JAKARTA, KOMPAS.com - Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan digitalisasi membuka peluang investasi baru, sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap energi bersih dan infrastruktur digital.
Namun, Indonesia perlu menyiapkan proyek yang layak dibiayai serta sumber daya manusia (SDM) untuk memanfaatkan peluang tersebut.
CEO Standard Chartered Bank Donny Donosepoetro OBE mengatakan, perkembangan teknologi digital, termasuk agentic AI, berpotensi mempercepat hubungan antara modal dan kebutuhan pasar. Perubahan tersebut juga dapat memperluas pembiayaan bagi agenda keberlanjutan.
Baca juga: Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
“Pada dasarnya, investasi akan mempercepat konektivitas antara modal dan permintaan,” ujar Donny dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026, Rabu (7/10/2026).
Menurut Donny, peluang ekonomi dari perkembangan AI di kawasan ASEAN cukup besar. Teknologi tersebut diperkirakan dapat berkontribusi hingga sekitar 1 triliun dollar AS terhadap produk domestik bruto (PDB) ASEAN pada 2030.
Sementara itu, investasi AI dan cloud computing di Asia Tenggara telah mencapai sekitar 200 miliar dollar AS.
Besarnya potensi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dan mengambil bagian dalam pertumbuhan ekosistem digital di kawasan.
Namun, Donny mengingatkan bahwa besarnya kebutuhan investasi harus diimbangi dengan ketersediaan proyek yang layak secara finansial atau bankable. Proyek juga perlu didukung kebijakan dan regulasi yang memberikan kepastian kepada investor.
Menurut dia, persaingan untuk mendapatkan pembiayaan bagi proyek berkelanjutan semakin tinggi. Karena itu, Indonesia perlu memastikan proyek yang dikembangkan memiliki struktur, skala, dan kepastian yang memadai.
Kebutuhan investasi AI juga berkaitan erat dengan perkembangan sektor energi, terutama seiring meningkatnya kebutuhan listrik untuk mengoperasikan pusat data (*data center*).
Head of Climate Change & Sustainability Asia Pacific & Middle East HSBC Justin Wu mengatakan, AI menjadi salah satu bidang yang membutuhkan alokasi modal besar.
Pada saat yang sama, perkembangan teknologi tersebut meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur energi yang terjangkau, bersih, dan andal.
Investasi pada AI dan transisi energi, menurut Justin, tidak dapat dipandang sebagai dua agenda yang terpisah.
Pertumbuhan infrastruktur digital membutuhkan pasokan listrik yang memadai, sementara transisi energi memerlukan investasi untuk mengembangkan sumber energi yang lebih bersih.
“AI dan transisi energi merupakan dua hal yang semakin komplementer. Perkembangan AI akan menciptakan kebutuhan investasi yang semakin besar,” ujar Justin.
Baca juga: AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya