Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mokh Sobirin
Peneliti Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM)

Peminat isu transisi energi dan teori jaringan

Reklamasi: Permintaan Maaf yang Nyata kepada Alam

Kompas.com, 1 April 2025, 16:34 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Pertambangan telah menjadi fondasi perkembangan peradaban serta kedaulatan ekonomi dan industri suatu negara. Keberadaan sumber daya mineral yang dikelola dengan baik bukan hanya akan memastikan ketahanan industri nasional tetapi juga menentukan posisi suatu negara dalam geopolitik global.

Dari energi hingga teknologi, hampir semua aspek kehidupan modern bergantung pada hasil tambang. Besi, tembaga, dan nikel menopang infrastruktur dan kendaraan listrik. Sedangkan silika dan rare earth elements menjadi bahan utama perangkat komunikasi dan energi terbarukan.

Tanpa pertambangan, rantai pasok global akan terganggu, dan banyak inovasi teknologi yang kita anggap sebagai kemajuan tidak akan pernah terwujud.

Baca juga: Perusahaan Tambang Beri Orangutan Rumah Baru di Lahan Reklamasi

Namun, terdapat dilema yang tidak dapat diabaikan. Aktivitas pertambangan, dengan segala manfaatnya, secara inheren mengubah lanskap dan ekosistem.

Eksploitasi sumber daya bawah tanah menyebabkan perubahan struktur geologi, degradasi vegetasi, serta potensi gangguan terhadap sumber air dan biodiversitas. Di titik inilah industri tambang kerap dikritik sebagai aktor utama perusakan lingkungan. Narasi ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak selalu tepat.

Pertambangan: Antara pemanfaatan dan Tuduhan Perusakan

Dalam praktiknya, pertambangan tidak dapat dihindari, tetapi dampaknya bisa dikendalikan. Prinsip-prinsip Good Mining Practices telah menjadi standar dalam industri, dengan regulasi yang mencakup izin eksplorasi, eksploitasi, hingga pasca-tambang.

Salah satu aspek paling krusial dalam regulasi ini adalah kewajiban reklamasi, yaitu proses pemulihan lingkungan yang bertujuan mengembalikan kondisi lahan bekas tambang agar mendekati keadaan semula atau bahkan lebih baik.

Kewajiban ini diatur dalam UU no 3 tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang dipertegas lagi dalam PP no 78 tahun 2020 tentang Reklamasi dan Pasca Tambang serta Peraturan Menteri ESDM no 26 tahun 2018 tentang Pedoman dan Kaidah Pertambangan yang Baik.

Sayangnya, implementasi reklamasi tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Di banyak wilayah tambang, terutama yang dikelola oleh perusahaan dengan modal terbatas atau tambang ilegal, reklamasi sering kali hanya sebatas formalitas administratif.

Baca juga: Pohon Sagu, Tanaman Alternatif Reklamasi Lahan Bekas Tambang di Bangka

Lubang-lubang bekas galian dibiarkan terbuka, menciptakan risiko kecelakaan dan pencemaran air tanah. Vegetasi yang dijanjikan untuk ditanam kembali hanya sebatas bibit tanpa perawatan.

Tidak sedikit perusahaan yang memanfaatkan celah regulasi untuk menghindari tanggung jawab ini, meninggalkan dampak lingkungan yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya.

Dalam konteks Idul Fitri, manusia diajarkan bahwa meminta maaf bukan sekadar pengakuan atas kesalahan, tetapi juga komitmen untuk memperbaikinya.

Jika industri tambang ingin benar-benar bertanggung jawab, maka reklamasi harus lebih dari sekadar kewajiban hukum. Reklamasi harus menjadi refleksi dari etika bisnis yang menghormati keseimbangan alam.

Beberapa perusahaan telah membuktikan bahwa reklamasi dapat dilakukan secara efektif. PT Freeport Indonesia di Papua, misalnya, telah merehabilitasi lahan pasca-tambang dengan menciptakan ekosistem baru yang mendukung biodiversitas lokal.

Selain itu, mereka mengembangkan perikanan air tawar di area yang sebelumnya terdampak aktivitas tambang, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau