Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas

Kompas.com, 30 September 2026, 14:41 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Laporan PBB memperingatkan bahwa dunia kini memiliki sisa waktu yang semakin sempit untuk memulihkan hutan-hutan yang sangat penting bagi ketahanan pangan dan ketahanan terhadap krisis iklim.

Melansir Guardian, Selasa (29/9/2026) organisasi dunia tersebut mencatat bahwa lebih dari 489 juta hektar hutan telah dibabat sejak tahun 1990, sementara area yang mengalami kerusakan bahkan lebih luas lagi.

Oleh karena itu, PBB mendesak pemerintah di berbagai negara untuk menjadikan pemulihan hutan sebagai prioritas nasional.

Laporan The State of the World’s Forests mengakui adanya kemajuan dalam perlindungan dan penanaman pohon di tingkat global, tetapi menilai bahwa aksi nyata di lapangan masih tertinggal jauh dari komitmen yang telah dijanjikan.

Baca juga: FAO: Hutan Jadi Kunci Utama Ketahanan Pangan, Gizi, dan Mata Pencaharian

Selama dua dekade terakhir, berbagai inisiatif nasional, regional, dan global berjanji untuk memulihkan lebih dari 1 miliar hektar lahan.

Namun, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat bahwa baru sekitar seperlimanya yang benar-benar dipulihkan dan menegaskan kemajuan yang ada masih belum merata dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan global yang terus meningkat.

Hutan sendiri mencakup 4,14 miliar hektar atau sekitar sepertiga permukaan daratan bumi, menyimpan 714 gigaton karbon, dan menjadi rumah bagi 80 persen keanekaragaman hayati darat.

Hutan juga berperan penting dalam mengatur curah hujan serta mengurangi kelaparan, dengan hampir sepertiga penduduk dunia menggantungkan hidup padanya.

Namun, ancaman terhadap hutan semakin parah setiap harinya. Setiap tahun, sekitar 127 juta hektar hutan melahap api akibat kebakaran, ditambah kerusakan akibat serangan hama, penyakit, dan cuaca ekstrem.

Kondisi ini membuat hutan semakin rentan, apalagi di tengah tekanan pembukaan lahan pertanian, krisis iklim, polusi, serta penambangan bahan bakar fosil dan sumber daya alam lainnya.

"Makin lebarnya jarak antara kebutuhan manusia dan pasokan kayu atau hasil hutan yang lestari ini menunjukkan ketidakseimbangan besar. Hal ini mengancam kelestarian alam sekaligus kelangsungan ekonomi berbasis hutan jangka panjang," tegas laporan tersebut.

Laporan itu menekankan bahwa pemulihan hutan dan ekosistem yang rusak akan membawa manfaat besar bagi masyarakat, ketahanan pangan, dan perekonomian. Pemulihan 1 miliar hektar lahan diperkirakan dapat menghasilkan keuntungan ekonomi hingga 1,8 triliun dolar AS (sekitar Rp 27.000 triliun) setiap tahunnya.

Baca juga: Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung

Qu Dongyu, Direktur Jenderal FAO, menyatakan bahwa laporan ini memperjelas bahwa pemulihan hutan dan alam bukan sekadar prioritas lingkungan tetapi investasi strategis untuk sistem pangan yang tangguh dan pembangunan pedesaan.

"Waktu untuk bertindak semakin sempit. Penundaan atau perbaikan yang asal-asalan justru akan membengkakkan biaya jangka panjang, memperlebar ketimpangan, dan menjebak lingkungan dalam kerusakan permanen. Mengingat terus berlanjutnya kerusakan hutan serta melonjaknya kebutuhan dunia akan produk olahan lahan, pemulihan skala besar harus segera dilakukan sekarang juga," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau