Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim

Kompas.com, 1 Oktober 2026, 21:00 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Pendekatan emosional sering kali digunakan untuk mendorong orang agar berperilaku ramah lingkungan. Namun, seberapa efektifkah cara ini dalam menciptakan perubahan yang benar-benar nyata?

Menurut sebuah penelitian baru yang menguji kesediaan peserta untuk menyumbangkan uang mereka, dampaknya mungkin tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya.

Melansir Phys, Senin (14/9/2026) penelitian ini mengamati bagaimana tiga emosi terkait iklim yakni rasa marah, empati, dan harapan dapat meningkatkan perilaku ramah lingkungan secara langsung. Para peserta kemudian diajak untuk mendonasikan imbalan keikutsertaan mereka kepada lembaga amal.

Hasilnya cukup mengejutkan para peneliti.

"Kami sudah tahu bahwa ketika orang merasa marah, mereka menjadi lebih termotivasi dan memiliki niat yang lebih kuat," terang Christian Klöckner, seorang profesor di Departemen Psikologi NTNU yang meneliti alasan di balik keputusan seseorang untuk bersikap ramah lingkungan atau tidak.

Baca juga: Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan

"Ketika orang merasa bersalah, mereka lebih mau menerima kebijakan-kebijakan iklim. Dan kita tahu bahwa orang-orang perlu memiliki harapan bahwa sesuatu bisa diperbaiki. Jika tidak, mereka tidak akan berbuat apa-apa," lanjutnya.

Namun dalam studi terbaru ini, kami ingin menguji apakah niat orang-orang tersebut benar-benar diwujudkan dalam tindakan.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports.

Rasa marah, empati, dan harapan

Kekuatan dari faktor-faktor pendorong ini sebenarnya sudah sering diuji dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Jika orang merasa marah, mereka cenderung ingin menuntut pihak yang merusak lingkungan. Jika mereka memiliki empati, mereka terdorong untuk membantu para korban. Dan jika mereka memiliki harapan, mereka jadi memiliki niat untuk bertindak.

Penelitian baru ini menyurvei lebih dari 2.000 orang di Norwegia dan Polandia. Semua peserta diberi uang dan diminta membaca beberapa cerita pendek yang dirancang untuk memicu berbagai emosi terkait iklim.

"Kami menggunakan cerita-cerita ini untuk mengetahui apakah para peserta berniat melakukan sesuatu, lalu memberi mereka kesempatan untuk menyumbangkan uang tersebut secara nyata," kata Klockner.

"Kami juga memberi mereka pilihan lain, yaitu mengerjakan tugas yang cukup membosankan untuk mencari pola dalam lembaran kertas. Sebagai imbalannya, kami sebagai penyelenggara akan berdonasi atas nama mereka. Semakin banyak yang mereka kerjakan, semakin besar donasi yang kami keluarkan," paparnya lagi.

Hasil yang di luar dugaan menunjukkan bahwa jumlah peserta yang mengubah perilakunya akibat dorongan emosi dari cerita tersebut sangatlah sedikit, bahkan hampir tidak ada dampaknya.

"Sangat sedikit. Hampir tidak ada orang yang menyumbang lebih banyak uang hanya karena emosi yang mereka rasakan dari cerita tersebut, jika dibandingkan dengan orang yang tidak membaca ceritanya sama sekali. Kami terkejut," aku Klöckner.

Klöckner dan tim penelitinya di Departemen Psikologi NTNU sebelumnya telah mengembangkan alat untuk mengukur emosi rumit yang dipicu oleh perubahan iklim. Gambaran emosional masyarakat ternyata lebih kompleks daripada sekadar kecemasan iklim biasa.

"Kami melihat pola pikir psikologis dalam proyek lain yang berkaitan dengan penghematan energi. Dalam satu studi besar untuk mengurangi konsumsi energi rumah tangga, kami menemukan bahwa tindakan yang kami lakukan benar-benar berhasil mengurangi penggunaan energi, meskipun hal itu tidak mengubah pola pikir psikologis orang-orang tersebut," jelas Klöckner.

Beberapa orang memang mengubah niat mereka karena informasi yang memicu emosi, tetapi orang-orang yang benar-benar melakukan perubahan positif secara nyata tidak selalu melakukannya karena alasan emosional yang sama.

Sudut pandang Organisasi Nirlaba

Organisasi nirlaba (LSM) dapat memperoleh manfaat besar dari penelitian ini. Kerja mereka sangat bergantung pada sumbangan dana dari para pendukung, sehingga memahami apa yang membuat orang mulai, berhenti, atau terus berdonasi menjadi sangat penting.

World Wildlife Fund (WWF) adalah lembaga yang menerima penyaluran donasi dalam penelitian ini. Denise Kohn, penasihat senior untuk kemitraan di WWF Norwegia, menjelaskan bahwa organisasinya memang secara sengaja menggunakan emosi rasa marah, empati, dan harapan dalam penggalangan dana, yang biasanya diikuti dengan ajakan untuk bertindak.

Baca juga: Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat

"Kami tahu bahwa para donatur bulanan kami mendukung kami rata-rata selama lima hingga enam tahun," kata Kohn.

"Semua penelitian baru yang dapat membantu kami memahami motivasi donatur dengan lebih baik selalu menarik bagi kami," tambahnya.

Faktor emosional yang terlibat dalam perubahan iklim memang sangat sulit dipahami, mengingat betapa besarnya masalah ini.

"Kami tidak pernah benar-benar sukses dalam penggalangan dana jika hanya mengusung isu iklim saja. Isu kelestarian alam merupakan pintu masuk yang jauh lebih kuat. Selain itu, situasi politik dan geopolitik saat ini membuat isu-isu lain sering kali lebih menyita perhatian publik," jelas Kohn.

Lebih lanjut, penelitian ini membuktikan bahwa rasa marah, empati, dan harapan memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman masyarakat tentang perubahan iklim. Namun, emosi-emosi itu saja tidak cukup untuk menghasilkan perubahan nyata yang dapat diukur.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Rasa Empati dan Marah Ternyata Tak Mampu Tingkatkan Donasi untuk Iklim
Pemerintah
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Lautan Dunia Serap Rekor Panas, Setara 40 Kali Penggunaan Energi Global Tahunan
Pemerintah
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Kapan Gletser Dunia Lenyap? Situs Baru Ini Petakan Perkiraannya
Pemerintah
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
RUU Ketenagakerjaan Perluas Sanksi Pidana, Pengawasan Masih Jadi Tantangan
LSM/Figur
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Pemerintah
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa 'Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit'
Paradoks Investasi Lahan di Balik Frasa "Habis Kebakaran, Terbitlah Sawit"
LSM/Figur
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Kisah Warga Desa Bogor Rawat Lingkungan Raih Penghargaan Asia
Swasta
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Bappenas: Susut dan Sisa Pangan Bukan Sekadar Masalah Sampah
Pemerintah
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
BRWA Soroti Potensi Tumpang Tindih Areal Preservasi dengan Wilayah Adat
LSM/Figur
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Dunia Mulai Beradaptasi dengan Panas Ekstrem, Namun Masih Sangat Lambat
Pemerintah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Burung Migrasi Dalam Bahaya, 1 dari 9 Spesies Terancam Punah
Pemerintah
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau