KOMPAS.com - Musim panas tahun ini tidak sekadar terasa sangat panas tetapi memecahkan rekor, dengan banyak negara mencatat suhu rata-rata tertinggi yang pernah ada.
Namun, melansir Grist, Selasa ( 8/9/2026) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa semua kejadian ini barulah awal. Musim panas di tahun-tahun mendatang dipastikan akan terasa jauh lebih panas.
Dua faktor utama yang dapat mendorong suhu global naik lebih tinggi lagi dalam beberapa tahun ke depan adalah El Niño dan perubahan iklim akibat ulah manusia. El Niño adalah pola iklim yang membawa panas ekstra ke seluruh dunia setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Saat ini kita sedang berada di tahap awal siklus El Niño terbaru, yang diperkirakan berpotensi menjadi yang terkuat dalam seribu tahun terakhir.
Lalu ada masalah atmosfer Bumi yang semakin dipenuhi gas rumah kaca memerangkap panas.
Untuk mengatasi perubahan iklim, negara-negara harus segera berhenti membakar bahan bakar fosil dan beralih berinvestasi pada teknologi energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin.
Pada tahun 2015, hampir seluruh negara di dunia berkomitmen untuk membatasi kenaikan suhu Bumi di bawah 2 derajat Celsius dibanding era pra-industri, dengan target yang lebih ambisius yaitu 1,5 derajat Celsius.
Baca juga: Teknologi Pendinginan Pasif Penting untuk Adaptasi Perubahan Iklim
Namun, laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa dunia hampir pasti akan melewati batas target 1,5 derajat Celsius tersebut dalam beberapa tahun ke depan. Ini berarti panas yang lebih parah, kekeringan, kebakaran hutan, kenaikan permukaan air laut, dan mencairnya gletser sudah di depan mata.
Ketika dampak perubahan iklim dan El Niño menyatu, para ilmuwan memprediksi tahun 2027 sangat mungkin menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.
"Sama sekali tidak ada wilayah yang benar-benar siap menghadapi kondisi ekstrem ini," kata Kristie Ebi, penulis utama laporan PBB sekaligus profesor kesehatan global di University of Washington.
Negara-negara miskin memang menjadi yang paling rentan terhadap perubahan iklim, namun laporan PBB menemukan bahwa negara-negara kaya pun gagal beradaptasi dengan cukup cepat.
Beberapa negara telah menemukan cara untuk mengurangi dampak akibat panas ekstrem, meskipun suhu iklim terus meningkat.
Misalnya saja, setelah gelombang panas pada tahun 2003 merenggut 70.000 jiwa di seluruh Eropa, negara-negara di sana mengambil langkah perlindungan dengan membuat sistem peringatan dini, mendirikan pusat-pusat pendingin, serta membantu kesiapan rumah sakit.
Prancis merancang rencana nasional yang mewajibkan adanya ruang ber-AC di panti jompo, menugaskan petugas kesehatan untuk memantau lansia dan warga yang rentan saat terjadi panas ekstrem, serta membangun ruang terbuka hijau di perkotaan untuk membantu menurunkan suhu.
"Gelombang panas dengan tingkat keparahan yang sama kini terbukti jauh berkurang tingkat mematikannya di Prancis dibandingkan sebelumnya," kata Christopher Callahan, ilmuwan iklim yang mempelajari keterkaitan panas, kesehatan, dan ekonomi di Indiana University.
Namun, pemanasan global saat ini sudah mencapai 1,4 derajat Celsius dan terus meningkat. Para ilmuwan memperkirakan bahwa pada titik tertentu, gelombang panas akan menjadi sangat parah hingga melampaui kemampuan adaptasi yang telah dibuat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya