Konsep reklamasi berbasis sains telah diterapkan pada lahan tambang nikel yang dikelola PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Reklamasi lahan bekas tambang di Pulau Obi dilakukan bersamaan dengan kegiatan operasi, tidak menunggu tambang berhenti beroperasi. Untuk mendukung hal ini, Harita Nickel pun telah memiliki nursery atau pusat pembibitan.
“Harita sudah punya nursery yang bagus sehingga sudah bisa mengembangkan jenis-jenis pohon lokal,” kata Irdika.
Loji Central Nursery milik Harita Nickel berdiri sejak 2009 dengan luas 1,8 hektare (ha) dan kapasitas 160.000 bibit per tahun. Seiring perkembangan kegiatan pertambangan di Pulau Obi, fasilitas ini direvitalisasi pada Januari 2025 menjadi nursery modern seluas 2,8 ha dengan kapasitas hingga 400.000 bibit per tahun.
Fasilitas tersebut dirancang menyerupai pusat penelitian skala kecil, dilengkapi rumah indukan, ruang produksi dan perakaran, area naungan, area terbuka, sistem penyiraman otomatis, gudang media tanam, hingga tenaga khusus yang memantau kesehatan bibit setiap hari.
Berbagai jenis tanaman khas Maluku Utara dibudidayakan, mulai dari Cemara Laut, Johar, Sengon, Jabon Merah, Matoa, hingga Nangka. Setiap bibit telah melalui proses seleksi dan perawatan sebelum ditanam di area reklamasi.
Direktur HSE Harita Nickel Tonny Gultom menjelaskan bahwa keberagaman tanaman di nursery tersebut tak hanya untuk memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga memiliki manfaat ekologis yang lebih luas.
“Dengan semakin beragam jenis tanaman, terutama penghasil buah, kami berharap dapat menarik kembali fauna pemakan buah dan meningkatkan keseimbangan ekosistem reklamasi,” ujarnya.
Regulasi juga memperbolehkan maksimal 10 persen tanaman buah dalam proses revegetasi.
Baca juga: Menambang Kepercayaan dengan Audit Ketat IRMA: Strategi ESG Harita Nickel Menjawab Tuntutan Dunia
Bibit berkualitas tidak cukup untuk memastikan keberhasilan reklamasi. Tanah bekas tambang yang padat dan miskin hara menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, perbaikan media tanam menjadi bagian penting dalam pendekatan berbasis sains.
Harita Nickel mengembangkan upaya perbaikan kualitas tanah melalui pemanfaatan slag nikel. Selama ini, sisa hasil pengolahan berbasis pirometalurgi tersebut lebih banyak digunakan untuk konstruksi, seperti batako, paving block, tetrapod, dan beton.
Dalam beberapa tahun terakhir, Harita mulai meneliti potensi slag sebagai pembenah tanah atau media tanam yang merupakan inovasi reklamasi, baik skala laboratorium di rumah kaca maupun aplikasi lapangan di area reklamasi. Riset dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hasil awal menunjukkan slag yang mengandung silika, magnesium, dan mineral lain serta berbentuk butiran pasir sehingga dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aerasi, dan membantu ketersediaan unsur hara.
Irdika menjelaskan, karakter slag yang inert dan berpori memungkinkan material ini membantu mengatasi kondisi tanah bekas tambang yang cenderung padat dan miskin bahan organik.
“Pemanfaatan slag sebagai media tanam ini memang masih baru dan Harita termasuk yang mulai mengembangkannya,” katanya.
Baca juga: Komitmen Keberlanjutan, Harita Nickel Bakal Diaudit IRMA
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya