Penulis
KOMPAS.com – Tantangan literasi pelajar Indonesia masih membutuhkan perhatian bersama. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan skor membaca siswa Indonesia berada pada 365 poin, di bawah rata-rata OECD sebesar 461 poin.
Meski meningkat dibandingkan PISA 2022, perubahan tersebut belum signifikan secara statistik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak cukup hanya melalui kemampuan membaca. Siswa juga perlu didorong mengolah informasi, menyusun pemikiran, serta mengomunikasikan gagasan secara terstruktur.
Dalam lanskap pendidikan modern, membaca sejatinya barulah separuh dari ekosistem pemikiran.
Kemampuan menyerap informasi harus diimbangi secara presisi dengan kemampuan mengolah, mengartikulasi, dan mengekspresikan gagasan secara kritis, sebuah kecakapan yang diasah secara mandiri dan mendalam melalui proses menulis.
Menulis bukan sekadar aktivitas mekanis memindahkan kata ke atas kertas atau layar monitor, melainkan sebuah proses kognitif kompleks. Ketika siswa menulis, ia diajak mengorganisasi alur berpikir, menguji kebenaran argumentasi, serta membangun penalaran terstruktur.
Di tengah gempuran arus informasi digital serba cepat dan instan, kebiasaan menulis khususnya menulis dengan tangan menjadi ruang kontemplasi yang melatih fokus, ketelitian, serta daya kritis generasi muda.
Tanpa kemampuan menulis terasah, tingkat literasi siswa akan stagnan pada tahap pemahaman pasif tanpa mampu menghasilkan gagasan baru berdampak.
Kesadaran pentingnya memperkuat fondasi literasi aktif inilah yang melatarbelakangi berbagai inisiatif kolaboratif untuk menghidupkan kembali budaya menulis di kalangan pelajar Indonesia.
Menjawab tantangan tersebut, kolaborasi Cahaya Inspirasi Anak (CIA) dan SiDU terus memperkuat gerakan Ayo Menulis melalui pendekatan yang melibatkan siswa, guru, sekolah, keluarga, pemerintah, komunitas pendidikan, serta dukungan riset.
Dalam "CIA Festival 2026" yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Jakarta, kolaborasi ini menghadirkan rangkaian kegiatan literasi, antara lain Workshop Menulis Opini Bersama Clara Ng, sosialisasi Modul Menulis Opini untuk guru dan penyerahan donasi buku tulis untuk daerah tertinggal.
“Menulis bukan sekadar kegiatan di ruang kelas. Melalui menulis, anak belajar mengolah informasi, menyusun pemikiran, sekaligus menyampaikan gagasan dengan lebih terstruktur dan percaya diri.
"Kami melihat penguatan budaya menulis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan kemampuan literasi dan kualitas pembelajaran anak Indonesia,” ujar Head of Marketing Domestic Stationery APP Group, Arif Darmawan.
Melalui Gerakan Ayo Menulis, SiDU ingin turut mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas literasi dan pendidikan generasi muda Indonesia melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, komunitas, dan sektor swasta.
Salah satu pendekatan tersebut dilakukan melalui riset kolaboratif Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya, SiDU, dan CIA mengenai pengaruh aktivitas menulis di atas kertas terhadap kemampuan literasi siswa sekolah dasar.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya