Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 09:42 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Keterbatasan pembiayaan menjadi salah satu tantangan pengembangan ekonomi biru (blue economy) di Indonesia.

Untuk mengatasinya, pemerintah mendorong pengembangan proyek kelautan yang layak dibiayai perbankan (bankable) serta memiliki potensi imbal hasil ekonomi dan dampak sosial-lingkungan yang terukur.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, proyek-proyek tersebut perlu dipersiapkan agar dapat mengakses berbagai sumber pembiayaan, mulai dari blended finance, pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance), hingga kemitraan pemerintah dan swasta.

Baca juga: Pentingnya Transisi Teknologi EBT di Sektor Perikanan dan Kelautan

“Modal tersedia secara global. Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa peluang-peluang ekonomi biru tersebut siap untuk diinvestasikan dan dapat ditingkatkan skalanya,” ujar Trenggono dalam forum Unlocking Indonesia’s Blue Economy through Financing, Industry-Led Innovation, and Scalable Partnerships, Rabu (7/10/2026).

Menurut dia, salah satu peluang pengembangan ekonomi biru berada pada hilirisasi rumput laut. Indonesia perlu meningkatkan pengolahan komoditas kelautan di dalam negeri agar tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah.

Upaya tersebut membutuhkan peningkatan kapasitas pengolahan, infrastruktur rantai pasok dingin, sistem penjaminan mutu, serta pelacakan produk.

Dengan demikian, nilai tambah dapat dinikmati lebih besar di dalam negeri sekaligus membuka peluang penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat pesisir.

“Rumput laut mengilustrasikan peluang ini dengan sangat sempurna. Rumput laut memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergali,” kata Trenggono.

Sehari sebelumnya, Selasa (6/10/2026), Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Perindustrian meluncurkan *Integrated Seaweed Development Action Plan* (ISDAP) 2026–2030.

Trenggono mengatakan, peta jalan tersebut diarahkan untuk mendorong rumput laut menjadi komoditas industri bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global.

Selain untuk bahan baku makanan, rumput laut berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku nutraseutikal, farmasi, kosmetik, bioplastik, dan biostimulan pertanian.

Baca juga: KKP Bidik Produksi 52.000 Ton Udang per Tahun dari Waingapu

Karena itu, pengembangan industri rumput laut tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi budi daya. Pengolahan, teknologi, inovasi, dan manufaktur juga diperlukan untuk memperbesar nilai ekonomi komoditas tersebut. Di sisi lain, konservasi laut perlu tetap menjadi bagian dari pengembangan ekonomi biru.

Tantangan petani rumput laut skala kecil

Peluang hilirisasi tersebut masih dihadapkan pada tantangan di tingkat hulu. Di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Konservasi Indonesia bekerja sama dengan badan usaha milik desa (BUMDes), koperasi, dan petani skala kecil untuk memperkuat rantai nilai rumput laut berkelanjutan.

Para petani masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain penurunan produktivitas akibat dampak krisis iklim, penurunan kualitas bibit, serta keterbatasan akses ke pasar global.

Senior Vice President sekaligus Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany mengatakan, model budi daya rumput laut perlu dirancang agar berkelanjutan secara ekologis, layak secara finansial, inklusif bagi masyarakat, dan dapat direplikasi dalam skala lebih besar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau