Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Pada periode saat ini di mana masih ada hujan, perlu ditingkatkan upaya pembasahan lahan-lahan gambut untuk menaikkan tinggi muka air dan pengisian embung-embung penampungan air di area yang rentan terbakar.
Sementara itu, di sektor lingkungan dan kesehatan, BMKG mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi penurunan kualitas udara di wilayah perkotaan dan daerah rawan karhutla, serta dampak suhu panas dan kelembapan tinggi yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat.
Ada tujuh provinsi di Indonesia yang rawan terhadap karhutla, pada umumnya wilayahnya mempunyai lahan gambut yang cukup luas.
Daerah yang dimaksud adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Ekosistem gambut adalah unik. Fungsi spon ekosistem hutan gambut yang mampu menyimpan air pada musim hujan, dan tetap basah pada musim kemarau sehingga jarang terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Lahan gambut selalu digenangi air rawa, di Indonesia terbentang seluas 13,43 juta ha, dengan terbesar berturut-turut di Sumatera (43 persen), Kalimantan (32 persen) dan Papua (25 persen).
Hasil penelitian mengemukakan bahwa hutan gambut memiliki potensi sebagai penyerap emisi karbon sangat besar di bumi.
Badan Restorasi Gambut (BRG) mencatat terdapat 2,4 juta ha yang rusak akibat kebakaran hutan, illegal logging, alih fungsi lahan untuk kepentingan lain.
Fungsi spon dari lahan gambut yang rusak telah hilang. Kebakaran yang memproduksi asap pada umumnya berasal dari lahan gambut yang semacam ini.
Karhutla khususnya di lahan gambut ditandai dengan adanya titik-titik api (hot spot) yang menimbulkan kabut asap yang sangat mengganggu mobilitas manusia, transportasi dan kesehatan mahkluk hidup.
Penyebab karhutla bisa karena faktor alam dan kesengajaan manusia membakar semak belukar untuk membersihkan ladang/kebunnya dengan cara cepat.
Kebakaran gambut di Indonesia tahun 1997-1998 telah melepaskan 2,5 miliar ton karbon, sedangkan kebakaran tahun 2002-2003 telah melepaskan antara 200 juta hingga satu miliar ton karbon ke atmosfer.
Perkebunan kelapa sawit di Kalimantan berperan besar dalam proses pengeringan hutan gambut yang menyebabkan karbon terlepas dari lahan gambut.
Karhutla di lahan gambut dapat dicegah secara dini dengan pemantauan intensif melalui satelit atau drone untuk mendeteksi titik api yang baru muncul dan segera dipadamkan agar tidak sampai membesar dan meluas ketempat lain.
Sekat kanal dengan pembasahan yang terus menerus pada musim kemarau akan membantu mengendalikan karhutla.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya