JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa sangka, rutinitas harian yang dianggap biasa saja oleh warga Desa Sukajadi, Kabupaten Bogor, kini justru menjadi daya tarik wisata.
Berawal dari keterbatasan sumber daya, warga Desa Sukajadi, membuktikan bahwa kesederhanaan hidup mulai dari merawat kebun stroberi, melestarikan kue tradisional, sampai menjaga keasrian lingkungan — mampu disulap menjadi magnet baru bagi pelancong kota yang merindukan keotentikan pedesaan.
Tak disangka, proyek percontohan bernama Gang Rancage itu meraih penghargaan Best Project Award dengan membawa pulang hadiah sebesar Rp100 juta dalam ajang Inspiring Indonesia 2026. Proyek di bawah rumah produksi IPB University ini berfokus pada model pemberdayaan masyarakat berbasis warga lokal.
Proyek ini bertujuan mendokumentasikan bagaimana kreativitas warga dapat mendorong pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan melalui pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM), edukasi pertanian, serta paket wisata alam tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Nama 'Rancage' sendiri memiliki arti kreativitas yang diambil dari bahasa Sunda. Wilayah ini dipilih sebagai proyek percontohan karena masih menjaga keaslian kebudayaan lokal maupun menyimpan potensi alam, seperti curug (air terjun) dan lahan pertanian tradisional.
Baca juga: Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
"(proyek ini) ikut serta mem- empower youth atau pemuda, karena di Rancage atau di Desa Sukajadi ada banyak sekali pemuda yang bekerja sebagai konveksi dan lain sebagainya dan ketika ada pengunjung, mereka bisa ikut serta berkontribusi sebagai local guide atau ya tour guide gitu.Juga ada local artist yang ikut serta di sana, karena budaya Sunda itu sangat kaya, dan saya mengenal ada karinding dan kecapi, dan lain sebagainya," ujar Sutradara sekaligus Produser Rancage, Wina Ekawati dalam #inspiringindonesia 2026 regional screening & awarding, Jumat (11/9/2026).
Tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, gerakan Rancage juga menumbuhkan kesadaran ekologis di tengah masyarakat. Warga Desa Sukajadi semakin menyadari bahwa menjaga kelestarian lingkungan dan mempertahankan kearifan lokal merupakan kunci utama agar pariwisata dapat berjalan secara berkelanjutan.
"Dari aktivitas wisata ini juga bisa memberi kesadaran wisata di masyarakat bahwa mereka paham bahwa menjaga lingkungan itu suatu hal yang baik. Karena dari lingkungan merekalah, mereka mendapatkan suatu keuntungan tambahan. Jadi, berjalan beriringan antara ekonomi dan environment, dan kemudian tentu local wisdom, karena mereka bisa bergerak tanpa melupakan kearifan lokal yang mereka miliki," tutur Wina.
Untuk memastikan manfaat ekonomi dirasakan secara merata oleh seluruh warga—bukan hanya segelintir tokoh masyarakat—pengelola menerapkan sistem yang terstruktur melalui peraturan desa (perdes).
Local hero Gang Rancage, Kang Altayani mengatakan, Perdes ini dirumuskan bersama antara Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kepala desa, serta masyarakat untuk mengatur mekanisme pembagian hasil dari paket wisata secara transparan dan adil.
Sistem ini memastikan bahwa setiap pihak yang terlibat, mulai dari pemilik kebun stroberi, penyedia homestay, pemuda desa sebagai pemandu wisata (tour guide), sampai para pelaku UMKM, memperoleh hak maupun porsi keuntungan secara jelas.
"Kalau kami menjualnya paket kunjungan. Makanya kalau kami tidak jual tiket gitu. Jadi, paket yang dijual itu tergantung kebutuhan pelancong. Kalau misalkan edukasi stroberi selama 2 hari, berarti butuh homestay ya. Lalu, dia tadi bagi hasil untuk desanya di di dalam Perdes itu," ucapnya.
Baca juga: Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Best Project Award diberikan kepada inisiatif sosial berdampak yang telah berjalan dan diangkat melalui film pendek, dengan penekanan pada dampak nyata serta kontribusi komunitas atau social enterprise dalam pemberdayaan masyarakat. Selain Best Project Award, kategori lain dalam festival adalah Best Micro Film Award.
Best Micro Film Award ditujukan bagi pembuat film yang mampu menyampaikan cerita kuat melalui kualitas artistik, visual kreatif, dan sinematografi. Untuk kategori Best Micro Film Award diraih Ruang ANTARA dan memBEKAS dengan hadiah total sebesar Rp75 juta.
Tahun ini, #InspiringIndonesia untuk pertama kalinya juga memperkenalkan Best AI Film Award, kategori bagi karya yang menggunakan AI untuk bercerita tentang isu sosial. Untuk kategori Best AI Film, Pulang karya Dika Karan terpilih sebagai pemenang dan memperoleh hadiah sebesar Rp30 juta. Sedangkan Nyanyian di Angkringan karya Tim Samudra turut mendapat penghargaan Honourable Mention.
Kategori ini hadir untuk membuka akses berkarya bagi lebih banyak orang, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan biaya, peralatan, atau keterampilan teknis. Lewat kategori ini, AI diposisikan sebagai alat untuk mendukung kreativitas manusia, dengan penilaian yang tetap berfokus pada storytelling, orisinalitas, eksekusi, dan dampak sosial.
Finalis berkesempatan melanjutkan perjalanan ke tingkat regional untuk memperebutkan kesempatan tampil di Grand Final Inspiring Asia di Manila, Filipina, serta memperebutkan modal regional hingga USD100.000 atau Rp1,76 miliar untuk Best Project, USD50.000 Rp880 juta untuk Best Micro Film, dan USD10.000 atau Rp176 juta untuk Best AI Film.
Director, Li Foundation, Candy Goh mengatakan, #InspiringIndonesia menghadirkan kisah autentik tentang ketangguhan komunitas serta bagaimana komunitas bisa saling mendukung, bertumbuh, dan bangkit bersama, terutama di tengah keterbatasan.
"#InspiringIndonesia 2026 bukan hanya tentang karya, tetapi juga tentang keterlibatan komunitas dan kekuatan storytelling dalam menciptakan perubahan. Karena pada akhirnya, setiap cerita yang dibagikan adalah bentuk empowerment. Kami berharap semakin banyak orang terus bercerita, menginspirasi, membangun koneksi, dan menciptakan perubahan positif,” ujar Candy.
Digagas oleh Li Foundation, Inspiring Asia merupakan sebuah inisiatif regional yang menggunakan storytelling untuk mengangkat isu sosial dan mempertemukan cerita, komunitas, serta gagasan dari berbagai negara di Asia, salah satunya di Indonesia lewat #inspiringIndonesia. Dalam penyelenggaraan #InspiringIndonesia, Li Foundation menggandeng kembali Djarum Foundation, Tanoto Foundation, dan Campaign for Good sebagai mitra strategis dalam menghadirkan dan mengembangkan rangkaian festival di Indonesia. Ini sekaligus memperluas jangkauan cerita dan dampak karya-karya yang dihasilkan.
Tahun ini, kompetisi ini menerima 127 entri dari 26 provinsi di Indonesia, yang kemudian disaring menjadi 21 semifinalis. Proses community vetting melibatkan 7.411 anggota komunitas, menjangkau 38 provinsi. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipasi publik tidak berhenti pada pemberian suara. Sebanyak 57,3 persen anggota komunitas menyatakan ingin mempelajari lebih lanjut isu yang diangkat setelah menonton film, sementara 65,2 persen menyatakan berniat membagikan film yang sudah mereka tonton kepada orang lain.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya