Hal tersebut mengakibatkan hilangnya sekitar 40 persen dari total berat vegetasi dan karbon yang tersimpan di dalamnya.
Temuan penting dari studi ini, yang diterbitkan pada bulan Mei di jurnal Nature Ecology & Evolution, menunjukkan bahwa selama periode hilangnya vegetasi akibat kekeringan, hutan hujan tersebut berubah fungsi.
Awalnya, hutan adalah penyerap karbon yang menyerap lebih banyak CO2 daripada yang dilepaskan), tetapi kemudian berubah menjadi pelepas karbon atau melepaskan lebih banyak CO2 ke atmosfer, sebelum akhirnya mencapai kondisi stabil kembali.
Baca juga: Agroforestri Efektif Jaga Biodiversitas Hutan Tropis, Gambut, Pesisir
Tapi kabar baiknya adalah kekeringan selama puluhan tahun tidak mengubah hutan hujan menjadi sabana atau padang rumput luas seperti yang diprediksi oleh studi berbasis model sebelumnya.
Lebih lanjut, simulasi kekeringan Esecaflor ini memiliki beberapa kesamaan dengan kondisi dua tahun terakhir, ketika sebagian besar hutan hujan Amazon mengalami musim kemarau terparah yang pernah tercatat karena pengaruh El Nino dan dampak perubahan iklim.
Rowland menjelaskan bahwa El Nino tersebut membawa dampak pendek yang intens ke Amazon. Tidak hanya melalui berkurangnya curah hujan tetapi juga lonjakan suhu dan defisit tekanan uap serta seberapa kering udara.
Sebaliknya, eksperimen Esecaflor hanya berfokus pada manipulasi kelembapan tanah untuk mempelajari dampak pergeseran curah hujan jangka panjang.
"Namun dalam kedua kasus tersebut, kita tetap melihat hilangnya kemampuan hutan untuk menyerap karbon di mana karbon dilepaskan kembali ke atmosfer, bersamaan dengan hilangnya tutupan hutan," tambah Rowland.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya