KOMPAS.com - Pendekatan emosional sering kali digunakan untuk mendorong orang agar berperilaku ramah lingkungan. Namun, seberapa efektifkah cara ini dalam menciptakan perubahan yang benar-benar nyata?
Menurut sebuah penelitian baru yang menguji kesediaan peserta untuk menyumbangkan uang mereka, dampaknya mungkin tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya.
Melansir Phys, Senin (14/9/2026) penelitian ini mengamati bagaimana tiga emosi terkait iklim yakni rasa marah, empati, dan harapan dapat meningkatkan perilaku ramah lingkungan secara langsung. Para peserta kemudian diajak untuk mendonasikan imbalan keikutsertaan mereka kepada lembaga amal.
Hasilnya cukup mengejutkan para peneliti.
"Kami sudah tahu bahwa ketika orang merasa marah, mereka menjadi lebih termotivasi dan memiliki niat yang lebih kuat," terang Christian Klöckner, seorang profesor di Departemen Psikologi NTNU yang meneliti alasan di balik keputusan seseorang untuk bersikap ramah lingkungan atau tidak.
Baca juga: Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
"Ketika orang merasa bersalah, mereka lebih mau menerima kebijakan-kebijakan iklim. Dan kita tahu bahwa orang-orang perlu memiliki harapan bahwa sesuatu bisa diperbaiki. Jika tidak, mereka tidak akan berbuat apa-apa," lanjutnya.
Namun dalam studi terbaru ini, kami ingin menguji apakah niat orang-orang tersebut benar-benar diwujudkan dalam tindakan.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports.
Kekuatan dari faktor-faktor pendorong ini sebenarnya sudah sering diuji dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Jika orang merasa marah, mereka cenderung ingin menuntut pihak yang merusak lingkungan. Jika mereka memiliki empati, mereka terdorong untuk membantu para korban. Dan jika mereka memiliki harapan, mereka jadi memiliki niat untuk bertindak.
Penelitian baru ini menyurvei lebih dari 2.000 orang di Norwegia dan Polandia. Semua peserta diberi uang dan diminta membaca beberapa cerita pendek yang dirancang untuk memicu berbagai emosi terkait iklim.
"Kami menggunakan cerita-cerita ini untuk mengetahui apakah para peserta berniat melakukan sesuatu, lalu memberi mereka kesempatan untuk menyumbangkan uang tersebut secara nyata," kata Klockner.
"Kami juga memberi mereka pilihan lain, yaitu mengerjakan tugas yang cukup membosankan untuk mencari pola dalam lembaran kertas. Sebagai imbalannya, kami sebagai penyelenggara akan berdonasi atas nama mereka. Semakin banyak yang mereka kerjakan, semakin besar donasi yang kami keluarkan," paparnya lagi.
Hasil yang di luar dugaan menunjukkan bahwa jumlah peserta yang mengubah perilakunya akibat dorongan emosi dari cerita tersebut sangatlah sedikit, bahkan hampir tidak ada dampaknya.
"Sangat sedikit. Hampir tidak ada orang yang menyumbang lebih banyak uang hanya karena emosi yang mereka rasakan dari cerita tersebut, jika dibandingkan dengan orang yang tidak membaca ceritanya sama sekali. Kami terkejut," aku Klöckner.
Klöckner dan tim penelitinya di Departemen Psikologi NTNU sebelumnya telah mengembangkan alat untuk mengukur emosi rumit yang dipicu oleh perubahan iklim. Gambaran emosional masyarakat ternyata lebih kompleks daripada sekadar kecemasan iklim biasa.
"Kami melihat pola pikir psikologis dalam proyek lain yang berkaitan dengan penghematan energi. Dalam satu studi besar untuk mengurangi konsumsi energi rumah tangga, kami menemukan bahwa tindakan yang kami lakukan benar-benar berhasil mengurangi penggunaan energi, meskipun hal itu tidak mengubah pola pikir psikologis orang-orang tersebut," jelas Klöckner.
Beberapa orang memang mengubah niat mereka karena informasi yang memicu emosi, tetapi orang-orang yang benar-benar melakukan perubahan positif secara nyata tidak selalu melakukannya karena alasan emosional yang sama.
Organisasi nirlaba (LSM) dapat memperoleh manfaat besar dari penelitian ini. Kerja mereka sangat bergantung pada sumbangan dana dari para pendukung, sehingga memahami apa yang membuat orang mulai, berhenti, atau terus berdonasi menjadi sangat penting.
World Wildlife Fund (WWF) adalah lembaga yang menerima penyaluran donasi dalam penelitian ini. Denise Kohn, penasihat senior untuk kemitraan di WWF Norwegia, menjelaskan bahwa organisasinya memang secara sengaja menggunakan emosi rasa marah, empati, dan harapan dalam penggalangan dana, yang biasanya diikuti dengan ajakan untuk bertindak.
Baca juga: Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat
"Kami tahu bahwa para donatur bulanan kami mendukung kami rata-rata selama lima hingga enam tahun," kata Kohn.
"Semua penelitian baru yang dapat membantu kami memahami motivasi donatur dengan lebih baik selalu menarik bagi kami," tambahnya.
Faktor emosional yang terlibat dalam perubahan iklim memang sangat sulit dipahami, mengingat betapa besarnya masalah ini.
"Kami tidak pernah benar-benar sukses dalam penggalangan dana jika hanya mengusung isu iklim saja. Isu kelestarian alam merupakan pintu masuk yang jauh lebih kuat. Selain itu, situasi politik dan geopolitik saat ini membuat isu-isu lain sering kali lebih menyita perhatian publik," jelas Kohn.
Lebih lanjut, penelitian ini membuktikan bahwa rasa marah, empati, dan harapan memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman masyarakat tentang perubahan iklim. Namun, emosi-emosi itu saja tidak cukup untuk menghasilkan perubahan nyata yang dapat diukur.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya