Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata

Kompas.com, 14 September 2026, 19:04 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Pada hakikatnya, pariwisata yang memberikan dampak jangka panjang adalah pariwisata yang menaruh masyarakat lokal sebagai subjek utama, sekaligus menjaga kelestarian ruang hidup dan warisan tradisi setempat.

Ketika arus modernisasi kian deras, Kampung Adat Prai Ijing di perbukitan Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, membuktikan identitas budaya dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan bersisian tanpa saling mengorbankan.

Di antara hamparan bentang alam Sumba Barat, Prai Ijing berdiri teguh memperlihatkan jejak tradisi megalitik yang masih lestari. Deretan rumah adat beratap menjulang, keramahan warga, hingga suara alat tenun bukan mesin (ATBM) menyuguhkan pesona kebudayaan autentik.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Prai Ijing diarahkan guna mengoptimalkan potensi lokal secara alami dan berkelanjutan. Setiap kunjungan wisatawan dirancang tidak hanya memberikan pengalaman imersif, melainkan juga memberikan dampak kesejahteraan warga sekitar.

Sejak mendapatkan pendampingan program Bakti BCA pada tahun 2024, kapasitas kelembagaan desa serta kualitas sumber daya manusia di Prai Ijing terus diperkuat.

Hasilnya terlihat dari pertumbuhan pendapatan kampung yang mencatatkan kenaikan hingga 26 persen pada akhir tahun 2025.

Kemandirian Kelompok Sadar Wisata

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menjelaskan fokus utama pendampingan terletak pada penguatan kapasitas mandiri warga. "Setiap desa memiliki kekayaan dan keunikan yang dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh secara berkelanjutan," jelasnya.

Melalui pendampingan dan pengembangan potensi lokal, BCA ingin mendorong masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam mengelola desanya. Harapannya, potensi budaya dan pariwisata Kampung Adat Prai Ijing dapat terus memberikan manfaat sekaligus tetap terjaga untuk generasi mendatang,.

Guna mengelola alur kunjungan secara tertata dan memberikan kenyamanan bagi pelancong, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Prai Ijing bersama pendamping merancang dua opsi paket pengalaman budaya transparan:

Prai Ijing Full Day Tour

Diperuntukkan bagi wisatawan yang ingin menyerap kehidupan kampung adat secara mendalam selama 6 hingga 8 jam. Dengan biaya Rp 430.000 per orang, wisatawan diajak menjelajahi kampung bersama pemandu lokal.

Wisatawan dapat mempelajari struktur arsitektur rumah adat, sejarah desa, mencoba permainan tradisional, menikmati makan siang masakan lokal, mengikuti workshop tenun, hingga berfoto mengenakan pakaian adat Sumba.

Paket ini telah mencakup retribusi, pemandu, makan siang dan kudapan, pelatihan tenun, sewa busana adat, serta cenderamata khas.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Prai Ijing bersama pendamping merancang dua opsi paket pengalaman budaya di Sumba, NTT.
DOK. BCA Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Prai Ijing bersama pendamping merancang dua opsi paket pengalaman budaya di Sumba, NTT.

Prai Ijing Heritage Tour

Paket ini diperuntukkan bagi pelancong dengan waktu kunjungan terbatas (maksimal 3 jam). Dengan kontribusi Rp 250.000 per orang, paket mencakup tur sejarah kampung adat, workshop singkat tenun, menikmati nikmat kudapan lokal, sesi foto busana adat, pendampingan pemandu lokal, serta suvenir.

Di balik lanskapnya yang megah, kebudayaan Prai Ijing tersimpan dalam interaksi sosial sehari-hari. Pengunjung dapat mencoba permainan tradisional Kagorokana Alu, sebuah permainan ketangkasan menggunakan bambu yang memperlihatkan nilai kebersamaan warga.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau