KOMPAS.com – Sampah pascakonsumsi masih menjadi persoalan lingkungan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk produsen, pemerintah, dan masyarakat.
Data Kementerian Lingkungan Hidup (LH) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan, sampah plastik menyumbang sekitar 20,14 persen dan sampah kertas sekitar 10,37 persen dari timbulan sampah yang tercatat pada 2025.
Dengan total timbulan sekitar 33,19 juta ton per tahun, kedua jenis material tersebut memiliki porsi yang cukup besar dalam komposisi sampah.
Angka tersebut memang tidak dapat serta-merta diartikan seluruhnya sebagai sampah pascakonsumsi atau sampah kemasan. Namun, plastik dan kertas merupakan material yang banyak digunakan dalam berbagai jenis kemasan produk yang berpotensi menjadi sampah setelah produk digunakan.
Data resmi Aplikasi Kinerja Produsen dalam Pengurangan Sampah (AKPDPS) juga menunjukkan besarnya material yang perlu dikelola dari aktivitas produsen.
Pada 2025, sebanyak 37 perusahaan manufaktur yang melaporkan data melalui AKPDPS mencatat timbulan sampah mencapai 627.426 ton. Dari jumlah tersebut, sampah plastik menjadi komponen terbesar dengan 372.707,57 ton, disusul sampah kertas sebanyak 228.419,85 ton.
Pemerintah sendiri telah menerapkan pendekatan Extended Producer Responsibility (EPR) untuk mendorong keterlibatan produsen dalam mengurangi dan menangani sampah yang berasal dari produk dan kemasannya setelah digunakan.
Ketentuan tersebut antara lain tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
Salah satu perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) yang telah menyerahkan dokumen Peta Jalan Pengurangan Sampah kepada pemerintah adalah Unilever Indonesia.
Perusahaan itu menyerahkan dokumen tersebut sejak 2021 sebagai bagian dari upaya menangani sampah pascakonsumsi melalui pendekatan dari hulu hingga hilir.
Dikutip dari laman resmi Unilever Indonesia, pada sisi hulu, perusahaan berfokus pada penerapan prinsip ekonomi sirkular melalui inovasi kemasan, antara lain dengan mengurangi penggunaan plastik dan mengembangkan kemasan yang dapat didaur ulang.
Upaya tersebut kemudian dilengkapi dengan pengumpulan dan pemilahan sampah. Sementara pada sisi hilir, perusahaan mendorong pemanfaatan material yang telah digunakan agar dapat kembali masuk ke dalam rantai nilai sesuai dengan jalur pengelolaan yang tersedia.
Director of Communications, Corporate Affairs and Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus saat menyampaikan pandangan mengenai inovasi kemasan dalam ekonomi sirkular.Dalam sesi “Circular Packaging Economy for Indonesia” pada International Sustainability Forum 2026 yang digelar di Hotel Indonesia Kempinski, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026), Director of Communications, Corporate Affairs and Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus, menjelaskan pendekatan perusahaan dalam mengembangkan kemasan sebagai bagian dari upaya menuju ekonomi sirkular.
Ia mengatakan, kemasan perlu dirancang berdasarkan kebutuhan konsumen dan karakteristik produk.
Pertimbangan tersebut mencakup fungsi kemasan dalam melindungi produk, menjaga kualitas dan keamanan, serta memastikan produk tetap terjangkau bagi konsumen.
“Kemasan produk harus memiliki berbagai fungsi penting, mulai dari melindungi produk, menjaga kualitas dan keamanan, hingga memastikan produk tetap terjangkau bagi konsumen. Di Indonesia, solusi kemasan juga harus mampu menghadapi tantangan iklim tropis dan distribusi antarpulau yang kompleks,” ujar Nurdiana di Hotel Indonesia Kempinski, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).
Nurdiana menjelaskan, inovasi kemasan dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fungsi dari sistem kemasan yang sudah ada. Langkah tersebut mencakup pengurangan penggunaan material, pengembangan teknologi pelapis dan barrier, pembuatan kemasan yang lebih ringan, serta peningkatan penggunaan material daur ulang.
“Dalam praktiknya, inovasi kemasan tidak selalu berarti mengganti seluruh material kemasan. Sering kali, dampak terbesar justru dihasilkan melalui optimalisasi fungsi dalam sistem kemasan yang sudah ada dengan tetap menjaga keamanan, kualitas, performa, kenyamanan, dan keterjangkauan yang diharapkan konsumen,” paparnya.
Nurdiana menambahkan, solusi kemasan perlu mempertimbangkan pengelolaan setelah produk digunakan. Kemasan harus mampu menjalankan fungsinya sepanjang siklus hidup serta memiliki jalur pengumpulan dan pengolahan kembali setelah digunakan.
“Oleh karena itu, inovasi kemasan perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem pengelolaan sampah agar dapat memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan,” tuturnya.
Unilever sendiri mengeksplorasi penggunaan material alternatif, termasuk kemasan berbasis kertas (paper-based). Berbagai uji coba dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan kemasan dalam menjaga keamanan, kualitas, performa, kenyamanan, dan keterjangkauan produk, serta ketersediaan jalur pengelolaan setelah digunakan.
Sebagai informasi, di Unilever pengembangan produk diarahkan untuk menghasilkan produk berkualitas dengan tetap mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial.
Upaya tersebut mencakup pengurangan penggunaan plastik primer, peningkatan penggunaan plastik daur ulang dalam kemasan, serta pengembangan kemasan yang dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau dikomposkan.
Unilever juga mendukung pengumpulan dan pengolahan lebih banyak kemasan plastik jika dibandingkan jumlah plastik yang digunakan.
Salah satu contohnya adalah desain ulang kemasan Molto yang memungkinkan perusahaan mengurangi penggunaan plastik sebanyak 96 ton dengan tetap mempertahankan kualitas dan fungsi produk.
Selain inovasi produk, Unilever Indonesia juga terus mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis bank sampah.
Hingga 2025, Unilever Indonesia telah mendukung lebih dari 5.000 bank sampah di 50 kota dan kabupaten yang tersebar di 11 provinsi di Indonesia.
Untuk meningkatkan akses masyarakat, lebih dari 1.000 lokasi bank sampah juga telah terdaftar dan dapat ditemukan melalui Google My Business, Google Maps, serta sejumlah platform Google lain.
Unilever Indonesia juga telah membangun dan mendukung lebih dari 2.900 stasiun refill yang berada di bank sampah mitra dan sejumlah lokasi strategis.
Stasiun refill tersebut dikelola melalui kolaborasi dengan jaringan organisasi dan sociopreneur di wilayah Jabodetabek dan Surabaya. Kehadiran fasilitas ini ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pilihan konsumsi yang lebih berkelanjutan serta mendukung pengurangan penggunaan kemasan sekali pakai.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya