Editor
KOMPAS.com - Mahasiswa Doktoral dari Indonesia di Kyoto University, Jepang, Ayik Abdillah, bersama mitra dari Nagoya University, Universiti Teknologi Malaysia, dan Universitas Indonesia mengembangkan cara meningkatkan produksi biogas dari limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME).
Riset ini dilaksanakan dengan dukungan langsung dari PT. Perkebunan Nusantara IV Regional III serta menggunakan sampel POME pada fasilitas instalasi Biogas entitas di bawah naungan PTPN IV PalmCo tersebut.
Ayik menyatakan bahwa riset ini berangkat dari pertanyaan mengenai limbah sawit yang sudah dihasilkan tidak menambah beban lingkungan.
Baca juga: PGN Siap Salurkan Biomethane dari Limbah Sawit ke Industri
Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Di balik posisi tersebut, sektor ini menghadapi tuntutan yang makin besar untuk beroperasi secara lebih ramah lingkungan.
"Limbah cair ini dihasilkan setiap hari, terlepas dari sikap kita terhadap ekspansi perkebunan. Pertanyaan saya sederhana: bagaimana metana yang selama ini lepas ke udara bisa ditangkap dan dimanfaatkan secara lebih efisien," ujar Ayik dalam keterangannya yang diterima Kompas.com, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, setiap pabrik kelapa sawit menghasilkan limbah cair dalam volume besar dari pengolahan tandan buah segar (TBS). Limbah ini kaya bahan organik.
Di banyak pabrik, POME masih ditampung di kolam terbuka. Di kolam tersebut bahan organik terurai tanpa oksigen dan melepaskan metana langsung ke atmosfer.
Metana adalah gas rumah kaca dengan daya pemanasan puluhan kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam rentang 100 tahun.
Di dalam limbah cair sawit hidup berbagai jenis mikroba. Tanpa oksigen, mikroba ini mengurai sisa bahan organik dan menghasilkan biogas yang mengandung metana. Biogas tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan energi baru dan terbarukan.
Masalahnya, proses alami ini berjalan lambat dan sebagian biogas lepas ke udara.
Terkait dengan hal itu, dia mencari cara agar mikroba bekerja lebih efektif, yakni dengan menambahkan lembaran serat karbon konduktif. Hal tersebut berfungsi seperti “rumah” tempat mikroba menempel dan berkumpul membentuk koloni.
Hasilnya cukup menjanjikan. Dari jumlah limbah yang sama, reaktor yang diberi serat karbon konduktif menghasilkan biogas 22 persen lebih banyak dibandingkan reaktor biasa. Hasil ini bertahan stabil selama lima bulan pengujian di laboratorium.
Jika diterapkan di pabrik kelapa sawit berukuran menengah, tambahan biogas ini berpotensi menghasilkan listrik sekitar 290 kilowatt.
Baca juga: ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi
Listrik tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional pabrik karena bisa mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, dan metana yang biasanya lepas ke udara bisa ditangkap.
"Meski demikian, angka ini masih berasal dari skala laboratorium. Tahap uji coba di lapangan diperlukan sebelum teknologi ini bisa diterapkan secara luas," jelas dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya