KOMPAS.com - Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI 2026 mendapatkan pengalaman belajar mengenai ekoteologi melalui kunjungan edukatif ke kawasan Ekowisata Boon Pring, Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (4/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran lingkungan yang mengajak santri memahami hubungan antara nilai keagamaan, kelestarian alam, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Di Boon Pring, para peserta diperkenalkan dengan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat sekaligus pemanfaatan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).
Santri diajak melihat secara langsung bagaimana potensi air dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem di sekitarnya.
Baca juga: ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Kepala Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Subur, yang turut mengembangkan ekowisata tersebut menjelaskan, bambu menjadi salah satu potensi alam yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat.
Selain membantu menjaga keseimbangan lingkungan dan memperkuat struktur tanah, bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kerajinan, perlengkapan rumah tangga, serta berbagai produk bernilai ekonomi.
“Bambu ini manfaatnya sangat banyak. Oleh karena itu, bambu perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Subur dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (5/10/2026).
Menurut dia, keberadaan bambu di kawasan Boon Pring juga memiliki nilai ekologis penting. Tanaman tersebut membantu menjaga ketersediaan air serta mendukung keberlangsungan ekosistem di kawasan tersebut.
Baca juga: Pemimpin Dunia Dorong Peningkatan Energi Terbarukan 3 Kali Lipat pada 2030
Pengelolaan bambu yang dilakukan secara baik, lanjutnya, dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Ia berharap, kunjungan peserta PPSN VI 2026 dapat memberikan pengalaman mengenai pentingnya menjaga potensi alam yang ada di sekitar masyarakat.
Menutur Subur, pembelajaran secara langsung dinilai penting agar generasi muda tidak hanya memahami manfaat lingkungan secara teori, tetapi juga mengetahui bagaimana sumber daya alam dapat dirawat dan dimanfaatkan secara bijak.
“Semoga para santri bisa melihat bahwa menjaga lingkungan itu memberikan banyak manfaat. Bambu yang kita rawat hari ini bisa menjadi sumber kehidupan, sumber ekonomi, sekaligus menjaga lingkungan untuk generasi berikutnya. Tidak lupa juga disampaikan dan dilihat potensi serupa yang bisa dikembangkan di daerah asal masing-masing,” katanya.
Pembelajaran di Boon Pring tidak hanya diarahkan pada aspek teknis pemanfaatan energi, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam.
Baca juga: UNICEF Puji Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi Kemenag
Santri dapat melihat secara langsung bahwa sumber daya alam yang dikelola secara bijak mampu memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengabaikan keberlangsungan lingkungan.
Konsep tersebut sejalan dengan tema ekoteologi yang menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian PPSN VI 2026. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memakmurkan bumi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya