KOMPAS.com - Petani kakao bisa jadi akan menghadapi ancaman iklim baru yang bakal berdampak pada tanaman yang menjadi sumber bahan baku salah satu makanan yang paling digemari di dunia ini.
Para ilmuwan dari Harvard dan Universitas Ghana mengungkapkan pola cuaca dapat membuat ancaman tertentu terhadap panen kakao.
Curah hujan yang terlalu sedikit dapat merusak hasil panen tanaman kakao. Namun, melansir Phys, Senin (14/9/2026) yang belum banyak dibahas adalah bagaimana curah hujan yang terlalu banyak juga dapat memengaruhi hasil panen tanaman tersebut.
Selama ini, petani telah lama mengkhawatirkan masalah kekeringan, dan penelitian sebelumnya telah memperingatkan bahwa kenaikan suhu dapat membuat beberapa wilayah penghasil kakao menjadi kurang layak untuk budidaya tanaman tersebut.
Tapi, penelitian ini menemukan bahwa rata-rata curah hujan dan suhu tidak memperhitungkan kerusakan akibat hujan singkat namun sangat deras.
"Kekeringan merupakan ancaman nyata bagi kakao dan hal ini sudah diketahui secara luas. Akan tetapi sisi ekstremnya yaitu curah hujan y ang berlebihan, belum banyak dibahas," kata Anna Lea Albright, yang memimpin penelitian ini sebagai peneliti pascadoktoral di Harvard University Center for the Environment.
Baca juga: Industri Ritel Global Belum Serius Garap Sektor Cokelat Berkelanjutan
Menurut mereka hujan deras yang turun saat pohon sedang berbunga bisa memicu penyebaran penyakit jamur selama masa pembungaan dan awal perkembangan buah.
Sebagai informasi pohon kakao dapat hidup selama beberapa dekade dan keberhasilan panen bergantung pada rangkaian proses yang panjang, mulai dari pembungaan, penyerbukan, hingga perkembangan buah.
Curah hujan yang terlalu sedikit atau terlalu banyak pada saat yang tidak tepat dapat merusak hasil panen sepanjang musim tersebut.
Misalnya saja di Ghana, Afrika Barat. Peneliti menyebut salah satu wilayah penghasil kakao ini mengalami curah hujan berlebih selama musim hujan ditambah dengan kekeringan saat musim kemarau. Hal ini menjadi penyebab sekitar dua pertiga dari fluktuasi hasil panen kakao dari tahun ke tahun.
Volatilitas harga yang diakibatkannya berdampak pada para pecinta cokelat yang terlihat dari kenaikan harga, ukuran kemasan yang lebih kecil, atau perubahan formulasi produk.
Karena tanaman kakao sangat rentan pada tahap-tahap tertentu dalam siklus pertumbuhannya, langkah adaptasi harus dilakukan secara tepat.
Kabar baiknya adalah pola cuaca yang bisa menjadi ancaman terhadap panen kakao dapat diprediksi jauh-jauh hari sehingga memberi waktu bagi petani untuk mengambil tindakan.
Pengendalian penyakit dapat dijadwalkan berdasarkan periode hujan deras, terutama jika prakiraan cuaca dapat memberikan waktu persiapan yang cukup.
Misalnya saja pengendalian penyakit dapat dijadwalkan berdasarkan periode hujan deras sehingga ini dapat mengantisipasi risiko dan melakukan persiapan untuk melindungi mata pencaharian serta tanaman kakao.
"Kami berharap temuan ini dapat membantu mengurangi kerusakan tanaman di masa depan, misalnya dengan mendorong peningkatan tutupan kanopi untuk melindungi bunga kakao dari tetesan air hujan yang besar, atau dengan mempertahankan lebih banyak serasah daun guna mencegah percikan tanah yang dapat menularkan infeksi ke buah kakao," kata penulis senior Peter Huybers, ketua Departemen Ilmu Bumi dan Planet di Harvard.
Baca juga: Meski Ada Gerakan Ramah Lingkungan, Produksi Kakao Tetap Terancam Iklim
Dalam studi ini, peneliti tidak hanya menganalisis perkebunan kakao di Ghana saja. Mereka juga mengamati dua negara produsen kakao utama lainnya yaitu Ekuador dan Indonesia.
Mereka menemukan pola serupa. Tahun-tahun dengan curah hujan musim hujan yang tinggi cenderung berdampak buruk bagi kakao.
Itu sebabnya prakiraan cuaca menjadi penting. Tim peneliti juga mengungkapkan hujan yang merusak kakao berkaitan dengan pola iklim yang lebih luas seperti El Nino atau perubahan suhu permukaan laut Atlantik.
Oleh karena itu, tahun-tahun dengan kondisi buruk dapat diprediksi.
Lebih lanjut, hujan bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi petani kakao di Ghana. Pohon yang sudah tua, penambangan emas, penyelundupan, biaya pupuk, serta hama dan penyakit juga dapat menyebabkan penurunan produksi kakao.
Data curah hujan juga tidak selalu merekam hujan dengan intensitas tertinggi secara akurat, padahal peristiwa hujan deras itulah yang paling berdampak signifikan dalam konteks ini.
Meski demikian, penelitian ini memperjelas ancaman iklim yang ada. Masa depan kakao tidak hanya bergantung pada kondisi dunia yang semakin panas.
Hal ini juga berkaitan dengan kapan hujan turun, seberapa deras curah hujannya, serta apakah para petani mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrem tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya