KOMPAS.com - Masyarakat di daerah pedesaan selama ini menggantungkan hidupnya pada hutan dan ekosistem alam, tidak hanya untuk makanan dan bahan bakar, tetapi juga untuk mendapatkan penghasilan, melestarikan tradisi, dan membentuk identitas.
Sayangnya, mengelola sumber daya ini kini menghadapi tantangan yang lebih besar.
Bagaimana tidak, lahan terbagi menjadi petak-petak yang lebih kecil, kaum muda pindah ke kota, desa-desa ditinggalkan dengan populasi yang menua, dan lingkungan itu sendiri berada di bawah tekanan.
Pada saat yang sama, pengetahuan tradisional yang dulunya memandu masyarakat tentang cara menggunakan hutan secara bijaksana perlahan menghilang.
Dua studi baru yang diterbitkan pada 26 Agustus 2025, di jurnal Scientific Reports, menunjukkan bagaimana ukuran lahan, layanan bersama, dan kearifan tradisional dapat membantu komunitas dan ekosistem untuk bertahan.
Melansir Down to Earth, Senin (8/9/2025) penelitian ini dilakukan di dua tempat yang sangat berbeda, yaitu pedesaan China dan daerah semi-kering di Iran.
Hasilnya menunjukkan bahwa solusi untuk menyelesaikan masalah ini terletak pada penggabungan manajemen modern dengan kearifan lokal.
Baca juga: Ancaman Perubahan Iklim, Hutan Paling Beragam di Dunia Tak Mampu Adaptasi
Studi di China dipimpin oleh Longjunjiang Huang dari Zhongnan University of Economics and Law, Lishan Li dari Jiangxi Agricultural University, dan Xin Luo dari Beijing Forestry University.
Mereka mensurvei 505 rumah tangga pedesaan di sepuluh kabupaten di Provinsi Jiangxi antara tahun 2017 dan 2018.
Untuk memahami seberapa baik masyarakat mengelola hutan mereka, para peneliti mengukur seperti lahan, uang, dan tenaga kerja, lalu membandingkannya dengan pendapatan dari kehutanan.
Pengukuran itu disebut Forestland Management Efficiency (FME) atau Efisiensi Pengelolaan Lahan Hutan.
Selanjutnya, para peneliti mempelajari bagaimana ukuran lahan hutan memengaruhi efisiensi, dengan menggunakan model ekonomi canggih dan juga melihat faktor-faktor keluarga serta sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga dengan lahan hutan yang lebih luas mengelolanya dengan lebih efisien.
Berbeda dengan keyakinan umum bahwa petak tanah yang lebih besar pada akhirnya akan mengurangi manfaat, studi ini justru menemukan bahwa petak yang lebih besar terus menghasilkan hasil yang lebih baik.
Penyebab utamanya adalah tersedianya layanan kehutanan bersama, seperti penggunaan mesin bersama, bantuan teknis, dan kerja sama tenaga kerja.
Layanan-layanan ini membantu rumah tangga mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja dan tingginya biaya operasional.
Menariknya, faktor-faktor seperti usia atau tingkat pendidikan anggota keluarga menjadi kurang penting. Yang lebih menentukan adalah seberapa besar ketergantungan keluarga pada kehutanan dan seberapa baik mereka terhubung dengan layanan bersama tersebut.
Sementara itu Studi di Iran dilakukan di Kabupaten Bardsir oleh Azam Khosravi Mashizi dari University of Jiroft.
Bersama Francisco Escobedo, mereka meneliti layanan ekosistem seperti ketersediaan air, stabilitas tanah, peternakan lebah, tanaman obat, dan kegiatan budaya.
Untuk hal ini, mereka menggunakan data lapangan ekologis, pemetaan GIS, dan alat pemodelan InVEST. Mereka juga mewawancarai 315 penduduk setempat untuk memahami pengetahuan ekologi tradisional mereka.
Dengan bantuan Structural Equation Modeling, mereka menguji bagaimana pengetahuan tradisional dan kualitas habitat saling berhubungan dengan layanan ekosistem.
Mereka menemukan bahwa tempat-tempat dengan habitat yang lebih sehat dan pengetahuan tradisional yang lebih kuat memberikan layanan yang lebih baik bagi masyarakat.
Baca juga: Melihat Desa Wisata Samtama, Warga Kelola Sampah hingga Tanam Pohon di Gang Sempit
Kualitas habitat mendukung layanan pengaturan seperti stabilitas tanah dan air, sementara pengetahuan tradisional mendukung layanan budaya, peternakan lebah, dan pemanfaatan tanaman obat.
Dampak terbesar terjadi ketika lahan yang sehat dan pengetahuan tradisional digunakan secara bersamaan. Dalam kasus ini, alam tetap terjaga, dan kearifan masyarakat memandu cara penggunaannya. Dengan demikian, baik alam maupun komunitas sama-sama mendapatkan manfaat.
Secara keseluruhan, kedua studi ini menunjukkan bahwa lahan yang lebih besar dan terkonsolidasi dapat dikelola lebih produktif. Namun, hal itu hanya bisa terjadi jika didukung oleh layanan bersama yang dapat mengurangi biaya dan membantu keluarga untuk bekerja sama.
Pengetahuan ekologi tradisional dapat memperkaya ekosistem, tetapi hanya jika lingkungan itu sendiri dilindungi.
Kesimpulannya, ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal harus disatukan keduanya tidak bisa berhasil sendirian.
Baca juga: PBB Desak Negara-negara Segera Serahkan Rencana Iklim Baru Bulan Ini
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya