"Meskipun kerangka kerja keanekaragaman hayati global memiliki target terkait perdagangan, berdasarkan perkiraan kami target tersebut hanya mencakup sekitar 2 persen hingga 3 persen spesies yang diperdagangkan, dan melewatkan 97 persen sisanya," ujar Hughes.
Untuk mengubah kondisi saat ini, kita harus menyelaraskan dan mengumpulkan data perdagangan secara terstandar.
Saat ini, data yang ada sangat terbatas dan tiadanya sistem pengumpulan data yang teratur ini menghambat penilaian keberlanjutan serta kemampuan kita dalam mengelola dampak perdagangan.
"Jika negara-negara memanfaatkan ulang proses kepabeanan dan pemeriksaan kesehatan hewan (zoosanitary) yang sudah ada, kita dapat membangun sistem yang kuat untuk memantau perdagangan. Namun, hal ini membutuhkan komitmen lebih lanjut untuk diterapkan dalam skala luas," ungkap Hughes.
"Kalau kita benar-benar serius ingin menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati, kita membutuhkan pelaporan perdagangan satwa dan tumbuhan liar yang jauh lebih menyeluruh, transparan, serta terkoordinasi secara global," katanya lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya