Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan

Kompas.com, 29 September 2026, 17:00 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah studi baru menemukan, kondisi terumbu karang di Bali terus menurun, meskipun berbagai upaya pemulihan telah dilakukan.

Sanur merupakan tempat awal berkembangnya pariwisata di Bali. Kota pesisir yang menghadap ke Selat Lombok ini mulai ramai dikunjungi seniman dan wisatawan sejak tahun 1920-an.

Hingga kini, perekonomian lokal Sanur masih sangat bergantung pada pendapatan dari wisatawan yang ingin menikmati pantai hangat serta keindahan kehidupan laut tropisnya.

Namun, melansir Eco Business, Jumat (25/9/2026) penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekosistem laut Sanur sedang tidak baik-baik saja. Terumbu karangnya terus mengalami kerusakan, meskipun telah dilakukan berbagai upaya pemulihan melalui penanaman bibit karang maupun pembuatan terumbu karang buatan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ocean & Coastal Management ini menemukan bahwa proyek pemulihan karang di Sanur sering kali dijalankan tanpa mengatasi penyebab utamanya terlebih dahulu, seperti penumpukan lumpur dan pembuangan limbah air.

Baca juga: Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam

"Masyarakat melihat dampak kerusakan langsung pada terumbu karang, sehingga mereka merasa mendesak untuk segera bertindak di lokasi tersebut. Namun pada kenyataannya dan dari segi efisiensi, tentu jauh lebih efektif untuk mengatasi akar masalah utamanya terlebih dahulu," kata Min Chung, penulis utama studi sekaligus mahasiswa magister di Universitas Tokyo.

Perbedaan cara pandang konservasi

Melalui analisis data kesehatan karang dan wawancara dengan 18 pemangku kepentingan yang memengaruhi pengelolaan karang di Sanur, Chung dan timnya menemukan adanya benturan kepentingan yang rumit antar-kelompok mulai dari instansi pemerintah, otoritas lokal, organisasi masyarakat, akademisi, nelayan, hingga pelaku industri pariwisata.

"Terdapat sudut pandang yang berbeda tentang cara melestarikan terumbu karang serta peran pariwisata di kawasan tersebut," ujar Chung.

Ia mencatat bahwa para pemangku kepentingan melihat terumbu karang secara berbeda-beda. Ada yang menganggapnya sebagai daya tarik wisata, tempat menangkap ikan, pelindung pantai, hingga penyimpan karbon biru.

Menurut studi tersebut, tumpang-tindih kewenangan ini mengakibatkan koordinasi yang buruk. Akibatnya terjadi pemborosan sumber daya, program kerja yang tumpang-tindih, serta solusi yang sering kali mandek akibat birokrasi yang lambat. Dengan kata lain, potensi kerja sama tim justru berubah menjadi kelumpuhan dalam pengambilan keputusan.

Sementara itu, kondisi terumbu karang di Sanur terus memburuk. Analisis ekologis dari studi tersebut menunjukkan bahwa karang lokal telah berada dalam kondisi rusak sedang hingga parah.

Wilayah yang dulunya dipenuhi terumbu karang bercabang kini telah berubah menjadi hamparan puing-puing yang ditumbuhi lumut. Area menyelam di dekat pantai bahkan mengalami kerusakan lebih parah dibandingkan area luar pantai yang jarang dikunjungi.

Baca juga: Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak

Keseimbangan pelestarian lingkungan dan wisata

Tantangan besar lainnya yang ditemukan dalam studi ini adalah mencari keseimbangan antara industri pariwisata dan upaya pelestarian lingkungan.

Di satu sisi, para narasumber menghubungkan pariwisata dengan dampak kerusakan karang yang nyata seperti perenang yang mematahkan karang, kapal wisata yang melempar jangkar di atas terumbu karang, hingga fasilitas wisata yang membuang limbah cair ke laut pesisir.

Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya di Bali yang menemukan hubungan antara lonjakan pariwisata dan penurunan ekosistem pesisir, di mana tutupan terumbu karang di pusat-pusat wisata merosot hingga 38 persen antara tahun 2010 dan 2023.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Pemerintah
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Pemerintah
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Pemerintah
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
LSM/Figur
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Pemerintah
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa 'Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit'
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa "Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit"
LSM/Figur
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Swasta
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Pemerintah
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
LSM/Figur
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Pemerintah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Pemerintah
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau