KOMPAS.com - Proyek Esecaflor (Forest Drought Study Project) yang dimulai pada tahun 2000 oleh para ilmuwan dari Brasil dan Inggris menyimulasikan bagaimana jika perubahan iklim menyebabkan penurunan curah hujan di wilayah Hutan Hujan Amazon.
Hasilnya mereka menyimpulkan kekeringan di Hutan Hujan Amazon ini bisa memiliki dampak yang meluas ke seluruh dunia.
Itu terjadi karena Amazon menyimpan cadangan karbon dioksida (CO2) dalam jumlah yang sangat besar.
Sebuah penelitian menyebut Amazon menyimpan emisi karbon global yang setara dengan dua tahun.
Ketika pohon ditebang atau mati karena kekeringan, mereka melepaskan karbon yang tersimpan ke atmosfer, yang mempercepat pemanasan global.
Baca juga: Hutan Bakau Terjepit El Nino-La Nina: Ancaman Ganda yang Mematikan
Untuk menyimulasikan dampak kekeringan di Amazon, peneliti kemudian membangun sebuah struktur di area seluas satu hektar di Hutan Nasional Caxiuana .
Struktur ini menggunakan sekitar 6.000 panel plastik transparan yang berfungsi untuk mengalihkan sekitar separuh dari air hujan agar tidak mencapai lantai hutan.
Tujuannya adalah untuk membuat kondisi buatan di mana hutan mengalami stres akibat kekurangan air, mirip dengan apa yang bisa terjadi jika perubahan iklim mengurangi curah hujan di Amazon secara drastis.
Panel-panel tersebut dipasang satu meter di atas tanah di sisi-sisinya hingga empat meter di atas tanah di bagian tengah. Air disalurkan ke selokan dan disalurkan melalui parit yang digali di sekeliling batas petak.
Di sebelahnya, petak yang identik dibiarkan tidak tersentuh untuk dijadikan kontrol.
Di kedua area tersebut, instrumen dipasang ke pohon, diletakkan di tanah, dan dikubur untuk mengukur kelembapan tanah, suhu udara, pertumbuhan pohon, aliran getah, dan perkembangan akar, di antara data lainnya. Dua menara logam berada di atas setiap petak.
Di setiap menara, radar NASA mengukur seberapa banyak air yang ada di tanaman, yang membantu para peneliti memahami tekanan hutan secara keseluruhan.
Data tersebut dikirim ke Laboratorium Propulsi Jet milik badan antariksa di California, tempat data tersebut diproses.
"Awalnya hutan tampak tahan terhadap kekeringan," kata Lucy Rowland, seorang profesor ekologi di Universitas Exeter, dikutip dari Independent, Jumat (30/5/2025).
"Namun, hal itu mulai berubah sekitar delapan tahun kemudian. Kami melihat penurunan biomassa yang masif serta kematian pohon-pohon terbesar," papar Rowland.
Hal tersebut mengakibatkan hilangnya sekitar 40 persen dari total berat vegetasi dan karbon yang tersimpan di dalamnya.
Temuan penting dari studi ini, yang diterbitkan pada bulan Mei di jurnal Nature Ecology & Evolution, menunjukkan bahwa selama periode hilangnya vegetasi akibat kekeringan, hutan hujan tersebut berubah fungsi.
Awalnya, hutan adalah penyerap karbon yang menyerap lebih banyak CO2 daripada yang dilepaskan), tetapi kemudian berubah menjadi pelepas karbon atau melepaskan lebih banyak CO2 ke atmosfer, sebelum akhirnya mencapai kondisi stabil kembali.
Baca juga: Agroforestri Efektif Jaga Biodiversitas Hutan Tropis, Gambut, Pesisir
Tapi kabar baiknya adalah kekeringan selama puluhan tahun tidak mengubah hutan hujan menjadi sabana atau padang rumput luas seperti yang diprediksi oleh studi berbasis model sebelumnya.
Lebih lanjut, simulasi kekeringan Esecaflor ini memiliki beberapa kesamaan dengan kondisi dua tahun terakhir, ketika sebagian besar hutan hujan Amazon mengalami musim kemarau terparah yang pernah tercatat karena pengaruh El Nino dan dampak perubahan iklim.
Rowland menjelaskan bahwa El Nino tersebut membawa dampak pendek yang intens ke Amazon. Tidak hanya melalui berkurangnya curah hujan tetapi juga lonjakan suhu dan defisit tekanan uap serta seberapa kering udara.
Sebaliknya, eksperimen Esecaflor hanya berfokus pada manipulasi kelembapan tanah untuk mempelajari dampak pergeseran curah hujan jangka panjang.
"Namun dalam kedua kasus tersebut, kita tetap melihat hilangnya kemampuan hutan untuk menyerap karbon di mana karbon dilepaskan kembali ke atmosfer, bersamaan dengan hilangnya tutupan hutan," tambah Rowland.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya