Dengan cara ini, limbah penyembelihan tidak langsung dialirkan ke sungai atau selokan.
Konsep ramah lingkungan juga diterapkan pada penggunaan energi dan air di masjid.
Lampu bertenaga surya dipasang di empat hingga lima titik penerangan. Pengurus juga membangun sistem penampungan air hujan yang dialirkan ke tandon bawah tanah berkapasitas sekitar lima meter kubik.
Air bekas wudu jamaah juga ditampung dan diproses melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Setelah melalui proses penyaringan, air tersebut dimanfaatkan kembali untuk menyiram pepohonan di halaman masjid.
Untuk memantau kondisi air di tandon, pengurus bahkan memelihara ikan lele sebagai bioindikator.
"Kita mau masjid ini juga jadi *green building*. Ke depannya kita mau tanami sayur-sayur di polibag-polibag itu. Kami tanami itu sambil merangkul anak-anak remaja masjid," ujar Ilyas.
Pengurus kawasan tersebut juga berencana mengembangkan sistem IPAL masjid dalam skala komunal untuk permukiman. Salah satu yang dipertimbangkan adalah penambahan penyaring khusus untuk menangkap minyak dan lemak.
Tidak semua persoalan sampah telah teratasi. Kapasitas tempat penampungan Bank Sampah yang terbatas membuat warga menyimpan sampah anorganik, seperti kardus dan botol plastik, di rumah masing-masing.
Pengumpulan dilakukan secara bersama-sama pada setiap tanggal 10 berdasarkan kesepakatan antarwarga.
Sebagian sampah anorganik terpilah juga diberikan kepada petugas gerobak yang mengangkut residu menuju tempat penampungan sementara (TPS).
Warga bahkan telah memisahkan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) rumah tangga, seperti baterai, lampu bekas, dan peralatan elektronik yang rusak. Pengurus Balai RW menyediakan wadah khusus agar sampah tersebut tidak bercampur dengan jenis sampah lainnya.
Baca juga: eMaggot, Platform Jual Beli Online Maggot untuk Pengolahan Sampah
Namun, persoalan lain masih tersisa, salah satunya popok sekali pakai.
"Itu yang paling susah popok. Pengelolaannya bagaimana caranya? Pengumpulannya juga susah," kata Ilyas.
Karena itu, perjalanan kawasan tersebut menjadi kampung ramah lingkungan masih berlangsung.
Warga tidak hanya mencoba mengurangi sampah yang berakhir di TPS, tetapi juga membangun kebiasaan agar sampah dan air yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari dapat kembali dimanfaatkan.
Dari komposter di halaman rumah, maggot di Balai RW, lele di kolam, tanaman di pekarangan, hingga biopori di lingkungan masjid, upaya tersebut perlahan membentuk satu siklus pengelolaan lingkungan berbasis warga.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Wahana Visi Indonesia (WVI), turut membantu warga mengembangkan berbagai praktik tersebut. Namun, fondasi utamanya tetap berada pada kebiasaan warga yang dilakukan setiap hari di lingkungan tempat mereka tinggal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya