Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru

Kompas.com, 5 Oktober 2026, 17:41 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mengubah proses belajar-mengajar sekaligus menuntut perubahan peran dan kompetensi guru.

Dalam laporan AI Competency Framework for Teachers, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyebut AI memiliki potensi menghadirkan bentuk baru dalam pengajaran, pembelajaran, dan manajemen pendidikan.

AI dapat memproses informasi dalam jumlah besar, menghasilkan berbagai bentuk konten, mengidentifikasi pola dari beragam data, serta mendukung pengambilan keputusan melalui analisis prediktif.

Namun, UNESCO mengingatkan penggunaan AI di pendidikan juga membawa sejumlah risiko, mulai dari persoalan privasi data, diskriminasi, ketimpangan, hingga berkurangnya otonomi manusia.

Baca juga: Ketika AI Haus Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur

Dalam proses belajar-mengajar, penggunaan AI yang tidak tepat bahkan dapat membuat pendidikan terlalu berorientasi pada tugas yang dapat dihitung dan diotomatisasi.

"Hal ini dapat mendegradasi peran dan pengaruh guru serta melemahkan hubungan mereka dengan peserta didik. AI juga berisiko menyempitkan cakupan pendidikan hanya pada hal-hal yang dapat diproses, dimodelkan, dan disampaikan oleh teknologi tersebut," demikian laporan UNESCO, dikutip Senin (5/10/2026).

Guru dituntut punya kompetensi AI

UNESCO menilai penggunaan AI di pendidikan perlu diikuti perubahan dalam cara melihat peran guru.

Guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu berperan sebagai perancang dan fasilitator pembelajaran yang melibatkan AI, penjaga praktik penggunaan AI yang aman dan etis, sekaligus teladan dalam pembelajaran AI sepanjang hayat.

Karena itu, otoritas pendidikan nasional perlu meninjau dan mendefinisikan kembali peran serta kompetensi guru seiring meningkatnya penggunaan AI dalam pendidikan.

Penguatan lembaga pelatihan guru dan program pengembangan kapasitas juga diperlukan agar guru mampu menggunakan AI secara efektif sekaligus memahami risikonya.

UNESCO mencatat, berdasarkan survei 2023, baru tujuh negara yang telah mengembangkan kerangka kerja atau program AI untuk guru pada 2022.

Kondisi tersebut antara lain disebabkan masih terbatasnya pengetahuan mengenai cara mendefinisikan peran dan kompetensi guru di tengah meningkatnya interaksi manusia dengan AI dalam praktik pendidikan.

UNESCO susun 15 kompetensi AI

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, UNESCO mengembangkan kerangka kompetensi AI untuk guru yang berorientasi pada manusia.

Kerangka tersebut mencakup 15 kompetensi dalam lima dimensi, yakni:

1. pola pikir yang berpusat pada manusia;
2. etika AI;
3. dasar-dasar dan aplikasi AI;
4. pedagogi AI; dan
5. AI untuk pembelajaran profesional.

Kelima dimensi tersebut kemudian dibagi dalam tiga tingkat perkembangan kompetensi, yaitu mendapatkan (acquire), memperdalam (deepen), dan membuat (create).

Kerangka tersebut dapat digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan kerangka kompetensi AI di tingkat nasional, menyusun program pelatihan guru, serta merancang parameter penilaian kompetensi.

UNESCO menekankan bahwa meskipun AI dapat membantu guru dalam kegiatan pengajaran dan pengelolaan pembelajaran, interaksi antara guru dan siswa serta pengembangan potensi manusia tetap harus menjadi inti pendidikan.

"Guru tidak boleh dan tidak dapat digantikan oleh teknologi; sangatlah penting untuk melindungi hak-hak guru dan memastikan kondisi kerja yang memadai bagi mereka seiring dengan meningkatnya penggunaan AI dalam sistem pendidikan, di tempat kerja, dan di masyarakat luas," demikian laporan tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau