Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pendanaan Iklim Negara Rentan Meningkat 490 Miliar Dollar AS pada 2030

Kompas.com, 31 Januari 2025, 18:59 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Penelitian baru telah mengungkapkan bahwa kebutuhan pendanaan iklim bagi negara-negara rentan (V20) terhadap perubahan iklim kemungkinan meningkat hingga 490 miliar dollar AS per tahun pada 2030.

Angka tersebut jauh melampaui 300 miliar dollar AS, jumlah yang dijanjikan COP29 pada tahun 2035 untuk pendanaan iklim.

Kesimpulan ini didapat dari laporan baru yang dirilis oleh Climate Vulnerable Forum (CVF) dan Vulnerable Group of Finance Ministers (V20), bersama dengan Bridgetown Initiative.

Laporan ini menyoroti kebutuhan finansial negara-negara berkembang terdampak oleh perubahan iklim yang kemungkinan akan mengalami dampak yang lebih buruk di tahun-tahun mendatang.

Dikutip dari Edie, Jumat (31/1/2025) penggunaan pendanaan 490 miliar dollar AS tersebut mencakup kebutuhan untuk mitigasi, adaptasi, dan ketahanan 70 negara ekonomi baru dan berkembang.

Baca juga:

Kendati 70 negara tersebut memerlukan 490 miliar dollar AS per tahun untuk pendanaan iklim namun laporan juga mencatat bahwa kebutuhan untuk semua negara sebenarnya dapat mencapai 2,4 triliun dollar AS.

Oleh karena itu, laporan mengungkapkan komitmen menyediakan 300 miliar dollar AS per tahun pada 2035 yang disetujui pada COP29 merupakan hal yang tidak efisien.

Masalah utama lainnya adalah ketidakpastian proporsi pendanaan yang akan dialokasikan sebagai hibah.

Pasalnya negara-negara kaya belum membuat keputusan.

Sementara di sisi lain, negara-negara berkembang khawatir jika pendanaan bukan berupa hibah melainkan pinjaman.

Hal itu justru dapat meningkatkan beban utang bagi negara berpenghasilan rendah dan memperburuk ekonomi, alih-alih memberikan dukungan langsung yang diperlukan untuk membangun ketahanan iklim.

“Mengurangi beban utang nasional dan menciptakan ruang fiskal bagi negara-negara akan sangat penting untuk mencapai tujuan iklim global melalui investasi bersih berskala besar. Solusi yang ditetapkan dalam laporan ini menawarkan prioritas yang dapat ditindaklanjuti yang tersedia saat ini,” ungkap Sekretaris Jenderal CVF Mohamed Nasheed.

Pendorong Pendanaan Iklim

Untuk mengatasi kebutuhan pendanaan yang mendesak ini, laporan tersebut menguraikan sepuluh pendorong utama yang dapat membantu memobilisasi tambahan 210 miliar dollar AS setiap tahunnya pada 2030.

Hal itu memungkinkan negara-negara kelompok V20 membangun ketahanan dan memenuhi kebutuhan investasi terkait iklim.

Strategi ini mencakup penguatan strategi ekonomi yang dipimpin negara yang akan membantu mengoordinasikan investasi, membangun jalur proyek, dan menargetkan pengeluaran adaptasi di semua sektor.

Baca juga:

Rekomendasi lainnya mencakup penskalaan dan standardisasi pasar karbon, penerapan penetapan harga karbon berintegritas tinggi, dan penyaluran kembali 100 miliar dollar AS dari Hak Penarikan Khusus (SDR) IMF negara-negara G20 untuk menyediakan pembiayaan konsesi bagi negara-negara V20.

Laporan tersebut juga menyarankan penggunaan pungutan solidaritas dari sektor-sektor yang sangat berpolusi, seperti pengiriman dan penerbangan, untuk menghasilkan 50-100 miliar dollar AS per tahun untuk pembiayaan iklim, serta penggunaan kembali subsidi bahan bakar fosil untuk mendanai energi bersih dan investasi yang positif bagi alam.

Laporan juga menekankan perlunya reformasi persyaratan kecukupan modal dalam peraturan perbankan untuk menurunkan biaya modal bagi proyek infrastruktur bersih di pasar negara berkembang, memperluas solusi mata uang lokal untuk mengurangi risiko mata uang negara, dan meningkatkan keterjangkauan asuransi bencana negara.

Jika ketahanan iklim ini tidak dibangun, laporan menyebut negara-negara V20 bisa menghadapi potensi kerugian ekonomi tahunan hingga 100 miliar dollar AS akibat dampak iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau