JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, membantah banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Langkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Kabupaten Tapanuli Selatan karena proyek Food Estate.
Menurut dia, banjir disebabkan alih fungsi lahan daerah aliran sungai (DAS) di tiga wilayah tersebut.
"Posisi DAS yang banjir di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat itu tidak ada yang proyek untuk food estate di DAS yang terjadi banjir di tiga provinsi itu," ungkap Rohmat dalam konferensi pers di kantornga, Jumat (28/11/2025).
Ia membeberkan, areal penggunaan lain atau APL telah mengubah wajah DAS Krueng Geukuh, DAS Krueng Pasee, DAS Krueng Keureto.
Baca juga: Di Bawah Bayang-Bayang Krisis Iklim
APL mencakup pertanian lahan kering, perkebunan, permukiman, hingga pertambangan. Di Sumatera Utara, banjir terjadi di DAS Sibuluan, Kolang, Aek Pandan, Badiri, dan Garoga. Rohmat menyebut 85 persen lahan di DAS Aek Pandan tergolong APL, di DAS Badiri 80 persen, dan di DAS Garoga 77 persen.
Kondisi serupa terjadi di Sumatera Barat, antara lain DAS Anai, Antokan, Banda Gadang, Masang Kanan, Masang Kiri, dan Ulakan Tapis. Penggunaan lahan di enam DAS ini didominasi APL dengan proporsi 45 sampai 98 persen.
"Alih fungsi lahan ini juga harus menjadi tanggung jawab bersama, di kewenangan pemerintah daerah bagaimana areal penggunaan lain, misalkan pertanian tidak berubah menjadi pemukiman, kawasan industri ataupun vila-vila," papar dia.
Banjir melanda tiga provinsi pada 25-27 November 2025 dipicu curah hujan yang mencapai lebih dari 150 mm per hari, sehingga memicu peningkatan debit air sungai.
Kondisi itu diperparah perubahan tutupan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan hutan, hingga meningkatkan laju sedimentasi dan menurunkan kapasitas sungai dalam menyalurkan aliran permukaan.
Rohmat menyampaikan, Kemenhut bakal merehabilitasi hutan di DAS yang dibabat serta pelaksanaan revegetasi di sempadan sungai dan lereng curam untuk meningkatkan stabilitas lahan. Lainnya, mengawasi perubahan tata guna lahan guna memastikan pemanfaatan ruang tetap sesuai fungsi ekologisnya.
"Kami akan membangun semacam sistem aplikasi untuk pemantauan terhadap mitigasi banjir, kami harapkan itu nanti menjadi early warning. Nanti bisa diakses oleh publik," ucap Rohmat.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir mengakibatkan 164 jiwa meninggal dunia, 79 hilang dan 12 luka-luka akibat bencana, per Jumat kemarin.
Di Tapanuli Selatan, jalur nasional Sidempuan-Sibolga terputus di satu titik, sementara jalur Sipirok-Medan terputus di dua titik.
Di Mandailing Natal beberapa ruas jalan seperti Singkuang-Tabuyung dan Bulu Soma-Sopotinjak terputus akibat banjir dan longsor. Upaya pembukaan akses dilakukan melalui pengerahan alat berat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya