Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 20:41 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) resmi meluncurkan Integrated Seaweed Development Action Plan (ISDAP) 2026–2030 untuk mendorong hilirisasi komoditas rumput laut.
‎
‎Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy mengatakan, rencana aksi tersebut dirancang untuk mengubah rumput laut dari sekadar komoditas ekspor mentah, menjadi basis industrialisasi bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan di masa depan.
‎
‎"Untuk itulah kami berharap Kementerian Perindustrian mendorong diversifikasi hilirisasi agar olahan rumput laut tidak berhenti pada agar-agar atau karagenan, tetapi berkembang menuju nilai produk yang bernilai tambah tinggi mengejar kepemimpinan pasar dari negara-negara lain," ujar Rachmat dalam National Seaweed Forum 2026: Peluncuran ISDAP 2026-2030 dan Konsolidasi Implementasi Terpadu, Rabu (7/10/2026).
‎
‎Ia menganggap, sektor budi daya rumput laut krusial seiring keterbatasan lahan daratan Indonesia. Potensi maritim yang melimpah menjadi jawaban atas kebutuhan ekonomi, pangan, hingga energi masa depan.

Ini mengingat, wilayah daratan Indonesia seluas 191 juta hektar semakin terbatas untuk menampung kebutuhan lebih dari 290 juta penduduk, sehingga pemanfaatan wilayah laut menjadi prioritas jangka panjang. Daratan yang mencakup pegunungan, lembah, sampai sungai tidak dapat diperluas lagi tanpa adanya reklamasi.
‎
‎Kementerian PPN/Bappenas saat ini tengah menyiapkan titik-titik kawasan pusat budi daya dan pengolahan rumput laut terpadu dari Aceh hingga Papua. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kedaulatan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Baca juga: Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
‎
‎"Daratan kita sudah mengalami keterbatasan. Luas darat kita tidak bisa bertambah lagi kecuali dengan reklamasi... Jadi sekarang, budidaya kita menuju laut. Dan rumput laut menjadi bagian utama untuk mendukung ketahanan dan kedaulatan bangsa dan negara kita," ucapnya.
‎
‎Indonesia memiliki keunggulan komparatif maritim yang tak tertandingi, dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai yang sangat panjang. Namun, kontribusi nilai ekspor rumput laut nasional saat ini tercatat baru menyumbang sekitar 11,4 persen dari total perdagangan rumput laut dunia, di mana lebih dari separuhnya masih diekspor dalam bentuk rumput laut kering.
‎
‎Meski saat ini menempati urutan kedua produsen rumput laut dunia, kata dia, Indonesia memiliki modal geografis yang memadai untuk menjadi pemain utama.
‎
‎"Saya mendapat penjelasan bahwa rumput laut kita produksinya nomor dua di dunia. Tetapi dari luasan laut kita, dari panjangnya pantai kita, dari jumlahnya pulau-pulau kita, maka seharusnya Indonesia nomor satu," tutur Rachmat.
‎
‎Untuk merealisasikannya, Indonesia perlu menyinergikan antara sektor hulu dan hilir komoditas rumput laut. Sektor hulu berfokus pada budi daya dan peningkatan produktivitas rumput laut yang berada di bawah pengawasan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Sedangkan sektor hilir ditangani oleh Kementerian Perindustrian untuk menciptakan nilai tambah produk olahan dari rumput laut.
‎
‎Keterkaitan erat antar-sektor ini menjadi kunci utama keberhasilan hilirisasi di dalam negeri.

Baca juga: Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
‎
‎"Tetapi hilirisasi tidak akan bisa berjalan dengan baik kalau hulunya tidak tertata. Oleh karena itu, saya merasa bersyukur sekali saya duduk didampingi oleh orang yang paling bertanggung jawab dalam produksi dan produktivitas rumput laut (Menteri Kelautan dan Perikanan), dan di sebelah kiri saya orang yang paling bertanggung jawab meningkatkan nilai tambah daripada rumput laut (Menteri Perindustrian)," ucapnya.
‎
‎Ia berharap, Kementerian Perindustrian dapat mendorong diversifikasi produk agar hasil olahan tidak hanya berhenti pada agar-agar atau karagenan. Rumput laut ditargetkan bisa berkembang menjadi bahan baku industri pangan, pakan, farmasi, kosmetik, biostimulan, biomaterial seperti plastik ramah lingkungan, hingga sumber energi terbarukan.

‎Peta jalan ISDAP 2026–2030

‎Berdasarkan peta jalan ISDAP 2026–2030, terdapat tiga pilar utama dalam aksi untuk transformasi rumput laut dari komoditas ekspor dalam kondisi mentah, menjadi industri terintegrasi. Pertama, dari volume menuju ke nilai, dengan berfokus pada peningkatan kualitas bibit, produktivitas hulu, penanganan pascapanen, dan standardisasi mutu produk.
‎
‎Kedua, dari komoditas menuju ke industri, dengan mengembangkan pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku berbagai sektor industri strategis dan energi terbarukan.
‎
‎Ketiga, dari fragmentasi menuju ke integrasi. Jadi, mengintegrasikan seluruh rantai nilai, mulai dari pembudidaya, industri pengolahan, riset, pembiayaan, hingga akses pasar — ke dalam satu ekosistem yang utuh.

Baca juga: 25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
‎
‎Peta jalan ISDAP 2026–2030 selaras dengan arah rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menempatkan rumput laut sebagai komoditas prioritas, dengan menargetkan peningkatan produksi hingga 21 persen dan lonjakan nilai ekspor hampir 51 persen.
‎
‎"Dan di sinilah maka Integrated Seaweed Development Action Plan menjadi sangat penting. Dan ISDAP akan hadir menerjemahkan target tersebut," ujar Rachmat.
‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau