“Pengembangan bioetanol membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Keberhasilannya terletak pada detail. Karena itu, aspek on-farm maupun pengolahan perlu dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan baik," ucapnya.
FGD yang menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama antara Agrinas Palma dan Pertamina ini menempatkan kemitraan masyarakat sebagai bagian penting dalam desain pengembangan. Skema kemitraan sekitar 10–20 persen dari produksi dibahas sebagai salah satu opsi, termasuk kemungkinan integrasi dengan peternakan dan penyediaan hijauan pakan.
Dengan kebutuhan bioetanol yang diproyeksikan sekitar 7 juta kiloliter untuk mendukung implementasi E20 atau pencampuran 20 persen bioetanol ke bensin, maka seluruh fondasi proyek harus dapat dibuktikan secara ilmiah dan ekonomis. Jadi, bukan sekadar langkah memperbesar kapasitas. Bagi Agrinas Palma, transisi energi tidak hanya berbicara tentang energi, melainkan juga tentang petani, lahan, teknologi, industri, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Pertamina telah mengembangkan proyek percontohan (pilot project) bahan bakar nabati yang dihasilkan dari fermentasi biomassa sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga saat ini, bioetanol yang diproduksi Pertamina masih memakai bahan baku berbasis molase atau tetes tebu. Pertamina sedang melakukan kajian untuk diversifikasi bahan baku selain dari tebu. Pertamina menganggap aren dan sorgum sudah memenuhi spesifikasi untuk menjadi bahan bakar nabati untuk dicampur ke bensin.
"Saat ini, kami bergerak ke (arah) bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar eksisting," ujar Manager Sustainability Rating & Disclosure PT Pertamina (Persero), Hendrick Warman dalam webinar Our Power; Our Planet, Jumat (24/4/2026).
Bioetanol dari molase tebu dan sorgum yang dicampurkan ke bensin bisa meningkatkan kualitas bahan bakar. Bioetanol yang dicampurkan ke Pertamax akan membuat nilai research octane number (RON)-nya semakin tinggi dan mengurangi jejak karbonnya.
Pertamina mencampurkan 5 persen bioetanol ke dalam bensin yang terimplementasi melalui produk Pertamax Green 95. "95 berarti RON-nya adalah 95, di atas Pertamax, di bawah Pertamax Turbo yang 98. Campurannya 5 persen bioetanol dan saat ini baru dijual di DKI Jakarta dan di Surabaya," tutur Hendrick.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya