KOMPAS.com - Api hampir tak pernah padam di Kota Besi (Iron Town).
Di kota kecil dalam film Princess Mononoke karya Hayao Miyazaki itu, besi dilebur dan ditempa di tengah kepulan asap. Orang-orang menggantungkan hidup pada tungku yang terus menyala. Dari sanalah pekerjaan tersedia dan sebuah kota bertahan.
Tak jauh dari sana, hutan membentang. Semakin jauh manusia mencari bahan baku, semakin dekat pula kegiatan mereka dengan ruang hidup yang lebih dulu ada. Besi yang menghidupi kota dan hutan yang menopang kehidupan berada dalam bentang alam yang sama.
Cerita yang dikemas dalam film animasi Studio Ghibli pada 1997 itu berhenti di layar. Namun, pertemuan antara mineral, industri, manusia, dan alam juga berlangsung di banyak daerah penghasil tambang.
Salah satunya Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Nikel telah lama keluar dari tanah di kawasan ini. Kini, perjalanannya bertambah panjang.
Baca juga: PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
Di Blok Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk mengembangkan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, proyek hilirisasi yang menjadi bagian dari pembangunan fondasi industri pengolahan nikel di dalam negeri.
Proyek itu mencakup pertambangan bijih nikel yang dioperasikan Vale dan fasilitas pengolahan berteknologi high-pressure acid leaching (HPAL) yang dikembangkan PT Kolaka Nickel Indonesia, perusahaan patungan Vale, Zhejiang Huayou Cobalt, dan Ford Motor.
Investasi untuk tambang dan fasilitas HPAL mencapai sekitar 4,5 miliar dollar AS.
Pabrik tersebut dirancang menghasilkan mixed hydroxide precipitate atau MHP, bahan antara yang digunakan dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik. Kapasitas tahunannya diperkirakan mencapai 120.000 ton nikel dan sekitar 15.000 ton kobalt yang terkandung dalam MHP.
Aktivitas tambangnya lebih dulu berjalan. Pada 1 Maret 2026, Vale mengumumkan penjualan perdana bijih nikel dari IGP Pomalaa. Memasuki bulan yang sama, produksi limonit ditargetkan mencapai 300.000 ton per bulan.
Sementara itu, pembangunan fasilitas HPAL masih berlangsung. Dalam Laporan Tahunan 2025, Vale menargetkan tahap pertama penyelesaian mekanis (first mechanical completion) pada kuartal III-2026.
Baca juga: Produksi Nikel Matte Vale Indonesia Tembus 29.773 Ton, Pendapatan Ikut Naik
Gerak proyek itu kemudian menjalar keluar dari area tambang. Ribuan pekerja masuk, kebutuhan keterampilan bertambah, dan aktivitas ekonomi baru muncul di sekitarnya.
Sementara itu, sungai, sawah, kebun, dan kampung tetap menjadi ruang hidup warga Pomalaa.
Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Mineral Commodity Summaries 2026 yang diterbitkan United States Geological Survey (USGS) memperkirakan cadangan nikel Indonesia mencapai 62 juta ton. Produksi tambang pada 2025 diperkirakan mencapai 2,6 juta ton.
Sebagai pembanding, Australia memiliki cadangan sekitar 25 juta ton dan Brasil 16 juta ton.
Besarnya cadangan itu semakin penting setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel dan mendorong mineral diproses di dalam negeri.
Nilai ekspornya ikut berubah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat nilai ekspor produk nikel Indonesia yang berada di kisaran 3,3 miliar dollar AS pada 2017-2018 telah menembus lebih dari 40 miliar dollar AS pada 2025.
Baca juga: Produksi Nikel Matte Vale Indonesia Tembus 29.773 Ton, Pendapatan Ikut Naik
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pengolahan di dalam negeri sebagai bagian dari upaya memperbesar nilai ekonomi sumber daya alam.
“Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” ujar Bahlil saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10/26).
Namun, rantai pengolahan nikel Indonesia belum sepenuhnya sampai ke produk akhir. Pemerintah mengakui sebagian besar produk smelter masih berada pada tahap antara.
Artinya, fondasi hilirisasi masih terus dibangun, tidak hanya melalui bertambahnya fasilitas pengolahan, tetapi juga melalui kemampuan industri memperpanjang rantai nilai di dalam negeri.
Arus investasi mengikutinya. Sepanjang Januari-September 2026, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat investasi hilirisasi mencapai Rp 480 triliun atau 31,2 persen dari seluruh realisasi investasi nasional pada periode tersebut.
Sektor mineral menyumbang Rp 335,1 triliun. Dari jumlah itu, investasi terkait nikel mencapai Rp 118,9 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan investasi tersebut perlu berkembang menjadi investasi berkualitas yang memberi dampak kepada masyarakat.
“Investasi ini terus meningkat menjadi investasi yang berkualitas dan juga bisa memberikan dampak yang positif seperti penyerapan tenaga kerja,” kata Rosan.
Baca juga: Cara Vale Menambang Nikel dan Tetap Jaga Lingkungan
Di daerah penghasil mineral, dampak seperti itulah yang kemudian berhadapan langsung dengan kehidupan warga.
Sulawesi Tenggara menjadi salah satu contohnya. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi provinsi ini tumbuh 5,79 persen pada triwulan IV-2025, naik dari 5,40 persen dibandingkan 2024.
Industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025, yakni 14,91 persen.
Pomalaa menjadi salah satu titik pertumbuhan industri tersebut.
Bupati Kolaka Amri menyebut keberadaan industri pengolahan membuat daerahnya kini menempati posisi penting dalam agenda hilirisasi nasional.
“Kabupaten Kolaka memiliki posisi strategis dalam peta hilirisasi mineral nasional,” ujarnya dalam Leader Forum 2nd Edition antara Pemerintah Kabupaten Kolaka dan PT Vale Indonesia pada Juli 2026.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kolaka, pembangunan fondasi hilirisasi tidak cukup dilihat dari besarnya investasi dan kapasitas produksi.
Baca juga: Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako
Amri menyebut manfaatnya perlu terlihat dari pembukaan pekerjaan bagi warga lokal, pertumbuhan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), peningkatan pendapatan asli daerah, serta pembangunan infrastruktur yang dapat digunakan bersama.
Pekerjaan menjadi salah satu dampak yang paling cepat terlihat.
Pada September 2025, tidak kurang dari 4.100 orang bekerja di proyek Pomalaa. Perusahaan mengeklaim 70 persen di antaranya merupakan warga ber-KTP Kolaka.
Kehadiran ribuan pekerja menunjukkan besarnya kebutuhan tenaga selama masa pembangunan. Ketika proyek bergerak menuju fase operasi, kebutuhan tenaga kerjanya pun ikut berubah.
Fasilitas HPAL memerlukan pekerja dengan keterampilan teknis, mulai dari hidrometalurgi, kelistrikan, pengoperasian alat, hingga keselamatan kerja.
Baca juga: Ketika Industri Nikel Berdamai dengan Alam, Kisah Keberlanjutan Vale
Sejumlah keterampilan tersebut belum banyak tersedia di pasar tenaga kerja setempat. Pelatihan pun berjalan bersamaan dengan pembangunan proyek.
Vale dan Huayou menjalankan Bridge Program bersama lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi. Program tersebut mencakup pelatihan teknis, pengembangan kemampuan manajerial, serta kesempatan magang.
Pelatihan tenaga kerja di sekitar Pomalaa sebenarnya telah berlangsung sejak sebelum fasilitas berdiri. Bidangnya meliputi kelistrikan, pengelasan, keselamatan dasar, operator alat berat, juru ukur, hingga keterampilan perkantoran.
Komposisi tenaga kerja proyek juga berubah mengikuti tahap pembangunan. Laporan Keberlanjutan Vale 2025 mencatat karyawan langsung perusahaan di Pomalaa berjumlah 99 orang, sedangkan sebagian besar tenaga kerja proyek berada di perusahaan kontraktor.
Persoalan kesempatan kerja masih muncul dalam hubungan perusahaan dengan masyarakat.
Sepanjang 2025, Vale mencatat 95 pengaduan dari masyarakat dan pemangku kepentingan di Pomalaa. Keluhannya antara lain berkaitan dengan pekerjaan, lahan, dampak lingkungan, dan ganti rugi. Sebanyak 90 pengaduan dinyatakan selesai.
Baca juga: Vale Indonesia Ubah Limbah Nikel Jadi Berkah lewat Inisiatif Sirkular
Fase operasi kelak akan menguji seberapa banyak keterampilan baru itu dapat menetap di Kolaka ketika kebutuhan pekerja konstruksi mulai berkurang.
Namun, perputaran ekonomi dari sebuah proyek besar tidak hanya berlangsung di balik pagar kawasan industri.
Di desa-desa sekitar Pomalaa, bentuknya bisa jauh lebih sederhana.
Di rumah pembibitan di Pomalaa, ada 4.600 bibit kakao telah ditanam. Sebanyak 100 petani juga dipersiapkan sebagai calon produsen kakao bersertifikat.
Salah seorang di antaranya ialah Rahmad, Ketua Forum Kakao Mandara.
“Sebelumnya, kami hanya menjual biji kakao mentah,” kata Rahmad dikutip dalam Laporan Keberlanjutan Vale 2025.
Petani kemudian mendapat pendampingan untuk mengolah kakao, mulai dari tahap pascapanen hingga pengemasan.
Baca juga: Vale Indonesia Lakukan Reklamasi 3.791 Hektare Lahan Tambang di Sulsel
Jarak antara kebun kakao dan pabrik HPAL agak jauh, begitu pula skala ekonominya. Namun, keduanya memperlihatkan proses dalam menambah tahapan pengolahan sebelum suatu komoditas meninggalkan daerah asalnya.
Kegiatan ekonomi lain turut tumbuh mengikuti ramainya kawasan. Pada Agustus 2026, sekitar 150 UMKM mengikuti festival kuliner yang digelar bersama pemerintah daerah, Kadin, HIPMI Kolaka, dan IGP Pomalaa.
Bagi pelaku usaha lokal, pasar yang lebih besar berada pada rantai pasok proyek.
Laporan Keberlanjutan Vale mencatat pada 2025, belanja yang dialokasikan kepada pemasok dalam negeri mencapai 895,4 juta dollar AS, atau 90 persen dari total belanja pemasok.
Untuk masuk ke dalamnya, pengusaha daerah harus memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari volume, kualitas, keselamatan, hingga standar pengadaan.
Ujian terhadap pengelolaan lingkungan datang ketika proyek masih dalam tahap pembangunan.
Pada November 2025, hujan deras menyebabkan lumpur merendam sawah warga di Desa Oko-Oko dan Lamendai. Air Sungai Huko-Huko juga dilaporkan berubah kemerahan.
Baca juga: Teknologi Canggih PT Vale Jaga Kejernihan Danau Matano
Vale menyebut curah hujan tinggi menyebabkan kolam penampung sedimen meluap dan menyatakan telah melakukan langkah pengendalian. WALHI Sulawesi Tenggara, berdasarkan pemantauannya, menyoroti aliran sedimentasi dari kawasan proyek menuju anak sungai yang terhubung dengan wilayah terdampak.
Pada 2025, Laporan Keberlanjutan Vale mencatat pengeluaran pengelolaan lingkungan di IGP Pomalaa mencapai 9,5 juta dollar AS. Setahun sebelumnya nilainya sekitar 500.000 dollar AS.
Sebagian besar dana itu digunakan untuk pengendalian air selama konstruksi, termasuk pembangunan kolam sedimen.
Hingga akhir 2025, luas lahan terganggu secara kumulatif mencapai 807,76 hektar. Belum terdapat area yang direklamasi karena proyek masih berada dalam tahap pengembangan.
Di luar konsesi, rehabilitasi daerah aliran sungai yang berkaitan dengan IGP Pomalaa mencapai 1.953 hektar.
Lingkungan sekitar Pomalaa juga menyimpan keragaman hayati yang menjadi perhatian selama pengembangan proyek.
Baca juga: Rayakan HUT Ke-56, PT Vale Tegaskan Komitmen Berkelanjutan lewat Praktik Tambang Bertanggung Jawab
Kajian habitat kritis perusahaan mencatat 11 spesies pemicu habitat kritis setelah konsultasi dilakukan dengan masyarakat di 20 desa.
Ketika fasilitas HPAL mulai berproduksi, persoalan yang diawasi akan bertambah.
Proses pengolahan menghasilkan residu yang perlu disimpan dan dikelola sepanjang masa operasi. Di Sulawesi yang bercurah hujan tinggi, pengendalian air, sedimentasi, dan pemantauan fasilitas pengelolaan residu menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari kawasan industri.
Vale menyebut residu HPAL akan dikelola oleh perusahaan patungan yang mengoperasikan fasilitas pengolahan bersama mitra sesuai standar lingkungan proyek.
Tekanan terhadap industri nikel juga tidak hanya datang dari sekitar tambang. Di pasar baterai kendaraan listrik, teknologi terus berubah.
Global EV Outlook 2026 dari International Energy Agency mencatat baterai lithium iron phosphate atau LFP, yang tidak menggunakan nikel, telah menguasai lebih dari 55 persen baterai kendaraan listrik yang digunakan secara global pada 2025.
Baca juga: Vale Dukung Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Morowali
Harga paket baterai LFP rata-rata juga lebih dari 40 persen lebih murah dibandingkan baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC).
Meski demikian, di luar China hampir 80 persen baterai kendaraan listrik yang digunakan pada 2025 masih memakai kimia berbasis nikel.
Perkembangan teknologi itu membuat masa depan industri nikel tidak hanya bergantung pada seberapa banyak mineral yang tersedia di dalam tanah. Daya saing biaya, teknologi pengolahan, serta cara dampak sosial dan lingkungan dikelola ikut menentukan perjalanan industri tersebut.
Bagi Pomalaa, perjalanan itu masih akan berlangsung lama. Umur tambang Pomalaa diperkirakan berlangsung hingga sekitar 2045.
Dalam rentang waktu itu, nikel akan terus keluar dari tanah dan masuk ke rantai pengolahan. Sementara warga, kebun, sawah, dan Sungai Huko-Huko tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Pomalaa.
Jejak hilirisasi kelak akan terlihat dari apa yang tetap bertahan dan tumbuh di daerah itu ketika umur tambang mendekati akhir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya