Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat

Kompas.com, 5 November 2026, 21:00 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Jamaluddin, seorang pekebun kelapa sawit swadaya asal Desa Muai, Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara, Kalimatan Timur (Kaltim) menyadari dilema persoalan tata kelola lahan di balik kebakaran yang rutin terjadi setiap kali musim kemarau tiba. 

‎Mayoritas pekebun swadaya hanya mengelola lahan rata-rata seluas 2 hektar untuk menopang kebutuhan harian keluarga.

Bagi pekebun kecil yang tidak memiliki modal besar, angka puluhan juta rupiah untuk pembukaan lahan tanpa bakar sulit dijangkau.  

‎"Kita berada dalam situasi paradoks. Aturan melarang pembakaran lahan, tetapi negara belum hadir memberikan solusi konkret atau fasilitasi alat bagi petani kecil," ujar Jamal di RT RSPO, Selasa (3/11/2026).

‎Namun, pembukaan lahan dengan cara dibakar berisiko menjebloskan pelakunya ke penjara. Membuka lahan dengan cara membakar juga berisiko menyebabkan luas area yang terdampak lebih dari perkiraan awal. 

Baca juga: RSPO Catat 14.500 Hektare Konsesi Sawit Bersertifikat Terdampak Kebakaran

‎Menurut Jamal, membuka lahan dengan cara membakar akan mempercepat pertumbuhan gulma karena tanahnya menjadi mengandung banyak humus. 

‎Di sisi lain, membuka lahan dengan cara dibakar memang membutuhkan biaya lebih murah dibandingkan metode lain, bahkan hanya bermodal bensin belasan ribu rupiah. Ia memperkirakan estimasi biaya pembukaan lahan tanpa bakar di wilayahnya sekitar Rp 7 - 13 juta per hektar hanya untuk pembersihan awal dengan memakai alat berat. Jika dihitung dengan proses perumpukan dan penyusunan kayu agar lahan siap tanam, maka biayanya bisa membengkak hingga Rp 10 - 15 juta per hektar.

‎Sedangkan penebangan manual membutuhkan biaya tenaga kerja sekitar Rp 5 juta per hektar. Namun, metode ini tidak langsung menyelesaikan masalah karena batang kayu yang berserakan menyulitkan proses penanaman, sehingga petani harus menunggu kayu lapuk atau menyemprot gulma terlebih dahulu.

‎Sebagai pekebun swadaya tersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Jamal dilarang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Sebagai Ketua Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, Jamal juga mendorong pekebun swadaya bersertifikat RSPO atau pun yang tidak di sekitar tempat tinggalnya untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.

‎"Termasuk desa-desa sekitar dari scope sertifikasi kami. Karena bagi kami, kebakaran ini akan menjadi biaya yang besar yang harus kami bayar kalau sampai terjadi di di tempat kami," tutur Jamal.

‎Koperasi sudah menyediakan jasa alat berat. Layanan alat berat ini disewakan kepada anggota koperasi dengan sistem pembayaran dicicil dalam jangka waktu satu tahun, sehingga pekebun dapat membuka lahan tanpa bakar tanpa terbebani biaya langsung yang besar.

Baca juga: Menghidupkan Kebun Kakao Masyarakat Adat agar Hutan Tak Beralih Menjadi Sawit

‎"Jadi kami punya alat berat yang dibeli dari penjualan kredit RSPO, salah satunya. Itu yang kami berikan layanan untuk buka lahan atau membuat jalan. Pelayanannya dari koperasi. Tapi aset itu milik anggota. Karena koperasi kan bukan perusahaannya, dimiliki oleh anggota," ucapnya.

‎Koperasi telah melakukan berbagai langkah antisipatif sejak jauh sebelum puncak musim kemarau.

Sejak bulan Agustus 2026 lalu, koperasi secara intensif menggelar sosialisasi dan pelatihan pencegahan karhutla dengan pengaktifan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) untuk kesiapsiagaan tim tanggap darurat di tingkat desa.

Untuk pencegahan, kata dia, koperasi mendorong penggunaan kompor portabel saat pekebun memasak di dalam kebun.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Pemerintah
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
LSM/Figur
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
LSM/Figur
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
LSM/Figur
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
LSM/Figur
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Pemerintah
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Pemerintah
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
LSM/Figur
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Pemerintah
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
LSM/Figur
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Pemerintah
Perhitungan Global Ungkap Dampak Ekonomi Akibat Kenaikan Permukaan Laut
Perhitungan Global Ungkap Dampak Ekonomi Akibat Kenaikan Permukaan Laut
Pemerintah
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Pabrik Coca-Cola di Bekasi Pasang PLTS Atap 1,45 MWp, Tekan Emisi 1500 ton CO2e
Swasta
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Krisis Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan 11,7 Juta Perempuan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau