Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat

Kompas.com, 30 September 2026, 13:32 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Petani kakao bisa jadi akan menghadapi ancaman iklim baru yang bakal berdampak pada tanaman yang menjadi sumber bahan baku salah satu makanan yang paling digemari di dunia ini.

Para ilmuwan dari Harvard dan Universitas Ghana mengungkapkan pola cuaca dapat membuat ancaman tertentu terhadap panen kakao.

Curah hujan yang terlalu sedikit dapat merusak hasil panen tanaman kakao. Namun, melansir Phys, Senin (14/9/2026) yang belum banyak dibahas adalah bagaimana curah hujan yang terlalu banyak juga dapat memengaruhi hasil panen tanaman tersebut.

Selama ini, petani telah lama mengkhawatirkan masalah kekeringan, dan penelitian sebelumnya telah memperingatkan bahwa kenaikan suhu dapat membuat beberapa wilayah penghasil kakao menjadi kurang layak untuk budidaya tanaman tersebut.

Tapi, penelitian ini menemukan bahwa rata-rata curah hujan dan suhu tidak memperhitungkan kerusakan akibat hujan singkat namun sangat deras.

"Kekeringan merupakan ancaman nyata bagi kakao dan hal ini sudah diketahui secara luas. Akan tetapi sisi ekstremnya yaitu curah hujan y ang berlebihan, belum banyak dibahas," kata Anna Lea Albright, yang memimpin penelitian ini sebagai peneliti pascadoktoral di Harvard University Center for the Environment.

Baca juga: Industri Ritel Global Belum Serius Garap Sektor Cokelat Berkelanjutan

Menurut mereka hujan deras yang turun saat pohon sedang berbunga bisa memicu penyebaran penyakit jamur selama masa pembungaan dan awal perkembangan buah.

Sebagai informasi pohon kakao dapat hidup selama beberapa dekade dan keberhasilan panen bergantung pada rangkaian proses yang panjang, mulai dari pembungaan, penyerbukan, hingga perkembangan buah.

Curah hujan yang terlalu sedikit atau terlalu banyak pada saat yang tidak tepat dapat merusak hasil panen sepanjang musim tersebut.

Misalnya saja di Ghana, Afrika Barat. Peneliti menyebut salah satu wilayah penghasil kakao ini mengalami curah hujan berlebih selama musim hujan ditambah dengan kekeringan saat musim kemarau. Hal ini menjadi penyebab sekitar dua pertiga dari fluktuasi hasil panen kakao dari tahun ke tahun.

Volatilitas harga yang diakibatkannya berdampak pada para pecinta cokelat yang terlihat dari kenaikan harga, ukuran kemasan yang lebih kecil, atau perubahan formulasi produk.

Langkah adaptasi

Karena tanaman kakao sangat rentan pada tahap-tahap tertentu dalam siklus pertumbuhannya, langkah adaptasi harus dilakukan secara tepat.

Kabar baiknya adalah pola cuaca yang bisa menjadi ancaman terhadap panen kakao dapat diprediksi jauh-jauh hari sehingga memberi waktu bagi petani untuk mengambil tindakan.

Pengendalian penyakit dapat dijadwalkan berdasarkan periode hujan deras, terutama jika prakiraan cuaca dapat memberikan waktu persiapan yang cukup.

Misalnya saja pengendalian penyakit dapat dijadwalkan berdasarkan periode hujan deras sehingga ini dapat mengantisipasi risiko dan melakukan persiapan untuk melindungi mata pencaharian serta tanaman kakao.

"Kami berharap temuan ini dapat membantu mengurangi kerusakan tanaman di masa depan, misalnya dengan mendorong peningkatan tutupan kanopi untuk melindungi bunga kakao dari tetesan air hujan yang besar, atau dengan mempertahankan lebih banyak serasah daun guna mencegah percikan tanah yang dapat menularkan infeksi ke buah kakao," kata penulis senior Peter Huybers, ketua Departemen Ilmu Bumi dan Planet di Harvard.

Baca juga: Meski Ada Gerakan Ramah Lingkungan, Produksi Kakao Tetap Terancam Iklim

Dalam studi ini, peneliti tidak hanya menganalisis perkebunan kakao di Ghana saja. Mereka juga mengamati dua negara produsen kakao utama lainnya yaitu Ekuador dan Indonesia.

Mereka menemukan pola serupa. Tahun-tahun dengan curah hujan musim hujan yang tinggi cenderung berdampak buruk bagi kakao.

Itu sebabnya prakiraan cuaca menjadi penting. Tim peneliti juga mengungkapkan hujan yang merusak kakao berkaitan dengan pola iklim yang lebih luas seperti El Nino atau perubahan suhu permukaan laut Atlantik.

Oleh karena itu, tahun-tahun dengan kondisi buruk dapat diprediksi.

Lebih lanjut, hujan bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi petani kakao di Ghana. Pohon yang sudah tua, penambangan emas, penyelundupan, biaya pupuk, serta hama dan penyakit juga dapat menyebabkan penurunan produksi kakao.

Data curah hujan juga tidak selalu merekam hujan dengan intensitas tertinggi secara akurat, padahal peristiwa hujan deras itulah yang paling berdampak signifikan dalam konteks ini.

Meski demikian, penelitian ini memperjelas ancaman iklim yang ada. Masa depan kakao tidak hanya bergantung pada kondisi dunia yang semakin panas.

Hal ini juga berkaitan dengan kapan hujan turun, seberapa deras curah hujannya, serta apakah para petani mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrem tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
Pemerintah
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
LSM/Figur
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Pemerintah
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Pemerintah
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
LSM/Figur
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Swasta
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Pemerintah
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Pemerintah
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan 'Gluten Free' Bernilai Ekonomi Tinggi
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan "Gluten Free" Bernilai Ekonomi Tinggi
LSM/Figur
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau