Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil

Kompas.com, 12 September 2026, 12:36 WIB
Sri Noviyanti

Editor

KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia mendorong pemanfaatan perkembangan aset digital dan teknologi blockchain untuk mendukung pembiayaan yang lebih produktif dan berkelanjutan, termasuk dengan menghubungkan modal dalam ekosistem digital dengan investasi di sektor riil.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan perkembangan aset digital perlu dilihat tidak hanya dari sisi pertumbuhan jumlah pengguna dan aktivitas perdagangan, tetapi juga dari potensi modal yang berada di dalam ekosistem tersebut untuk memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Menurut dia, tantangan berikutnya adalah mencari mekanisme agar dana yang berkembang dalam ekosistem aset digital dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan investasi di dalam negeri.

“Bagaimana caranya dana-dana yang ada di kripto dan Bitcoin ini bisa menjadi bentuk realisasi investasi yang ada dalam negeri kita,” ujar Todotua dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (12/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Coinfest Asia 2026 yang berlangsung di Bali pada 20–21 Agustus 2026. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, regulator, investor, pengembang, dan pelaku industri aset digital dari berbagai negara untuk membahas perkembangan teknologi blockchain serta peluang pemanfaatannya dalam perekonomian.

Upaya mencari sumber pembiayaan baru tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan investasi produktif dalam jangka panjang. Pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 13.032,8 triliun atau sekitar 789,9 miliar dollar AS sepanjang 2025–2029 untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029.

Menghubungkan aset digital dengan investasi produktif

Salah satu mekanisme yang mulai mendapat perhatian adalah tokenisasi, yakni proses merepresentasikan aset atau hak ekonomi dalam bentuk token digital.

Todotua mengatakan mekanisme tersebut dapat membuka akses terhadap sumber pendanaan baru sekaligus memperluas pilihan pembiayaan untuk kegiatan investasi.

“Tokenisasi ini kan sebenarnya adalah suatu cara yang sangat mudah dalam hal merilis pendanaan-pendanaan yang ada untuk menjadi realisasi investasi,” ujar Todotua.

Ia mencontohkan sejumlah sektor seperti vila, hotel, hingga proyek industrialisasi yang berpotensi dikaitkan dengan mekanisme tersebut.

Menurut Todotua, pemanfaatan inovasi digital tidak dimaksudkan untuk menggantikan sumber pembiayaan yang sudah tersedia. Sebaliknya, instrumen tersebut dapat menjadi pelengkap bagi modal ventura, manajemen aset, maupun pinjaman perbankan.

“Sehingga bagi kepentingan kita adalah bagaimana percepatan realisasi investasi yang dapat menjadi inflow ke negara kita,” katanya.

Dalam konteks tersebut, pengembangan ekosistem aset digital diarahkan tidak berhenti pada aktivitas di pasar digital, tetapi juga dapat mendukung perputaran modal ke kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah.

Selain tokenisasi, Todotua menyoroti pentingnya pengembangan regulatory sandbox untuk memastikan inovasi baru dapat berkembang sekaligus tetap berada dalam kerangka regulasi yang sesuai.

Dalam materi Kementerian Investasi dan Hilirisasi yang dipaparkan di Coinfest Asia 2026, peluang pemanfaatan infrastruktur digital juga dikaitkan dengan berbagai aset dan aktivitas ekonomi, termasuk komoditas, arus kas komersial, kekayaan intelektual, produk hilirisasi, dan aset riil lainnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau