbang sekitar 12 persen dari total emisi metana global. Hal ini menjadikan pertanian padi sebagai sumber emisi metana terbesar kedua di sektor pertanian setelah peternakan.

Padi juga merupakan tanaman yang sangat boros air, padahal sebagian besar padi ditanam di daerah yang mengalami krisis air tingkat sedang hingga sangat tinggi.

Didirikan pada tahun 2023, Mitti Labs menyediakan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI), teknologi satelit, dan kegiatan lapangan untuk mengurangi emisi metana dari pertanian padi secara permanen.

Melalui kesepakatan baru ini, Google akan membeli kredit karbon untuk mendukung program Mitti Labs dalam menerapkan metode Pengairan Berselang (Alternate Wetting and Drying atau AWD) di sawah-sawah India.

Dengan metode ini, petani mengeringkan dan menggenangi sawah secara berkala, bukan merendamnya terus-menerus.

Menurut Mitti Labs, metode AWD ini mencegah kondisi tanah kekurangan oksigen yang memicu terbentuknya metana, sehingga mampu memotong emisi metana dari sawah sekitar 50 persen sekaligus menghemat penggunaan air irigasi hingga hampir 40 persen tanpa menurunkan hasil panen.

Baca juga: TPST Bantargebang Dibayangi Risiko Kebakaran akibat Gas Metana

Mitti Labs menggunakan verifikasi berbasis satelit dari NASA yang dipadukan dengan data lapangan untuk mengukur dampak proyek dan membantu para petani dalam menerapkan metode pengairan berselang (AWD).

Menurut kedua perusahaan tersebut, kesepakatan baru ini akan memungkinkan lebih dari 100.000 hektar sawah beralih ke metode AWD pada tahun 2030. Langkah ini setara dengan pengurangan 1 juta ton CO2 jika diukur dalam jangka 100 tahun, atau setara 3 juta ton jika diukur dalam jangka 20 tahun, sekaligus menghemat 1,5 triliun liter air.

"Menekan emisi metana dari pertanian padi adalah salah satu cara paling ampuh yang kita miliki untuk memperlambat pemanasan global dalam jangka pendek. Kemitraan ini menjadi pendorong kuat bagi misi kami untuk mengurangi emisi, menghemat air, dan meningkatkan kesejahteraan 150 juta petani kecil yang menanam salah satu tanaman pangan paling penting di dunia," papar Xavier Laguarta, Pendiri Bersama Mitti Labs.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
BrandzView
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Pemerintah
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Pemerintah
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Pemerintah
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Pemerintah
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Pemerintah
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau