KOMPAS.com - Krisis iklim mengancam beberapa spot selancar terbaik di dunia. Ada yang akan tenggelam karena kenaikan air laut, dan ada pula yang hilang karena ombak klasik terhalang oleh pembangunan di kawasan pesisir.
Melansir Guardian, Sabtu (10/10/2026) analisis terhadap puluhan ombak terkenal di kawasan konservasi selancar dunia menunjukkan lebih dari 75 persen di antaranya berada dalam risiko tinggi akibat perubahan permukaan air laut, pembangunan di pinggir pantai, dan pergeseran pasir.
Dampak ini tidak hanya merugikan para peselancar, tetapi juga masyarakat sekitar yang bergantung secara ekonomi pada industri selancar bernilai miliaran dolar yang biasanya berada di daerah terpencil.
Beberapa ombak yang dinilai paling terancam dalam studi ini meliputi ombak besar di Pantai Croyde (Devon Utara, Inggris), ombak di Noosa (Australia), Oriente Salvaje (El Salvador), serta terumbu karang di Santa Cruz seperti Sewer Peak dan Wind and Sea (California, AS).
Baca juga: Hampir Sebagian Pantai Dunia Terancam Hilang akibat Perubahan Iklim
Ombak selancar yang bagus terbentuk dari kombinasi rumit antara bentuk dasar laut, arah gelombang, dan pasang surut.
"Ombak selancar adalah fenomena oseanografi yang sangat unik, perpaduan dari semua faktor tersebut yang saling melengkapi dengan pas sehingga terciptalah ombak dan proses-proses itu sangatlah sensitif," ujar Dan Reineman, profesor madya di California State University Channel Islands sekaligus salah satu penulis studi ini.
Pemanasan global kemudian menaikkan permukaan air laut dan mengubah pola curah hujan yang memengaruhi pergerakan sedimen. Hal ini dapat merusak keseimbangan yang rapuh tersebut dan menghancurkan ombak.
Namun, para peneliti mengatakan bahwa pengetahuan lokal dari para peselancar dapat dimanfaatkan untuk membantu melindungi ombak-ombak tersebut.
"Perubahan iklim akan berdampak pada ombak selancar di seluruh dunia dengan cara yang berbeda-beda, tergantung pada kondisi geografisnya yang unik. Kami belajar langsung dari para peselancar lokal tentang bagaimana mereka melihat ombak mereka berubah. Ini juga menjadi sebuah tanda peringatan dini ketika sebuah ombak berubah, itu sering kali berarti pantainya sedang berubah, dan pantai dinikmati oleh semua orang," kata Trent Hodges, salah satu penulis studi dan manajer program senior di Save the Waves Coalition.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Climatic Change ini pun menyimpulkan perubahan iklim dan pengelolaan pantai sama-sama berdampak buruk bagi kelangsungan masa depan berbagai ombak selancar kelas dunia serta bagi banyak komunitas lokal, budaya, dan ekonomi yang bergantung padanya.
Hampir 200 ahli lokal menganalisis 57 spot selancar yang tersebar di 11 dari 13 kawasan konservasi selancar dunia di delapan negara. Para peneliti menyebutkan bahwa ribuan ombak selancar lainnya di seluruh dunia juga menghadapi ancaman serupa.
Salah satu temuan utama lainnya adalah kawasan pantai yang masih alami dapat beradaptasi lebih baik terhadap perubahan iklim karena pasir dan daratannya masih bisa bergeser secara alami.
Sebaliknya, pembangunan seperti tembok laut, penahan ombak, dan pemecah air justru membuat pantai dan ombak menjadi lebih rapuh.
Adam Hall, salah satu pendiri kawasan konservasi selancar North Devon dan satu peselancar lokal yang ikut berkontribusi dalam studi ini mengatakan bahwa selancar sangat penting bagi perekonomian lokal, dan tidak hanya pada musim panas.
"Para peselancar datang sepanjang tahun. Mereka memenuhi pub, restoran, dan area parkir saat ombaknya bagus di bulan Januari, Februari, dan Maret. Padahal, jika Anda pergi ke tempat wisata lain yang tidak punya ombak, tempat-tempat itu sepi pengunjung," katanya.
Baca juga: Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya