Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Deloitte: Pengusaha Tak Lakukan Cukup Upaya untuk Atasi Perubahan Iklim

Kompas.com, 24 Januari 2025, 20:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Mayoritas karyawan di seluruh dunia percaya bahwa perusahaan mereka tidak melakukan upaya yang cukup untuk mengatasi perubahan iklim dan keberlanjutan.

Hal itu terungkap dalam survei baru yang dirilis oleh firma jasa profesional global Deloitte.

Dalam laporan ini, Deloitte menyurvei lebih dari 20.000 responden di lebih dari 20 negara sebagai bagian dari “ConsumerSignals Surveys” yang dilakukan firma tersebut sejak tahun 2021.

Rangkaian survei itu berfokus pada sikap dan perilaku orang-orang yang terkait dengan perubahan iklim.

Baca juga:

Dikutip dari ESG Today, Jumat (24/1/2025) menurut survei, isu keberlanjutan memengaruhi sikap dan pilihan di tempat kerja.

Sebanyak 63 persen responden di seluruh dunia melaporkan bahwa perusahaan tempat mereka bekerja tidak cukup berupaya mengatasi perubahan iklim dan keberlanjutan.

Jumlah responden tersebut naik dari sekitar 55 persen pada tahun 2021. Namun keinginan responden untuk berganti pekerjaan agar dapat bekerja di perusahaan yang lebih berkelanjutan nampaknya justru telah menurun.

Hanya 21 persen responden yang melaporkan mempertimbangkan untuk berganti pekerjaan agar dapat bekerja di perusahaan yang lebih berkelanjutan. Sementara pada tahun 2021, sebanyak 30 persen responden yang mempertimbangkan untuk berganti pekerjaan.

Hasil lain

Tak hanya menyoroti soal relasi pengusaha dan karyawan, survei ini juga menemukan bahwa isu-isu perubahan iklim dan keberlanjutan tetapi menjadi perhatian konsumen di seluruh dunia karena tampaknya berdampak langsung pada kehidupan mereka.

Sebanyak 56 persen responden melaporkan bahwa mereka telah mengalami setidaknya satu peristiwa cuaca ekstrem terkait iklim hanya dalam enam bulan terakhir.

Tingkat kejadian cuaca ekstrem yang dilaporkan oleh responden telah meningkat di hampir semua negara sejak survei awal tahun 2021, dengan 91 persen melaporkan setidaknya satu kejadian di Meksiko, naik 11 poin persentase dari tahun 2021, 89 persen di Jepang (naik 21 persen), 89 persen di Korea (naik 28 persen) dan 69 persen di AS (naik 9 persen).

Selain itu, 67 persen responden melaporkan bahwa mereka memandang perubahan iklim sebagai keadaan darurat, relatif stabil selama beberapa tahun terakhir setelah sedikit menurun dari 72 persen pada tahun 2021.

Karena responden semakin banyak melaporkan mengalami dampak perubahan iklim secara langsung, survei menemukan bahwa banyak pula yang merencanakan atau mengambil tindakan untuk mengatasi atau beradaptasi dengan masalah tersebut.

Sebanyak 60 persen responden melaporkan mereka telah mengubah aktivitas pribadi dan perilaku pembelian mereka untuk mengatasi perubahan iklim.

Baca juga:

Respons tersebut cukup konsisten di seluruh kelompok usia dengan responden yang lebih muda (usia 18-34) melaporkan perilaku terkait iklim dan perubahan pembelian, sebesar 62 persen.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tren Global Rendah Emisi, Indonesia Bisa Kalah Saing Jika Tak Segera Pensiunkan PLTU
Tren Global Rendah Emisi, Indonesia Bisa Kalah Saing Jika Tak Segera Pensiunkan PLTU
LSM/Figur
JSI Hadirkan Ruang Publik Hijau untuk Kampanye Anti Kekerasan Berbasis Gender
JSI Hadirkan Ruang Publik Hijau untuk Kampanye Anti Kekerasan Berbasis Gender
Swasta
Dampak Panas Ekstrem di Tempat Kerja, Tak Hanya Bikin Produktivitas Turun
Dampak Panas Ekstrem di Tempat Kerja, Tak Hanya Bikin Produktivitas Turun
Pemerintah
BMW Tetapkan Target Iklim Baru untuk 2035
BMW Tetapkan Target Iklim Baru untuk 2035
Pemerintah
Lebih dari Sekadar Musikal, Jemari Hidupkan Harapan Baru bagi Komunitas Tuli pada Hari Disabilitas Internasional
Lebih dari Sekadar Musikal, Jemari Hidupkan Harapan Baru bagi Komunitas Tuli pada Hari Disabilitas Internasional
LSM/Figur
Material Berkelanjutan Bakal Diterapkan di Hunian Bersubsidi
Material Berkelanjutan Bakal Diterapkan di Hunian Bersubsidi
Pemerintah
Banjir Sumatera: Alarm Keras Tata Ruang yang Diabaikan
Banjir Sumatera: Alarm Keras Tata Ruang yang Diabaikan
Pemerintah
Banjir Sumatera, Penyelidikan Hulu DAS Tapanuli Soroti 12 Subyek Hukum
Banjir Sumatera, Penyelidikan Hulu DAS Tapanuli Soroti 12 Subyek Hukum
Pemerintah
Banjir Sumatera, KLH Setop Operasional 3 Perusahaan untuk Sementara
Banjir Sumatera, KLH Setop Operasional 3 Perusahaan untuk Sementara
Pemerintah
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
BUMN
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Pemerintah
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
LSM/Figur
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Pemerintah
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Pemerintah
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau