Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala

Kompas.com, 29 Oktober 2026, 20:28 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengelolaan zona pembuangan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menghadapi persoalan akibat volume sampah yang terus masuk melampaui kapasitas lahan yang tersedia.

Kondisi ini membuat batas antara zona sampah lama dan baru semakin sulit ditentukan, sehingga menyulitkan pengelola memprediksi dan mengendalikan emisi gas metana.

Tenaga ahli Methane Emission Reduction Initiative for Transparency (MERIT), Siti Ainun, mengatakan, idealnya operasional tempat pemrosesan akhir (TPA) dilakukan berdasarkan perencanaan zonasi yang jelas, termasuk jadwal penutupan zona lama dan pemindahan aktivitas pembuangan ke zona baru.

Baca juga: Dari Sampah Jadi Kompos, Upaya JIEP Kurangi Beban Bantargebang

Dengan perencanaan tersebut, pengelola dapat mengetahui usia setiap zona dan memperkirakan karakteristik emisi yang dihasilkan.

Namun, menurut Ainun, tingginya volume sampah yang terus berdatangan membuat pengelola harus kembali menggunakan zona yang semestinya sudah ditutup.

“Harusnya zona 1 ditutup lima tahun lalu, tetapi karena ada sampah yang masuk terus-menerus, sudah enggak cukup lagi, ya sudah back ke zona 1. Jadi, kami enggak bisa menentukan nih di TPA Bantargebang, zona mana yang sebetulnya zona tua, zona mana yang menengah, dan zona mana yang masih muda,” ujar Ainun kepada Kompas.com, Minggu (25/10/2026).

Menurut Ainun, ketidakjelasan zonasi tersebut menyulitkan pengelola memperkirakan potensi produksi gas metana dan mengendalikan air lindi, yakni cairan yang terbentuk dari proses peresapan air melalui tumpukan sampah.

Secara teknis, zona yang telah mencapai kapasitas sesuai perencanaan seharusnya ditutup, kemudian aktivitas pembuangan dialihkan ke area lain.

Akan tetapi, keterbatasan lahan dan terus meningkatnya sampah yang masuk membuat pelaksanaan sistem tersebut sulit dilakukan secara konsisten.

“Saya sih mengerti betul di lapangan tuh repotnya seperti apa, terutama tadi, yang masuk selalu semakin tinggi,” tutur Ainun.

Zonasi menentukan pengelolaan metana

Kepastian zonasi penting karena produksi gas metana dari timbunan sampah berubah seiring waktu.

Berdasarkan pemodelan yang dijelaskan Ainun, produksi metana dapat mencapai puncak sekitar satu tahun setelah suatu zona ditutup rapat. Setelah melewati fase tersebut, produksi gas akan berangsur menurun selama bertahun-tahun.

Karakteristik zona yang sudah berusia puluhan tahun juga berbeda dengan zona yang lebih baru, baik dari sisi produksi metana maupun air lindi. Karena itu, informasi mengenai usia dan status setiap zona dibutuhkan untuk memperkirakan periode emisi tertinggi serta menentukan waktu yang tepat untuk menangkap biogas.

Ketika sampah baru terus ditumpuk di atas zona lama, pengelola akan semakin kesulitan menentukan karakteristik masing-masing zona dan menyusun strategi penanganan emisi.

Baca juga: 4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial

Ainun juga menjelaskan bahwa zona yang telah penuh dapat dimanfaatkan kembali melalui metode *landfill mining*, yakni penggalian atau pengerukan timbunan sampah lama, yang dalam praktik tertentu disertai pengurukan kembali agar area tersebut dapat digunakan.

“Lahan yang lama, sudah menjadi gunung (sampah). Ini di-cut and fill. Ini kan diambil gitu, seperti dipakai lagi. Saluran pembuangan air lindi kan paling bawah ya, harusnya bisa dipakai lagi. Tapi, yang pasti, sudah enggak bisa mengambil gas (metana), tetapi dengan catatan pada saat landfill mining, cut and fill-nya secara bertahap,” ucapnya.

Menurut Ainun, pemanfaatan kembali zona lama tetap perlu dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi teknis dan sistem pengelolaan di area tersebut.

Emisi metana bisa bertahan puluhan tahun

Sebelumnya, perwakilan Direktorat Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Andina Tasan, mengatakan, emisi metana dari TPST Bantargebang masih berpotensi dilepaskan dalam jumlah besar meskipun penerimaan sampah organik dikurangi secara bertahap.

Bahkan, penghentian penerimaan sampah organik tidak serta-merta membuat emisi metana berhenti pada saat yang sama. Gas tersebut masih dapat dihasilkan dari proses penguraian bahan organik yang telah tertimbun sebelumnya.

“Gas metana-nya pelan-pelan ya menguap. Nah, tetapi TPA harus berhenti sekarang karena kalau enggak, tidak jelas kapan berhentinya? Berarti generasi ke depan yang kita sisakan adalah sampah dan gas metana,” ujar Andina dalam acara Kemitraan Antar Pihak dalam Penanganan Sampah Organik dan Emisi Metana di Indonesia, Jakarta, 11 Juni 2026.

Baca juga: BRI Finance Perluas Pembiayaan Bisnis Berkelanjutan, Kendaraan Listrik hingga Sampah

Tenaga ahli proyek MERIT, Didin Agustian Permadi, juga mengatakan, timbunan sampah yang tinggi dan kandungan bahan organik yang besar membuat TPST Bantargebang berpotensi terus menghasilkan emisi metana selama beberapa puluh tahun ke depan.

TPST Bantargebang diketahui memiliki fasilitas penangkapan gas metana untuk dikonversi menjadi energi listrik.

Namun, menurut Didin, sistem pemurnian gas tersebut kemungkinan mengalami kendala teknis yang dapat menyebabkan sebagian emisi gas rumah kaca terlepas ke atmosfer.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan kapasitas lahan dan volume sampah yang masuk, tetapi juga membutuhkan perencanaan zonasi, pengendalian emisi, dan pemeliharaan fasilitas pengolahan gas secara berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
LSM/Figur
RTH Jadi Penopang 'Green Campus' dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
RTH Jadi Penopang "Green Campus" dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
LSM/Figur
Astra Luncurkan Program Kontribusi Sosial 70 Tahun, Sasar 700 Desa di 7 Pulau Besar Indonesia
Astra Luncurkan Program Kontribusi Sosial 70 Tahun, Sasar 700 Desa di 7 Pulau Besar Indonesia
Desa Sejahtera Astra
Orang Super Kaya Dapat Keuntungan Ganda dari Krisis Iklim
Orang Super Kaya Dapat Keuntungan Ganda dari Krisis Iklim
Pemerintah
WALHI: Karhutla Tak Lepas dari Sistem Ekonomi Ekstraktif
WALHI: Karhutla Tak Lepas dari Sistem Ekonomi Ekstraktif
LSM/Figur
Saat AI Mendorong Kebutuhan Listrik, Mitsubishi Power Bersiap Menjawab Tantangan Baru
Saat AI Mendorong Kebutuhan Listrik, Mitsubishi Power Bersiap Menjawab Tantangan Baru
BrandzView
Perkuat Ekosistem Digital, 'Health Innovation Showcase 2026' Pertemukan Inovator dan Investor
Perkuat Ekosistem Digital, "Health Innovation Showcase 2026" Pertemukan Inovator dan Investor
LSM/Figur
UN ESCAP Dorong Model Kerja Sama Baru Perkuat Transisi Energi di ASEAN
UN ESCAP Dorong Model Kerja Sama Baru Perkuat Transisi Energi di ASEAN
Pemerintah
Hidup di Tepi Danau Toba, Mengapa Petani Samosir Masih Kesulitan Mendapat Air?
Hidup di Tepi Danau Toba, Mengapa Petani Samosir Masih Kesulitan Mendapat Air?
Pemerintah
Aktivitas Pertambangan Ancam Target Konservasi Global 30x30
Aktivitas Pertambangan Ancam Target Konservasi Global 30x30
Pemerintah
Peneliti Soroti Tantangan untuk Kelestarian dan Pasokan Kayu Global
Peneliti Soroti Tantangan untuk Kelestarian dan Pasokan Kayu Global
Pemerintah
Menjaga Keandalan Listrik di Tengah Transisi Energi Indonesia
Menjaga Keandalan Listrik di Tengah Transisi Energi Indonesia
BrandzView
Lonjakan Permintaan Tembaga Akibat EV-Pusat Data di Masa Depan, RI Punya Peluang Besar
Lonjakan Permintaan Tembaga Akibat EV-Pusat Data di Masa Depan, RI Punya Peluang Besar
Pemerintah
Isu Perubahan Iklim Perlu Diintegrasikan ke dalam PAUD Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Isu Perubahan Iklim Perlu Diintegrasikan ke dalam PAUD Sesuai Tahap Perkembangan Anak
LSM/Figur
Disinformasi Perubahan Iklim Berpotensi Jadi Ancaman Baru Kesehatan Publik
Disinformasi Perubahan Iklim Berpotensi Jadi Ancaman Baru Kesehatan Publik
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau