Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertanian Regeneratif Kunci Ketahanan Pangan Global

Kompas.com, 28 Oktober 2024, 19:53 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Pertanian berkontribusi terhadap sekitar 23 persen emisi gas rumah kaca secara global.

Namun di sisi lain, pertanian juga menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim. Kekeringan yang lebih sering terjadi, suhu ekstrem, dan banjir yang bisa mengganggu produksi pangan di seluruh rantai nilai.

Ini menjadi pengingat yang jelas tentang urgensi untuk mengatasi persimpangan antara ketahanan pangan dan perubahan iklim.

Baca juga:

Pasalnya, bersamaan dengan krisis iklim, populasi dunia diperkirakan akan meningkat hampir dua miliar orang dalam 30 tahun ke depan. Dari delapan miliar menjadi 9,7 miliar pada tahun 2050.

Dengan pertumbuhan populasi yang cepat ini, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan pada 2050 nanti, kita perlu memproduksi 60 persen lebih banyak makanan untuk memenuhi permintaan global.

Tantangan untuk memberi makan lebih banyak orang sekaligus mengurangi jejak lingkungan pertanian ini membutuhkan solusi yang berani dan inovatif.

Pertanian Regeneratif Sebagai Solusi

Mengutip Edie, Senin (28/10/2024) pertanian regeneratif disebut menjadi solusi atas problem tersebut karena mampu menghadirkan pertanian dengan pendekatan berbasis ekosistem.

Pertanian regeneratif ini menerapkan praktik berbasis alam seperti tanaman penutup tanah (cover cropping) atau integrasi hewan dan petani akan bekerja selaras dengan alam untuk menciptakan sinergi antara produksi pertanian dan iklim.

Praktik ini kemudian bisa dilacak kemajuannya dengan menggunakan kombinasi alat, metrik, dan sistem pelaporan yang menyediakan wawasan lingkungan dan keuangan.

Misalnya kesehatan tanah dan penyerapan karbon dapat dipantau melalui pengujian tanah secara berkala sementara keanekaragaman hayati dilacak melalui indeks keanekaragaman spesies.

Manfaat pertanian regeneratif tidak hanya ramah lingkungan. Bagi petani, praktik ini menghasilkan tanah yang lebih sehat, hasil panen yang lebih banyak, dan mata pencaharian yang lebih stabil.

Dengan berinvestasi pada manfaat jangka panjang, petani dapat meningkatkan ketahanan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan mereka.

Menurut Sustainable Markets Initiative (SMI), tingkat pertumbuhan pertanian regeneratif harus tiga kali lipat untuk mencapai 40 persen lahan pertanian global agar dapat memenuhi kebutuhan planet ini untuk membatasi perubahan iklim hingga 1,5C.

Baca juga:

Membiayai Transisi

Bagian penting dari perjalanan menuju pertanian regeneratif adalah memastikan petani didukung secara finansial selama transisi.

Dukungan finansial ini akan memungkinkan petani untuk mengadopsi metode baru yang layak secara ekonomi dan berkelanjutan secara lingkungan.

Transisi yang sukses menuju pertanian regeneratif juga memerlukan aksi kolektif di seluruh rantai nilai pertanian, mulai dari petani hingga bisnis dan pemerintah.

Pertanian regeneratif ini menawarkan jalur menuju masa depan, di mana kita dapat memenuhi permintaan pangan yang terus meningkat dari populasi yang terus bertambah cepat sambil melindungi planet untuk generasi mendatang.

Namun perlu komitmen dari pelaku bisnis, pemerintah, dan pemangku kepentingan dalam transisi ini supaya hak atas pangan bisa terwujud bagi semua orang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau