“Kalau ada yang suka bekerja secara tenang dan fokus, kami arahkan untuk menjadi ranger satwa langka. Kalau lebih aktif, mereka bergabung dalam tim patroli kebakaran,” jelasnya.
Namun, membangun kapasitas masyarakat bukan tanpa tantangan. Di banyak daerah, termasuk wilayah adat, praktik membakar lahan masih dianggap wajar.
“Masalahnya, dampaknya merugikan banyak pihak, termasuk masyarakat sendiri,” ujar Rio.
Karena itu, menurutnya, literasi dan pemahaman menjadi kunci agar masyarakat melihat reforestasi bukan hanya sebagai idealisme, tapi juga peluang berkelanjutan kehidupan sosial dan ekonomi bersama.
Baca juga: Walhi: Hutan Bukan Komoditas, Tata Kelolanya Harus Adil secara Ekologis
Ia menambahkan bahwa program ini pada dasarnya bisa direplikasi di kawasan lain, asalkan disesuaikan dengan karakteristik lokal.
“Secara konsep bisa, tapi pendekatan CCB-nya harus menyesuaikan. Jenis satwa langka bisa berbeda, potensi karbonnya juga tidak selalu sama.”
Sebagai contoh, Rio menyebut pendekatan serupa di Bali yang berbasis wisata.
“Saya pernah lihat proyek konservasi mangrove seperti Komukalo, di mana masyarakat dilatih menjadi pemandu wisata di kawasan hutan sabak. Jadi setiap wilayah butuh strategi dan model yang berbeda,” pungkas Rio.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya