Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi

Kompas.com, 16 Oktober 2026, 15:37 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Mahasiswa Doktoral dari Indonesia di Kyoto University, Jepang, Ayik Abdillah, bersama mitra dari Nagoya University, Universiti Teknologi Malaysia, dan Universitas Indonesia mengembangkan cara meningkatkan produksi biogas dari limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME).

Riset ini dilaksanakan dengan dukungan langsung dari PT. Perkebunan Nusantara IV Regional III serta menggunakan sampel POME pada fasilitas instalasi Biogas entitas di bawah naungan PTPN IV PalmCo tersebut.

Ayik menyatakan bahwa riset ini berangkat dari pertanyaan mengenai limbah sawit yang sudah dihasilkan tidak menambah beban lingkungan.

Baca juga: PGN Siap Salurkan Biomethane dari Limbah Sawit ke Industri

Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Di balik posisi tersebut, sektor ini menghadapi tuntutan yang makin besar untuk beroperasi secara lebih ramah lingkungan.

"Limbah cair ini dihasilkan setiap hari, terlepas dari sikap kita terhadap ekspansi perkebunan. Pertanyaan saya sederhana: bagaimana metana yang selama ini lepas ke udara bisa ditangkap dan dimanfaatkan secara lebih efisien," ujar Ayik dalam keterangannya yang diterima Kompas.com, Jumat (16/10/2026).

Menurutnya, setiap pabrik kelapa sawit menghasilkan limbah cair dalam volume besar dari pengolahan tandan buah segar (TBS). Limbah ini kaya bahan organik.

Di banyak pabrik, POME masih ditampung di kolam terbuka. Di kolam tersebut bahan organik terurai tanpa oksigen dan melepaskan metana langsung ke atmosfer.

Metana adalah gas rumah kaca dengan daya pemanasan puluhan kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam rentang 100 tahun.

Memaksimalkan Kinerja Bakteri

Di dalam limbah cair sawit hidup berbagai jenis mikroba. Tanpa oksigen, mikroba ini mengurai sisa bahan organik dan menghasilkan biogas yang mengandung metana. Biogas tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan energi baru dan terbarukan.

Masalahnya, proses alami ini berjalan lambat dan sebagian biogas lepas ke udara.

Terkait dengan hal itu, dia mencari cara agar mikroba bekerja lebih efektif, yakni dengan menambahkan lembaran serat karbon konduktif. Hal tersebut berfungsi seperti “rumah” tempat mikroba menempel dan berkumpul membentuk koloni.

Hasilnya cukup menjanjikan. Dari jumlah limbah yang sama, reaktor yang diberi serat karbon konduktif menghasilkan biogas 22 persen lebih banyak dibandingkan reaktor biasa. Hasil ini bertahan stabil selama lima bulan pengujian di laboratorium.

Jika diterapkan di pabrik kelapa sawit berukuran menengah, tambahan biogas ini berpotensi menghasilkan listrik sekitar 290 kilowatt.

Baca juga: ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi

Listrik tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional pabrik karena bisa mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, dan metana yang biasanya lepas ke udara bisa ditangkap.

"Meski demikian, angka ini masih berasal dari skala laboratorium. Tahap uji coba di lapangan diperlukan sebelum teknologi ini bisa diterapkan secara luas," jelas dia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Studi: Pemanasan Global Bikin Wilayah Tropis Kian Panas dan Ekstrem
Pemerintah
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
IPB Temukan Gen Resistansi Antimikrob pada Bakteri E coli di Ekosistem Pemotongan Hewan
LSM/Figur
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran
Swasta
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Jumlah Spesies dalam Perdagangan Satwa Liar Dunia Melonjak Dua Kali Lipat
Pemerintah
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit
LSM/Figur
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Perusahaan Minyak Raup Laba Rp1.613 Triliun di Tengah Tekanan Global
Pemerintah
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Diversifikasi Tanaman Jadi Kunci Ketahanan Iklim dan Produktivitas Lahan
Pemerintah
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Antara Transisi Energi dan Politik Transaksi Energi...
Pemerintah
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
Dana Karbon, Harapan Suku Bahau Umaq Suling Merawat Budaya dan Perjuangkan Hutan Adat
LSM/Figur
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
Pusat Data AI Butuh Banyak Air, Pakar Dorong Penggunaan Air Daur Ulang
LSM/Figur
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Morgan Stanley: Cuma 2 Persen Investor Optimis Alokasi Investasi Hijau Bakal Naik
Pemerintah
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Studi: 140 Juta Pekerjaan di Eropa Berpotensi Terdampak Krisis Alam
Pemerintah
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik  Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Studi Ungkap 56 Ton Partikel Mikroplastik Hujani Gunung Everest Sepanjang Tahun
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
BRIN Kembangkan Teknologi Berbasis Karbon dan Jamur untuk Urai Limbah
LSM/Figur
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Masjid Indonesia Bidik Kontribusi 1 GW Energi Surya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau