Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring

Kompas.com, 5 Oktober 2026, 15:56 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI 2026 mendapatkan pengalaman belajar mengenai ekoteologi melalui kunjungan edukatif ke kawasan Ekowisata Boon Pring, Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (4/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran lingkungan yang mengajak santri memahami hubungan antara nilai keagamaan, kelestarian alam, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Di Boon Pring, para peserta diperkenalkan dengan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat sekaligus pemanfaatan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

Santri diajak melihat secara langsung bagaimana potensi air dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem di sekitarnya.

Baca juga: ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan

Kepala Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Subur, yang turut mengembangkan ekowisata tersebut menjelaskan, bambu menjadi salah satu potensi alam yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat.

Selain membantu menjaga keseimbangan lingkungan dan memperkuat struktur tanah, bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kerajinan, perlengkapan rumah tangga, serta berbagai produk bernilai ekonomi.

“Bambu ini manfaatnya sangat banyak. Oleh karena itu, bambu perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Subur dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (5/10/2026).

Menurut dia, keberadaan bambu di kawasan Boon Pring juga memiliki nilai ekologis penting. Tanaman tersebut membantu menjaga ketersediaan air serta mendukung keberlangsungan ekosistem di kawasan tersebut.

Baca juga: Pemimpin Dunia Dorong Peningkatan Energi Terbarukan 3 Kali Lipat pada 2030

Pengelolaan bambu yang dilakukan secara baik, lanjutnya, dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Ia berharap, kunjungan peserta PPSN VI 2026 dapat memberikan pengalaman mengenai pentingnya menjaga potensi alam yang ada di sekitar masyarakat.

Menutur Subur, pembelajaran secara langsung dinilai penting agar generasi muda tidak hanya memahami manfaat lingkungan secara teori, tetapi juga mengetahui bagaimana sumber daya alam dapat dirawat dan dimanfaatkan secara bijak.

“Semoga para santri bisa melihat bahwa menjaga lingkungan itu memberikan banyak manfaat. Bambu yang kita rawat hari ini bisa menjadi sumber kehidupan, sumber ekonomi, sekaligus menjaga lingkungan untuk generasi berikutnya. Tidak lupa juga disampaikan dan dilihat potensi serupa yang bisa dikembangkan di daerah asal masing-masing,” katanya.

Ekoteologi, dari nilai agama ke aksi nyata

Pembelajaran di Boon Pring tidak hanya diarahkan pada aspek teknis pemanfaatan energi, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.

Baca juga: UNICEF Puji Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi Kemenag

Santri dapat melihat secara langsung bahwa sumber daya alam yang dikelola secara bijak mampu memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengabaikan keberlangsungan lingkungan.

Konsep tersebut sejalan dengan tema ekoteologi yang menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian PPSN VI 2026. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memakmurkan bumi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau