KOMPAS.com – “With great power comes great responsibility.”
Kalimat yang populer lewat karakter Paman Ben dalam Spider-Man itu menggambarkan bahwa kekuatan selalu datang bersama tanggung jawab. Namun, ketika dibawa ke konteks yang lebih nyata, maknanya terasa relevan untuk menggambarkan kekayaan sumber daya alam Indonesia, termasuk sumber daya mineral.
Indonesia memiliki beragam sumber daya mineral yang tersebar di berbagai wilayah. Salah satunya adalah nikel yang kini menjadi salah satu komoditas strategis dalam rantai industri global.
Berdasarkan Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia Tahun 2025 yang disusun Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia tercatat memiliki sumber daya bijih nikel sekitar 19,158 miliar ton dan cadangan sekitar 5,914 miliar ton.
Posisi Indonesia dalam industri nikel juga terlihat dari sisi produksi. Mineral Commodity Summaries 2026 dari United States Geological Survey (USGS) memperkirakan produksi tambang nikel Indonesia mencapai 2,6 juta ton pada 2025. Angka tersebut merupakan yang terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar dua pertiga dari produksi nikel tambang global yang diperkirakan mencapai 3,9 juta ton pada tahun yang sama.
Baca juga: Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa nikel merupakan salah satu modal sumber daya yang dimiliki Indonesia. Namun, keberadaan mineral di dalam tanah belum dengan sendirinya menciptakan nilai tambah bagi perekonomian.
Setelah ditemukan, sumber daya mineral harus melalui proses panjang, mulai dari penambangan, pengolahan, pembangunan industri, pengembangan teknologi, hingga penyerapan tenaga kerja.
Oleh karena itu, pertanyaan mengenai nikel tidak berhenti pada seberapa banyak yang dimiliki Indonesia, tetapi juga bagaimana sumber daya tersebut dikelola.
Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan, sebagian besar endapan nikel Indonesia berupa nikel laterit yang terbentuk melalui proses pelapukan batuan ultramafik. Persebarannya terutama terdapat di wilayah Sulawesi dan Maluku Utara.
Nikel digunakan dalam berbagai kebutuhan industri, antara lain untuk produksi baja tahan karat dan sejumlah teknologi baterai. Perkembangan kendaraan listrik kemudian membuat komoditas ini semakin mendapat perhatian karena beberapa jenis baterai lithium-ion menggunakan material berbasis nikel sebagai salah satu komponennya.
Hasil produksi nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan.Kondisi tersebut menempatkan nikel bukan hanya sebagai komoditas pertambangan, tetapi juga sebagai bagian dari rantai industri yang lebih luas. Bagi Indonesia, posisi ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas di dalam negeri melalui pengolahan sebelum hasil tambang digunakan sebagai bahan baku industri.
Kebijakan hilirisasi menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mendorong proses tersebut. Dalam konteks nikel, bijih yang ditambang di dalam negeri diolah menjadi berbagai produk turunan sebelum masuk ke tahap pemanfaatan lebih lanjut.
Baca juga: PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
Jumlah fasilitas pengolahan nikel di dalam negeri juga terus bertambah. Kementerian ESDM mencatat, hingga Desember 2025 terdapat 79 smelter nikel yang telah beroperasi, sementara fasilitas lainnya masih dalam tahap konstruksi dan perencanaan.
Pada saat yang sama, terdapat 365 Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel di enam provinsi penghasil nikel.
Angka tersebut memberikan gambaran bahwa hilirisasi tidak berhenti pada kebijakan, tetapi juga diikuti pembangunan kapasitas pengolahan di dalam negeri. Aktivitas pertambangan kemudian terhubung dengan fasilitas industri yang mengolah mineral menjadi produk dengan bentuk dan kegunaan yang lebih beragam.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut hilirisasi sebagai bagian dari proses transformasi ekonomi Indonesia. Menurutnya, proses tersebut mendorong Indonesia tidak berhenti pada kegiatan mengambil dan menjual komoditas, tetapi mengolahnya menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
“Hilirisasi ini adalah anak tangga untuk sebuah negara berkembang menjadi negara maju,” kata Bahlil saat memberikan kuliah umum di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Perkembangan nilai ekspor produk turunan nikel turut menjadi salah satu gambaran dari proses itu. Bahlil menyebut hilirisasi telah meningkatkan nilai ekspor produk turunan nikel dari 3,3 miliar dollar AS pada 2017 menjadi 33,9 miliar dollar AS setelah kebijakan larangan ekspor bijih nikel diterapkan
Namun, pembangunan industri hilir membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas pengolahan.
Teknologi, sumber daya manusia, investasi, dan kemampuan industri nasional menjadi bagian dari rantai yang menentukan sejauh mana nilai tambah dapat dibangun di dalam negeri.
Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya berbicara tentang mengolah bijih menjadi produk antara. Proses tersebut juga berkaitan dengan bagaimana Indonesia membangun kapasitas industri dan manusia di dalam rantai nilai mineral.
Pada saat yang sama, kegiatan pertambangan dan pengolahan tetap membutuhkan pengelolaan terhadap lingkungan serta wilayah di sekitarnya.
Pertambangan berlangsung di ruang yang juga menjadi bagian dari ekosistem dan kehidupan masyarakat. Karena itu, pengelolaan lahan, air, energi, reklamasi, dan keanekaragaman hayati menjadi bagian dari kegiatan pertambangan.
Hal tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhatikan PT Vale Indonesia dalam menjalankan operasi pertambangan nikelnya di Sulawesi.
Baca juga: Produksi Nikel Matte Vale Indonesia Tembus 29.773 Ton, Pendapatan Ikut Naik
Di Sorowako, Sulawesi Selatan, misalnya, kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel telah berlangsung selama puluhan tahun. Di kawasan tersebut terdapat Danau Matano yang menjadi bagian dari bentang alam sekitar wilayah operasi.
Keindahan Danau Matano Sorowako menjadi salah satu bukti komitmen PT Vale Indonesia dalam menjaga kelestarian lingkungan.Presiden Direktur PT Vale Indonesia Bernadus Irmanto mengatakan bahwa perseroan melakukan rehabilitasi lahan secara progresif serta membangun sarana untuk mengendalikan erosi dan sedimentasi di sekitar Danau Matano.
“Kalau danau ini adalah jantung kehidupan operasi PT Vale, maka adalah sebuah keharusan buat perusahaan untuk menjaga kelestarian danau ini,” tegas dia.
Salah satu upaya juga dilakukan dengan reklamasi lahan. Hingga Desember 2025, lahan yang berhasil direklamasi tercatat mencapai 50,23 persen atau seluas 3.862,56 hektar dari total area terbuka.
Hingga 2024, PT Vale Indonesia telah merehabilitasi lahan seluas 2,5 kali dari area yang dibuka untuk kegiatan tambang. Rehabilitasi dilakukan secara progresif dengan membagi area tambang menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga pemulihan lahan dapat dilakukan secara bertahap.
PT Vale juga menyebut telah menanam lebih dari lima juta pohon dan mengembangkan fasilitas pembibitan untuk mendukung kegiatan rehabilitasi.
Di titik ini, agenda hilirisasi bertemu dengan tantangan pengelolaan sumber daya alam. Ketika rantai industri dikembangkan semakin panjang, pengelolaan dampak kegiatan pertambangan menjadi bagian yang ikut menentukan keberlanjutan proses tersebut.
Besarnya aktivitas hilirisasi juga tecermin dari arus investasi yang masuk ke sektor tersebut. Kementerian Investasi dan Hilirisasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi bidang hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp 584,1 triliun.
Baca juga: DPR Ungkap Kunci Hilirisasi Minerba: SDM dan Penguasaan Teknologi
Angka itu tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan menyumbang 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional. Dari jumlah tersebut, sektor mineral menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 373,1 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi telah berkembang menjadi bagian dari aktivitas investasi yang lebih luas. Di sektor nikel, salah satu contohnya terlihat dari pengembangan proyek yang dilakukan PT Vale Indonesia melalui sejumlah Indonesia Growth Project (IGP).
Indonesia Growth Project (IGP) Morowali PT Vale Indonesia memasuki fase konstruksi pada September 2024Salah satunya adalah IGP Morowali di Sulawesi Tengah. Proyek tersebut mencakup pengembangan tambang serta pembangunan fasilitas pengolahan berbasis high pressure acid leach (HPAL) dengan nilai investasi sekitar 2 miliar dollar AS.
Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada periode 2026 hingga 2027. Menurut PT Vale, pengembangan IGP Morowali ditujukan untuk memperkuat ekosistem hilirisasi mineral nasional sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi Indonesia.
Bernardus memastikan bahwa pengembangan proyek tersebut dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja, kepatuhan terhadap regulasi, dan perlindungan lingkungan.
“Kami berharap, kemitraan strategis ini dapat terus berjalan dan semakin memperkuat kontribusi sektor hilirisasi bagi pembangunan daerah,” tegas Bernardus.
Baca juga: Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako
Untuk diketahui, IGP Morowali merupakan salah satu bagian dari pengembangan proyek hilirisasi PT Vale bersama IGP Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dan pengembangan proyek di Sorowako.
Di Pomalaa, PT Vale bersama mitra mengembangkan tambang nikel dan fasilitas HPAL yang dirancang menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), yakni produk antara yang dapat digunakan dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik.
Fasilitas tersebut dirancang menghasilkan sekitar 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt per tahun dalam bentuk MHP. Adapun nilai investasi untuk pengembangan tambang dan fasilitas HPAL di Pomalaa mencapai sekitar 4,5 miliar dollar AS.
Baca juga: Ketika Industri Nikel Berdamai dengan Alam, Kisah Keberlanjutan Vale
Hingga Mei 2026, progres konstruksi IGP Pomalaa telah mencapai 73,4 persen. Proyek tersebut juga mencakup sejumlah fasilitas pendukung, seperti pembibitan, pengolahan limbah padat, kolam sedimentasi, pengolahan air limbah dan lindi, pengelolaan limbah B3, serta pengolahan emisi udara.
Bagi Bernardus, investasi tersebut juga berkaitan dengan perubahan kebutuhan industri di masa depan.
Dalam paparan publik pada September 2026, ia mengatakan bahwa kebutuhan nikel ke depan tidak hanya berasal dari industri kendaraan listrik.
“Kita tidak hanya melihat pemakaian nikel sebagai baterai mobil listrik, tapi kita melihat juga tren-tren ke depan tentang robotics, tentang AI, tentang data center, tentang eVTOL (electric vertical take-off and landing), misalnya, yang akan membutuhkan banyak sekali volume nikel,” ujar Bernardus.
Oleh karena itu, perseoran memandang investasi yang dilakukan saat ini sebagai bagian dari persiapan terhadap kebutuhan industri berikutnya.
“Jadi, we are investing today for tomorrow, untuk kebutuhan-kebutuhan di kemudian hari.” kata Bernardus.
Aktivitas operasional di area pertambangan nikel milik PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan.
Pengembangan proyek hilirisasi tersebut juga masuk dalam arah strategis PT Vale pada 2026.
Dalam hasil RUPST 2026, perusahaan menyebut, penyelesaian proyek hilirisasi nikel dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah, penguatan praktik keberlanjutan dan tata kelola, serta pengembangan kemitraan strategis untuk memperluas rantai nilai sebagai bagian dari fokus perusahaan ke depan.
“Kami akan terus berfokus pada praktik pertambangan terbaik, hilirisasi yang bertanggung jawab, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan,” tegas Bernardus.
Besarnya sumber daya dan produksi nikel menempatkan Indonesia pada posisi penting dalam rantai industri mineral. Namun, posisi tersebut tidak berhenti pada angka produksi atau cadangan.
Baca juga: Segregation Plant Vale Indonesia, Wujud Komitmen Nol Sampah Menuju 2050
Di dalam negeri, pembangunan smelter, investasi industri pengolahan, pengembangan proyek hilirisasi, serta peningkatan kapasitas teknologi menjadi bagian dari proses untuk mengubah sumber daya mineral menjadi aktivitas ekonomi yang lebih panjang.
Pada saat yang sama, proses tersebut berlangsung di wilayah yang juga menjadi ruang hidup masyarakat dan ekosistem. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan, rehabilitasi lahan, serta keberlanjutan wilayah sekitar tambang menjadi bagian dari perjalanan yang sama.
Pada akhirnya, nilai sebuah sumber daya tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar cadangan yang dimiliki atau seberapa banyak yang dapat diproduksi. Nilainya juga ditentukan oleh kemampuan untuk mengolahnya menjadi kekuatan industri sekaligus memastikan manfaatnya dapat terus berkembang.
Kembali pada kalimat Paman Ben, “With great power comes great responsibility.”
Bagi Indonesia, nikel adalah salah satu bentuk kekuatan tersebut. Tantangannya bukan hanya mengambil nikel dari bumi, tetapi memastikan sumber daya tersebut berkembang menjadi nilai tambah bagi industri, masyarakat, dan generasi mendatang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya