Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat

Kompas.com, 1 Oktober 2026, 09:00 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber Grist.org

KOMPAS.com - Musim panas tahun ini tidak sekadar terasa sangat panas tetapi memecahkan rekor, dengan banyak negara mencatat suhu rata-rata tertinggi yang pernah ada.

Namun, melansir Grist, Selasa ( 8/9/2026) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa semua kejadian ini barulah awal. Musim panas di tahun-tahun mendatang dipastikan akan terasa jauh lebih panas.

Dua faktor utama yang dapat mendorong suhu global naik lebih tinggi lagi dalam beberapa tahun ke depan adalah El Niño dan perubahan iklim akibat ulah manusia. El Niño adalah pola iklim yang membawa panas ekstra ke seluruh dunia setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Saat ini kita sedang berada di tahap awal siklus El Niño terbaru, yang diperkirakan berpotensi menjadi yang terkuat dalam seribu tahun terakhir.

Lalu ada masalah atmosfer Bumi yang semakin dipenuhi gas rumah kaca memerangkap panas.

Untuk mengatasi perubahan iklim, negara-negara harus segera berhenti membakar bahan bakar fosil dan beralih berinvestasi pada teknologi energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin.

Pada tahun 2015, hampir seluruh negara di dunia berkomitmen untuk membatasi kenaikan suhu Bumi di bawah 2 derajat Celsius dibanding era pra-industri, dengan target yang lebih ambisius yaitu 1,5 derajat Celsius.

Baca juga: Teknologi Pendinginan Pasif Penting untuk Adaptasi Perubahan Iklim

Namun, laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa dunia hampir pasti akan melewati batas target 1,5 derajat Celsius tersebut dalam beberapa tahun ke depan. Ini berarti panas yang lebih parah, kekeringan, kebakaran hutan, kenaikan permukaan air laut, dan mencairnya gletser sudah di depan mata.

Lambatnya adaptasi dunia

Ketika dampak perubahan iklim dan El Niño menyatu, para ilmuwan memprediksi tahun 2027 sangat mungkin menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.

"Sama sekali tidak ada wilayah yang benar-benar siap menghadapi kondisi ekstrem ini," kata Kristie Ebi, penulis utama laporan PBB sekaligus profesor kesehatan global di University of Washington.

Negara-negara miskin memang menjadi yang paling rentan terhadap perubahan iklim, namun laporan PBB menemukan bahwa negara-negara kaya pun gagal beradaptasi dengan cukup cepat.

Beberapa negara telah menemukan cara untuk mengurangi dampak akibat panas ekstrem, meskipun suhu iklim terus meningkat.

Misalnya saja, setelah gelombang panas pada tahun 2003 merenggut 70.000 jiwa di seluruh Eropa, negara-negara di sana mengambil langkah perlindungan dengan membuat sistem peringatan dini, mendirikan pusat-pusat pendingin, serta membantu kesiapan rumah sakit.

Prancis merancang rencana nasional yang mewajibkan adanya ruang ber-AC di panti jompo, menugaskan petugas kesehatan untuk memantau lansia dan warga yang rentan saat terjadi panas ekstrem, serta membangun ruang terbuka hijau di perkotaan untuk membantu menurunkan suhu.

"Gelombang panas dengan tingkat keparahan yang sama kini terbukti jauh berkurang tingkat mematikannya di Prancis dibandingkan sebelumnya," kata Christopher Callahan, ilmuwan iklim yang mempelajari keterkaitan panas, kesehatan, dan ekonomi di Indiana University.

Namun, pemanasan global saat ini sudah mencapai 1,4 derajat Celsius dan terus meningkat. Para ilmuwan memperkirakan bahwa pada titik tertentu, gelombang panas akan menjadi sangat parah hingga melampaui kemampuan adaptasi yang telah dibuat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau