Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah

Kompas.com, 1 Oktober 2026, 16:06 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pengelolaan susut dan sisa pangan (food loss and waste/FLW) tidak hanya berkaitan dengan pengurangan sampah, tetapi juga memiliki dampak terhadap ketahanan pangan, perbaikan gizi, pengurangan emisi gas rumah kaca, hingga pemanfaatan kembali pangan dalam kegiatan ekonomi.

Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas Jarot Indarto mengatakan, pengelolaan susut dan sisa pangan perlu dilihat dalam kerangka *triple win* atau tiga manfaat yang saling berkaitan.

"Seberapa besar kandungan gizi yang bisa tetap diberikan kepada masyarakat. Karena di dalam pangan yang tersusut atau tersisa, kita bicara masalah kandungan gizi yang ada," ujar Jarot dalam Peringatan International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW), Selasa (29/9/2026).

Baca juga: BTN Siapkan Rp 3 Triliun untuk ID FOOD, Perkuat Bisnis Pangan

Menurut dia, manfaat pertama berkaitan dengan ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat.

Manfaat kedua berupa kontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus efisiensi pemanfaatan sumber daya alam. Adapun manfaat ketiga adalah membuka peluang agar pangan yang tersisa dapat kembali memiliki nilai melalui kegiatan ekonomi sirkular.

SSP berpotensi selamatkan pasokan pangan

Jarot mencontohkan potensi pengurangan susut dan sisa pangan pada komoditas strategis seperti padi-padian atau beras.

Berdasarkan perkiraan data telaah awal pemerintah, susut dan sisa pangan pada komoditas tersebut mencapai 12,21 juta ton per tahun.

Menurut Jarot, apabila sebagian pangan yang hilang tersebut dapat diselamatkan, dampaknya tidak hanya berupa berkurangnya pangan yang terbuang.

Dari sisi produksi, pengurangan susut pangan dapat menghemat berbagai input, termasuk pupuk. Sementara dari sisi sisa pangan, efisiensi tersebut berpotensi menjaga ketersediaan pasokan pangan bagi masyarakat.

"Kita sudah bisa membayangkan seberapa banyak populasi, individu yang bisa kita penuhi kebutuhan pangannya dengan mereduksi, mengurangi SSP itu sendiri," kata Jarot.

Ia juga menilai data menjadi instrumen penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai besarnya persoalan susut dan sisa pangan.

Menurut Jarot, angka statistik dapat membantu menerjemahkan persoalan yang kompleks menjadi gambaran yang lebih konkret mengenai skala dan urgensinya.

Baca juga: Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan Gluten Free Bernilai Ekonomi Tinggi

"Angka-angka seperti ini sangat penting untuk mempermudah pemahaman kita seberapa penting suatu isu. Karena kalau tidak ada angka nampaknya kita ngawang-ngawang, tapi kalau ada angka paling tidak ada gambaran yang lebih jelas terhadap urgensi dari suatu isu," ujarnya.

Pemetaan titik susut pangan

Untuk mendorong pengurangan SSP, pemerintah perlu memetakan titik-titik rawan terjadinya kehilangan pangan di sepanjang rantai pasok.

Jarot mengatakan, persoalan SSP tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan akibat tingginya volume sisa konsumsi. Persoalan tersebut juga terjadi di wilayah perdesaan, terutama pada tahap pascapanen.

Dengan pemetaan tersebut, intervensi dapat diarahkan pada tahapan rantai pasok yang mengalami kehilangan pangan paling besar.

Bappenas juga telah memasukkan target pengurangan SSP ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Dalam dokumen tersebut, pemerintah menargetkan penurunan SSP sebesar 3-5 persen per tahun.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Pemerintah
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Pemerintah
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Pemerintah
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
LSM/Figur
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Pemerintah
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa 'Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit'
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa "Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit"
LSM/Figur
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Swasta
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Pemerintah
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
LSM/Figur
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Pemerintah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Pemerintah
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau