Dalam praktik reklamasi di Pulau Obi, Harita Nickel melibatkan masyarakat setempat sebagai pemasok bibit lokal, penyedia pupuk, hingga tenaga kerja di fasilitas nursery. Dengan demikian, reklamasi tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan bersama dukungan komunitas.
“Perusahaan turut memberdayakan masyarakat di sekitar area operasional dalam penyediaan bibit lokal. Langkah ini sejalan dengan ketentuan peraturan yang mengharuskan 40 persen tanaman yang digunakan dalam kegiatan reklamasi berasal dari spesies lokal,” jelas Tonny.
Program pengembangan masyarakat kelas UMKM dan kelompok tani pun menunjukkan peningkatan partisipasi dan membuka peluang kerja baru.
Selain itu, Harita bersama pemerintah menanam lebih dari 1.000 bibit mangrove di Obi dan Kayoa sebagai bagian dari pemulihan ekosistem pesisir.
Baca juga: Responsible Mining Jadi Kunci Masa Depan Tambang Indonesia
Upaya reklamasi di Harita Nickel juga selaras dengan standar global. Untuk memastikan praktik berjalan transparan, Harita menjadi perusahaan nikel pertama di Indonesia yang secara sukarela mengikuti penilaian Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Audit lapangan oleh SCS Global Services dilakukan pada April 2025 dan akan dipublikasikan terbuka.
Pada 2023, Harita juga telah menyelesaikan Landscape-level Nature Risk Assessment (LNRA) yang mengacu pada kerangka TNFD untuk area 140.000 ha di Pulau Obi.
Hasil kajian digunakan untuk merancang langkah mitigasi lingkungan, termasuk penetapan kawasan konservasi dan perlindungan habitat kritis. Pengelolaan keanekaragaman hayati di Obi juga diatur dalam Biodiversity Management Plan yang mengacu pada IFC Performance Standard 6.
Hari Pohon Sedunia kerap diperingati dengan kegiatan menanam. Akan tetapi, dari Pulau Obi, maknanya menjadi lebih luas. Penanaman pohon hanyalah satu bagian dari upaya panjang mengembalikan kesehatan ekosistem pascatambang.
Reklamasi berbasis sains, memanfaatkan sumber daya lokal, penggunaan spesies lokal, pemantauan rutin hingga keterlibatan masyarakat menjadi rangkaian langkah yang saling terhubung. Pendekatan seperti ini membuat tambang dan alam dapat saling menjaga, bukan saling berlawanan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya