Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular

Kompas.com, 9 Oktober 2026, 09:02 WIB
Renaldi Saputra,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Sampah pascakonsumsi masih menjadi persoalan lingkungan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk produsen, pemerintah, dan masyarakat.

Data Kementerian Lingkungan Hidup (LH) melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan, sampah plastik menyumbang sekitar 20,14 persen dan sampah kertas sekitar 10,37 persen dari timbulan sampah yang tercatat pada 2025.

Dengan total timbulan sekitar 33,19 juta ton per tahun, kedua jenis material tersebut memiliki porsi yang cukup besar dalam komposisi sampah.

Angka tersebut memang tidak dapat serta-merta diartikan seluruhnya sebagai sampah pascakonsumsi atau sampah kemasan. Namun, plastik dan kertas merupakan material yang banyak digunakan dalam berbagai jenis kemasan produk yang berpotensi menjadi sampah setelah produk digunakan.

Data resmi Aplikasi Kinerja Produsen dalam Pengurangan Sampah (AKPDPS) juga menunjukkan besarnya material yang perlu dikelola dari aktivitas produsen.

Pada 2025, sebanyak 37 perusahaan manufaktur yang melaporkan data melalui AKPDPS mencatat timbulan sampah mencapai 627.426 ton. Dari jumlah tersebut, sampah plastik menjadi komponen terbesar dengan 372.707,57 ton, disusul sampah kertas sebanyak 228.419,85 ton.

Pemerintah sendiri telah menerapkan pendekatan Extended Producer Responsibility (EPR) untuk mendorong keterlibatan produsen dalam mengurangi dan menangani sampah yang berasal dari produk dan kemasannya setelah digunakan.

Ketentuan tersebut antara lain tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

Salah satu perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) yang telah menyerahkan dokumen Peta Jalan Pengurangan Sampah kepada pemerintah adalah Unilever Indonesia.

Perusahaan itu menyerahkan dokumen tersebut sejak 2021 sebagai bagian dari upaya menangani sampah pascakonsumsi melalui pendekatan dari hulu hingga hilir.

Dikutip dari laman resmi Unilever Indonesia, pada sisi hulu, perusahaan berfokus pada penerapan prinsip ekonomi sirkular melalui inovasi kemasan, antara lain dengan mengurangi penggunaan plastik dan mengembangkan kemasan yang dapat didaur ulang.

Upaya tersebut kemudian dilengkapi dengan pengumpulan dan pemilahan sampah. Sementara pada sisi hilir, perusahaan mendorong pemanfaatan material yang telah digunakan agar dapat kembali masuk ke dalam rantai nilai sesuai dengan jalur pengelolaan yang tersedia.

Inovasi kemasan sirkular

Director of Communications, Corporate Affairs and Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus saat menyampaikan pandangan mengenai inovasi kemasan dalam ekonomi sirkular.Dok. Unilever Indonesia Director of Communications, Corporate Affairs and Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus saat menyampaikan pandangan mengenai inovasi kemasan dalam ekonomi sirkular.

Dalam sesi “Circular Packaging Economy for Indonesia” pada International Sustainability Forum 2026 yang digelar di Hotel Indonesia Kempinski, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026), Director of Communications, Corporate Affairs and Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus, menjelaskan pendekatan perusahaan dalam mengembangkan kemasan sebagai bagian dari upaya menuju ekonomi sirkular.

Ia mengatakan, kemasan perlu dirancang berdasarkan kebutuhan konsumen dan karakteristik produk. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau