KOMPAS.com - Perhitungan akuntansi global menunjukkan bahwa nilai layanan ekosistem yang berpotensi hilang akibat kenaikan permukaan air laut diperkirakan jauh melampaui 100 miliar dolar AS per tahun pada tahun 2100.
Menurut studi tersebut, negara-negara yang berisiko mengalami kerugian terbesar justru bukan penyumbang emisi tertinggi.
Baca juga: Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal PNAS Nexus.
Melansir Phys, Selasa (3/11/2026) seiring pemanasan iklim, mencairnya es dan pemuaian air laut terus meningkatkan permukaan air laut.
Qinglong Shao dan tim peneliti menghitung nilai layanan ekosistem yang akan rusak akibat kenaikan air laut yang diproyeksikan terjadi pada rentang tahun 2030–2100 di bawah beberapa skenario pemodelan iklim.
Meskipun sebagian besar lahan yang tenggelam adalah kawasan permukiman dan lahan pertanian, jenis ekosistem dengan tingkat kehilangan relatif tertinggi adalah lahan basah, yang bisa kehilangan 1,21 persen hingga 2,20 persen dari total wilayahnya.
Dalam studi ini, para peneliti menghitung nilai penyediaan, pengaturan, habitat, serta fungsi budaya lahan tersebut menggunakan Ecosystem Services Valuation Database 2.0. Total kerugian layanan ekosistem ini diperkirakan mencapai 164,46 miliar dolar per tahun dalam skenario moderat.
Secara angka keseluruhan, kerugian terbesar dialami oleh China, Myanmar, Brasil, Rusia, dan Vietnam.
Baca juga: Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Namun, jika dilihat dari kerugian relatif yaitu seberapa besar layanan ekosistem yang hilang akibat kenaikan air laut dibandingkan dengan total nilai ekosistem yang dimiliki negara tersebut dampak terparah justru menimpa negara-negara berdaratan rendah dan wilayah delta, seperti Belanda, Mesir, Bahama, Belgia, dan Irak.
Para peneliti juga membandingkan emisi karbon dioksida kumulatif tiap negara hingga tahun 2024 dengan perkiraan kerugian ekosistem per kapita. Hasilnya menunjukkan bahwa negara-negara yang menanggung kerugian terbesar bukanlah penyumbang emisi terburuk.
Ketidakadilan dari dampak kerusakan ini diperkirakan akan semakin parah setelah pertengahan abad ini, yang berdampak langsung pada kebutuhan dana ganti rugi iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya