KOMPAS.com – Laut dan pantai menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Di balik kawasan wisata Pantai Rengge dengan pasir putihnya, warga menghadapi persoalan abrasi yang mengikis daratan serta pendapatan dari sektor pariwisata yang tidak selalu menentu.
Garis pantai di wilayah tersebut disebut tergerus hingga sembilan meter akibat abrasi. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk memperkuat perlindungan pesisir sekaligus menjaga ruang hidup dan potensi wisata di pulau kecil tersebut.
Warga lokal bersama SeaBank Indonesia dan Yayasan Pandu Laut Nusantara kemudian melakukan penanaman 1.000 bibit mangrove jenis Rhizophora stylosa, Sabtu (3/10/2026). Penanaman mangrove tersebut ditujukan untuk membantu memperkuat benteng alami pesisir.
Kegiatan tersebut juga disertai dengan pembersihan sampah plastik di sepanjang pantai. Upaya ini melanjutkan kegiatan penghijauan yang telah dilakukan SeaBank sejak Agustus 2022.
Persoalan yang dihadapi masyarakat Pulau Pari juga berkaitan dengan ketahanan finansial. Perempuan di pulau tersebut menjalankan berbagai peran, mulai dari mengurus rumah tangga hingga mengelola usaha seperti homestay, kuliner, dan penyewaan perahu.
Dalam menjalankan usaha, pencatatan keuangan masih menjadi tantangan bagi sebagian warga. Keuangan usaha dan kebutuhan rumah tangga kerap tercampur sehingga pemasukan dan pengeluaran sulit dipantau.
Melalui pelatihan literasi keuangan bertema “Women of the Sea: The Blue Economy Development”, puluhan ibu di Pulau Pari diajak memahami pengelolaan keuangan usaha dan penyusunan anggaran kebutuhan rumah tangga.
Salah satu peserta Asmaniah mengatakan, pelatihan tersebut memberinya wawasan mengenai pentingnya mencatat pemasukan dan pengeluaran untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Pelatihan ?Women of the Sea: The Blue Economy Development? membekali warga Pulau Pari dengan pemahaman mengenai pencatatan pemasukan dan pengeluaran."Sangat senang karena ibu-ibu di sini jadi punya kesempatan untuk belajar mengelola keuangan. Selama ini kalau dapat uang hasil sewa atau jualan, tidak pernah dirinci buat apa saja, tahu-tahu habis. Sekarang kami jadi lebih paham cara mencatat pendapatan dan pengeluaran," tutur Asmaniah.
Hal serupa disampaikan warga Pulau Pari Deli yang menggantungkan penghasilan dari sektor jasa wisata. Menurutnya, literasi keuangan dapat membantu ibu-ibu lebih disiplin mengatur kebutuhan rumah tangga sekaligus mengembangkan usaha.
“Kami berterima kasih pasa SeaBank karena jadi tahu cara mengelola keuangan. Semoga adanya pelatihan ini insyaallah akan saya terapkan untuk mengetahui pengeluaran yang dibutuhkan maupun yang tidak dibutuhkan,” tutur Deli.
Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan diharapkan dapat membantu warga mengatur sumber daya yang dimiliki dan mengembangkan usaha. Perempuan yang menjalankan usaha juga memiliki peran dalam mendukung perekonomian keluarga dan masyarakat.
Direktur Keuangan SeaBank Indonesia Lindawati Oktaviani mengatakan, literasi keuangan tidak sekadar mengenai uang, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengelola kehidupan dengan lebih baik.
Ia menilai, ibu-ibu di Pulau Pari memiliki kreativitas dan inisiatif untuk menghasilkan pendapatan bagi keluarga.
“Mereka punya tenaga untuk bekerja, bangun pagi, mengurus anak, mengurus usaha, hingga menyiapkan makanan. Mereka nggak cuma jadi tulang rusuk, tapi tulang punggung, dan menggerakkan perekonomian Indonesia tentunya,” ujar Lindawati.
Selain abrasi dan tantangan pengelolaan keuangan, masyarakat di pulau kecil juga menghadapi keterbatasan lahan untuk bercocok tanam serta pasokan bahan pangan segar.
Ketergantungan terhadap pasokan sayuran dari daratan dapat membuat harga kebutuhan pangan menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki alternatif untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan dari lingkungan sekitar.
SeaBank memberikan pemahaman dasar mengenai teknologi akuaponik sederhana yang dapat digunakan untuk bercocok tanam dengan penggunaan air dan lahan yang lebih efisien.
Teknologi tersebut diharapkan dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat sekaligus membuka peluang usaha mikro berbasis rumah tangga yang berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya