BrandzView
Konten ini merupakan Kerjasama Kompas.com dengan UOB

Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara

Kompas.com, 12 Mei 2026, 13:51 WIB
Aningtias Jatmika,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di tengah bonus demografi, Indonesia memasuki periode ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar jika dibanding usia nonproduktif. Momentum ini menjadi peluang penting menuju Indonesia Emas 2045.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk mewujudkan cita-cita menjadi bangsa maju pada 2045.

Modal tersebut mencakup kekayaan sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi dengan mayoritas penduduk usia produktif, kohesi sosial-politik yang kuat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, serta spiritualitas bangsa yang menjadi kekuatan menghadapi berbagai krisis.

“Empat modal ini harus diperkuat dengan rasa percaya diri agar Indonesia tidak hanya optimistis, tetapi juga siap menghadapi tantangan global,” ujarnya saat menyampaikan kuliah umum bertajuk “Menyiapkan SDM Unggul Menyongsong Indonesia Emas 2045” di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta (29/9/2025).

Baca juga: Gubernur Lemhannas: Presiden Ajak Para Ketua DPRD Kompak Demi Indonesia Emas 2045

Meski menyimpan peluang, bonus demografi juga dibayangi tantangan. Data Statistik Pendidikan 2024 (BPS) menunjukkan bahwa kualitas dan akses pendidikan di Indonesia masih beragam, baik dari sisi fasilitas, tenaga pengajar, maupun capaian pendidikan antarwilayah. Ketimpangan ini semakin terasa dalam aspek digital.

Riset terbaru yang dipublikasikan di Jurnal Pendidikan Universal pada 2025 menemukan bahwa disparitas akses internet sekolah di Tanah Air cukup lebar. Wilayah Indonesia barat mencatat akses hingga 82,1 persen, sedangkan wilayah timur baru sekitar 45,2 persen. Kesenjangan ini menjadi tantangan serius dalam era pembelajaran berbasis teknologi.

Ketimpangan akses pendidikan dan digital tersebut tak hanya memengaruhi proses belajar di dalam negeri, tetapi juga menentukan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.

Kemampuan mengakses teknologi, informasi, dan pembelajaran berkualitas kini menjadi bekal penting untuk membentuk talenta yang siap menghadapi perubahan.

Adaptif di kancah global

Di tengah perkembangan teknologi dan terbukanya konektivitas antarnegara, pendidikan tidak lagi sekadar mengejar capaian akademik. Generasi muda juga dituntut mampu bekerja lintas budaya, memahami teknologi, serta beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri.

Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Warsito menyoroti berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI), ketidakpastian geopolitik, serta perubahan sosial yang ditandai dengan peningkatan polarisasi dan krisis kepercayaan publik.

Program UOB MDS bertujuan meningkatkann Kemampuan mengakses teknologi, informasi, dan pembelajaran berkualitas. UOB Program UOB MDS bertujuan meningkatkann Kemampuan mengakses teknologi, informasi, dan pembelajaran berkualitas.

Ia menegaskan bahwa perubahan tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

“Saat ini, kita menghadapi disrupsi teknologi yang sangat cepat. Sebagian besar pekerjaan dan keterampilan akan berubah dalam waktu singkat. Dalam situasi seperti ini, kekuatan utama bangsa bukan hanya pada teknologi, melainkan pada kualitas manusia yang mampu beradaptasi dan tetap berpegang pada nilai,” ujar Warsito.

Baca juga: Pastikan Asta Cita Presiden Terkait Penguatan SDM, Wamen PANRB Tinjau Pelaksanaan SKD Sekolah Kedinasan di Surabaya

Pembangunan sumber daya manusia (SDM) pun menjadi salah satu aspek dalam Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Untuk itu, kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pihak swasta, menjadi dinilai menjadi salah satu kunci penting.

Di tengah tantangan tersebut, berbagai pihak mulai mengambil peran dengan menghadirkan inisiatif pendidikan berbasis teknologi dan program beasiswa untuk menjangkau lebih banyak pelajar.

Salah satu contoh kolaborasi datang dari UOB melalui inisiatif regional UOB My Digital Space (MDS). Program ini hadir untuk mempersempit kesenjangan digital sekaligus menghadirkan akses pembelajaran berkualitas bagi generasi muda.

Sejak diluncurkan pada 2020, UOB MDS kini telah hadir di enam negara, termasuk Indonesia. Dalam empat tahun terakhir, program ini telah memberdayakan lebih dari 38.000 pelajar di Asia Tenggara, dan 2026 ditargetkan menjangkau 20.000 siswa lainnya.

Sementara itu, bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-90 UOB pada 2025, UOB Indonesia menggandeng Ruangguru untuk berkolaborasi dalam program UOB My MDS di Tanah Air.

Selama lima tahun, sebanyak 90.000 pelajar Indonesia akan dibekali perangkat serta kurikulum yang mendorong kemampuan berpikir kritis dan komputasional. Dua kemampuan ini kini semakin dibutuhkan di tengah perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI).

Baca juga: Pengelolaan Terukur dan Berkelanjutan, UOB Plaza Raih Sertifikat Bangunan Hijau GBCI

Setiap tahun, UOB My MDS akan menjangkau siswa di 500 sekolah yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Adapun pada 2026, program tersebut sudah menggelar schooloutreach di SDN Bekasi Jaya 1, SMPN 1 Bogor, dan SMAN 1 Depok.

Setiap tahun, UOB MDS akan menjangkau siswa di 500 sekolah yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. UOB Setiap tahun, UOB MDS akan menjangkau siswa di 500 sekolah yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia.

Luke Ariefiandi, Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia mengatakan, bagi UOB, pendidikan adalah fondasi untuk membuka potensi generasi muda dan memajukan bangsa.

“Kami melihat bahwa akses terhadap pendidikan yang layak dan literasi digital adalah kunci agar anak-anak dapat berkembang dan bersaing di era global. Melalui insiatif, seperti My Digital Space, kami ingin memastikan generasi muda dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi ekonomi digital,” ujar Luke dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (8/5/2026).

Buka akses pembelajaran regional

Membangun generasi yang siap menghadapi masa depan tidak cukup hanya lewat penguatan keterampilan digital di dalam negeri.

Baca juga: UOB: Manufaktur Jadi Kunci Tingkatkan Daya Beli Kelas Menengah

Di tengah konektivitas kawasan Asia Tenggara yang semakin erat, generasi muda juga membutuhkan akses terhadap pengalaman belajar lintas negara untuk memperluas perspektif, jejaring, dan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan global.

Adapun program beasiswa menjadi semakin relevan sebagai jembatan untuk memperluas akses pendidikan. Di samping itu, beasiswa turut menjadi wadah memperluas jejaring, wawasan, serta pengalaman lintas budaya yang dibutuhkan di era global.

Komitmen tersebut juga tecermin dalam program UOB FutureGen. Program beasiswa prauniversitas ini memberikan kesempatan kepada 90 siswa dari kawasan regional untuk menempuh pendidikan di Singapura dalam beberapa tahun ke depan.

Para penerima beasiswa akan berkesempatan merasakan pengalaman belajar di luar negeri dan mendapatkan paparan internasional sejak usia dini.

Melalui pengalaman tersebut, mereka dapat memperluas wawasan, mengenal budaya baru, serta membuka akses menuju peluang yang lebih besar. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen UOB dalam membangun masa depan Asia Tenggara melalui fokus pada pendidikan, anak-anak, dan seni.

Baca juga: Melihat dari Dekat Jejak Transformasi dan Kontribusi UOB di Indonesia

Untuk diketahui, beasiswa tersebut akan mendanai pendidikan selama empat tahun di Singapura, mulai dari tingkat Secondary 3 hingga akhir tahun kedua Junior College.

Selain menanggung biaya pendidikan dan biaya hidup, program ini juga memberikan kesempatan kepada penerima beasiswa untuk menjalani program magang di UOB.

Upaya serupa juga hadir melalui SingCham Uplifting Scholarship 2026 yang kembali diluncurkan Singapore Chamber of Commerce (SingCham) Indonesia setelah pertama kali hadir pada 2025.

Pada 2026, program beasiswa tersebut memperluas jangkauan penerima, tidak hanya bagi mahasiswa di Jabodetabek, tetapi juga pelajar dari kampus berbasis di Bandung.

Sebanyak 13 mahasiswa akan menerima dana pendidikan, sedangkan 50 kandidat terpilih akan mendapatkan kesempatan terhubung dengan perusahaan sponsor, salah satunya adalah UOB Indonesia.

Program tersebut tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga membuka akses mahasiswa terhadap jejaring profesional regional melalui mentoring, pelatihan, dan koneksi dengan perusahaan multinasional.

“Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh dukungan finansial, tetapi juga pengalaman pengembangan diri, mulai dari penulisan esai hingga proses wawancara, yang dinilai penting untuk membangun keterampilan dan kepercayaan diri sebelum memasuki dunia kerja regional,” jelas Luke.

Baca juga: Pengelolaan Terukur dan Berkelanjutan, UOB Plaza Raih Sertifikat Bangunan Hijau GBCI

Lebih jauh, inisiatif ini tidak hanya berbicara soal akses, tetapi juga konektivitas. Terlebih, menurut laporan bertajuk ”Labor Migration in Asia: Trends, Skills Certification, and Seasonal Work” yang disusun ILO, ADB, dan OECD (2024), permintaan tenaga kerja terampil meningkat seiring transformasi industri, digitalisasi, dan perubahan demografi.

“Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan juga pembangunan peradaban. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci agar generasi emas 2045 benar-benar lahir dan mampu membawa Indonesia menuju bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” kata Abdul Mu’ti.

Di tengah persaingan kawasan yang semakin terbuka, pendidikan dan konektivitas regional menjadi bekal penting agar bonus demografi Indonesia benar-benar berubah menjadi kekuatan.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang

Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau