Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 18:17 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Krisis iklim mengancam beberapa spot selancar terbaik di dunia. Ada yang akan tenggelam karena kenaikan air laut, dan ada pula yang hilang karena ombak klasik terhalang oleh pembangunan di kawasan pesisir.

Melansir Guardian, Sabtu (10/10/2026) analisis terhadap puluhan ombak terkenal di kawasan konservasi selancar dunia menunjukkan lebih dari 75 persen di antaranya berada dalam risiko tinggi akibat perubahan permukaan air laut, pembangunan di pinggir pantai, dan pergeseran pasir.

Dampak ini tidak hanya merugikan para peselancar, tetapi juga masyarakat sekitar yang bergantung secara ekonomi pada industri selancar bernilai miliaran dolar yang biasanya berada di daerah terpencil.

Beberapa ombak yang dinilai paling terancam dalam studi ini meliputi ombak besar di Pantai Croyde (Devon Utara, Inggris), ombak di Noosa (Australia), Oriente Salvaje (El Salvador), serta terumbu karang di Santa Cruz seperti Sewer Peak dan Wind and Sea (California, AS).

Baca juga: Hampir Sebagian Pantai Dunia Terancam Hilang akibat Perubahan Iklim

Pemanasan global ubah ombak

Ombak selancar yang bagus terbentuk dari kombinasi rumit antara bentuk dasar laut, arah gelombang, dan pasang surut.

"Ombak selancar adalah fenomena oseanografi yang sangat unik, perpaduan dari semua faktor tersebut yang saling melengkapi dengan pas sehingga terciptalah ombak dan proses-proses itu sangatlah sensitif," ujar Dan Reineman, profesor madya di California State University Channel Islands sekaligus salah satu penulis studi ini.

Pemanasan global kemudian menaikkan permukaan air laut dan mengubah pola curah hujan yang memengaruhi pergerakan sedimen. Hal ini dapat merusak keseimbangan yang rapuh tersebut dan menghancurkan ombak.

Namun, para peneliti mengatakan bahwa pengetahuan lokal dari para peselancar dapat dimanfaatkan untuk membantu melindungi ombak-ombak tersebut.

"Perubahan iklim akan berdampak pada ombak selancar di seluruh dunia dengan cara yang berbeda-beda, tergantung pada kondisi geografisnya yang unik. Kami belajar langsung dari para peselancar lokal tentang bagaimana mereka melihat ombak mereka berubah. Ini juga menjadi sebuah tanda peringatan dini ketika sebuah ombak berubah, itu sering kali berarti pantainya sedang berubah, dan pantai dinikmati oleh semua orang," kata Trent Hodges, salah satu penulis studi dan manajer program senior di Save the Waves Coalition.

Pantai alami dapat beradaptasi lebih baik

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Climatic Change ini pun menyimpulkan perubahan iklim dan pengelolaan pantai sama-sama berdampak buruk bagi kelangsungan masa depan berbagai ombak selancar kelas dunia serta bagi banyak komunitas lokal, budaya, dan ekonomi yang bergantung padanya.

Hampir 200 ahli lokal menganalisis 57 spot selancar yang tersebar di 11 dari 13 kawasan konservasi selancar dunia di delapan negara. Para peneliti menyebutkan bahwa ribuan ombak selancar lainnya di seluruh dunia juga menghadapi ancaman serupa.

Salah satu temuan utama lainnya adalah kawasan pantai yang masih alami dapat beradaptasi lebih baik terhadap perubahan iklim karena pasir dan daratannya masih bisa bergeser secara alami.

Sebaliknya, pembangunan seperti tembok laut, penahan ombak, dan pemecah air justru membuat pantai dan ombak menjadi lebih rapuh.

Adam Hall, salah satu pendiri kawasan konservasi selancar North Devon dan satu peselancar lokal yang ikut berkontribusi dalam studi ini mengatakan bahwa selancar sangat penting bagi perekonomian lokal, dan tidak hanya pada musim panas.

"Para peselancar datang sepanjang tahun. Mereka memenuhi pub, restoran, dan area parkir saat ombaknya bagus di bulan Januari, Februari, dan Maret. Padahal, jika Anda pergi ke tempat wisata lain yang tidak punya ombak, tempat-tempat itu sepi pengunjung," katanya.

Baca juga: Ancaman Nyata Kenaikan Air Laut, Ribuan Orang Berpotensi Jadi Pengungsi

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau