Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan nilai ekspor produk olahan nikel setidaknya 45 miliar dolar AS atau setara Rp 815,99 triliun pada 2026, mencerminkan ambisi Indonesia untuk terus meningkatkan nilai tambah di sepanjang rantai industri.
Nilai ekspor produk olahan nikel mencapai 40 miliar dolar AS atau setara Rp 725,28 triliun pada 2025, meningkat dari 3,3 miliar dolar AS atau setara Rp 59,84 triliun pada 2017.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara pada Kementerian ESDM, Tri Winarno mengatakan, Indonesia terus meningkatkan upaya hilirisasi dan transparansi ekspor untuk memperkuat daya saing di pasar global.
Ia menganggap, kebijakan hilirisasi sumber daya alam (SDA) lebih dari sekadar nasionalisme. Namun, kebijakan hilirisasi juga membahas pengelolaan SDA yang bertanggung jawab.
Baca juga: Harga Tembaga Diprediksi Berlipat Ganda, Ini Alasannya
“Kami ingin mengembangkan industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja lokal, dan menyediakan pasokan yang andal bagi pasar internasional. Kami juga menyambut kemitraan dari pihak-pihak internasional untuk menggabungkan investasi jangka panjang, transfer teknologi, dan standar keberlanjutan yang tinggi, dengan penciptaan nilai bagi produsen maupun pembeli,” ujar Tri.
Indonesia sedang menjajaki mekanisme untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas ekspor komoditas seiring dengan upaya intensif dalam hilirisasi mineral dalam negeri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya